Sepotong Taman Eden
Oleh: Layla Nusayba
Aku mencintai kakakku dan kurasa ia pun tahu itu. Sejak Ibu tiada, ia satu-satunya orang yang memasak di dapur, menyalakan lampu-lampu menjelang petang, dan mengajakku bicara di kamarku.
Ia cantik, dengan mata teduh seperti milik Ibu dan rambut lurus sebahu. Namun, ia kerap mengigau ketika tengah malam, bermimpi buruk tentang truk yang menggilas Ibu, dan menangis kencang ketika pagi hari lantaran mimpi itu tertinggal di kepalanya. Begitulah yang ia katakan padaku. Dan karena itulah aku memutuskan untuk melindunginya. Sudah kukatakan, bukan, bahwa aku mencintainya.
Kakak punya bakat menggambar yang luar biasa. Jemarinya seolah-olah mampu menghidupkan apa saja di atas kertas. Aku sering teringat sore-sore di masa kecil kami. Saat aku merebut boneka kesayangannya, ia hanya diam sambil menatapku. Kami juga pernah duduk berdampingan di lantai teras, dan ia menuntun jemariku yang kaku untuk membentuk sebuah lingkaran yang sempurna.
“Begini caranya, Dek,” bisiknya lembut sambil menggenggam jemariku. Wangi rambutnya membuatku selalu betah berada di dekatnya. Dulu, ia adalah duniaku. Tempat segalanya terasa aman. Jadi, kurasa adil jika sekarang, saat dunianya mulai runtuh sedikit demi sedikit, aku menjadi dunianya.
Namun, belakangan ini ia mulai bicara yang aneh-aneh. Ia ingin menjual tanah warisan bagiannya untuk mengembangkan kemampuan menggambarnya di kota. Ia ingin berbicara dengan banyak orang, bahkan bermimpi memiliki seorang kekasih. Aku sering membacakan berita-berita tentang kasus penculikan dan pemerkosaan di koran pagi agar ia paham betapa berbahayanya keinginannya itu. Aku melakukannya agar ia tetap di sini, di bawah penjagaanku.
Minggu lalu, paman kami yang tinggal di seberang pulau datang. Lelaki paruh baya itu bicara terlalu banyak. Ia berjanji akan merawat Kakak agar tidak lagi menyusahkanku. Aku melihat mata Kakak berbinar saat mendengar janji itu, dan seketika dadaku terasa sesak. Itu bukan binar kebahagiaan. Itu binar kesesatan yang harus segera dipadamkan.
“Kakak tidak bisa pergi,” bisikku setelah Paman pulang. “Lihat kakimu, Kak. Berjalan di rumah ini saja kau sering tersandung. Di kota sana, siapa yang akan selalu memapahmu?”
Aku harus selalu mengingatkan tentang kakinya yang pincang akibat kecelakaan saat remaja. Kecelakaan yang, jika tak salah ingat, terjadi karena ia mengejarku yang berlari ke jalan raya. Itu adalah bukti betapa ia tidak bisa menjaga dirinya sendiri tanpa kehadiranku. Meskipun dokter pernah bilang kakinya masih bisa pulih dengan terapi intensif, aku selalu mengatakan padanya bahwa biaya pengobatan itu mustahil dan hanya akan menguras habis sisa warisan kami. Sungguh, aku tidak berbohong. Aku hanya menyelamatkan ekonomi kami agar kami bisa terus bersama di rumah ini.
Lalu, surat-surat dari Paman mulai berdatangan. Aku selalu yang lebih dulu mengambilnya di kotak pos. Aku tidak membakarnya, itu terlalu jahat. Aku membaca setiap barisnya dengan kening berkerut, lalu menyimpannya rapi di bawah kasurku. Aku menulis balasan atas nama Kakak, mengatakan bahwa ia sudah tidak tertarik dengan rencana Paman dan lebih senang tinggal di sini bersamaku.
Semalam, Kakak menangis di kamarnya hingga bahunya terguncang. Ia bertanya mengapa Paman tak kunjung memberi kabar. Aku duduk di sampingnya, mengusap punggungnya perlahan.
“Kalau semua orang pergi, biar aku yang tetap bersamamu, Kak,” kataku.
Aku jadi teringat saat Kakak pernah memberontak dan bersikeras pergi dari rumah karena merasa terlalu kukekang. Malam itu aku menangis sejadi-jadinya, lalu keesokan harinya pura-pura sakit. Dan seperti yang kuduga, Kakak mengurungkan niatnya. Ia bahkan berjanji tak akan melakukan hal itu lagi.
Aku mengembuskan napas, kembali menatap sosok di depanku. Rasa kasihan tiba-tiba menyelinap di dada. Aku mengambilkan segelas air minum untuk menenangkannya. Aku memastikan air itu dingin dan segar. Setelah meminumnya, Kakak tertidur sangat lelap. Mungkin pengaruh kelelahan karena menangis, atau mungkin karena sesuatu yang sengaja kucampurkan agar ia tidak terus-menerus tersiksa oleh kesedihannya.
Begitu ia terlelap, aku mengunci pintu kamarnya dari luar. Aku bahkan memasang palang kayu tambahan agar ia tidak mengigau dan jatuh lagi saat berjalan sendirian di tengah malam. Semua ini kulakukan demi kebaikannya.
Pagi harinya, aku terbangun dengan perasaan segar. Aku membuka palang kayu dengan sangat hati-hati, memutar kunci, lalu mendorong pintu kamar Kakak.
Ia sudah bangun, duduk di tepi tempat tidur dengan tubuh menguarkan bau sabun. Pintu kamar mandi masih terbuka. Bau karbol samar-samar tercium. Sengaja kubuat kamar mandi khusus di kamarnya agar ia lebih nyaman. Aku mendekat, lalu meremas bahunya pelan.
“Apa menurutmu Paman sibuk jadi belum sempat menulis surat?” tanyanya. “Apa lebih baik aku yang menyusulnya?”
Aku tidak marah dengan pertanyaannya. Aku justru merasa makin kasihan melihat betapa naifnya ia. Orang-orang di luar sana sangat pandai memanfaatkan, dan tugas adiknya ini adalah menyembuhkan harapan-harapan kosongnya.
Aku menghela napas, lalu merogoh kantong celana dan mengeluarkan surat terakhir dari Paman yang kulipat dua. Aku menulisnya ulang semirip mungkin dengan tulisan Paman, tentunya setelah memilah kata-kata agar tidak menyakiti hati Kakak.
“Aku terpaksa membuka surat dari Paman yang tiba beberapa hari lalu, Kak. Dan kau tahu apa yang ditulisnya? Ia bilang, kau harus menjual tanah warisanmu untuk biaya hidup di sana.”
Kakak tertegun. Matanya membelalak menatap surat yang aku taruh di pangkuannya. “Tapi, Paman bilang—”
“Paman berbohong, Kak.” Aku memotong kalimatnya, berlutut di hadapannya, lalu meremas kedua lututnya yang gemetar. Aku menjelaskan sesingkat mungkin tentang alasanku menyembunyikan surat itu: tak ingin hatinya hancur. Apa yang kukatakan padanya bukanlah sebuah kebohongan. Inti surat terakhir Paman memang meminta Kakak menjual sedikit warisannya untuk biaya pengobatan kakinya, sebab Paman tidak mampu membiayai seluruh pengobatan.
Bahu Kakak seketika lunglai. Air matanya tumpah lagi, kali ini mungkin karena rasa kecewa yang luar biasa.
Aku bangkit, memeluknya erat. Wangi rambutnya yang memenuhi hidungku membuatku tersenyum lebar di balik pundaknya.
“Aku lapar, Kak. Buatkan aku telur dadar,” bisikku.
Kakak mengurai pelukan dan mengangguk patuh. Dengan kaki yang pincang, ia berjalan menuju dapur, menyalakan kompor, dan mulai memasak untukku. Mulai hari ini, ia tidak akan pernah berniat pergi lagi. Ia akan tetap di sini, memasak, menyalakan lampu, menggambar, dan menemaniku.
Lihatlah aku, betapa aku sangat mencintai kakakku. Tidak ada adik di dunia ini yang lebih berbakti daripada aku, bukan? Kami adalah dua orang yang bahagia di dalam satu rumah yang terkunci rapat ini.
Solo, 25 Mei 2026
Layla, perempuan Jawa yang suka jajan dan sedang belajar menulis dengan baik.
