Tikus-Tikus di Dalam Rumah

Tikus-Tikus di Dalam Rumah

Tikus-Tikus di Dalam Rumah

Oleh: Ann

Suatu malam, ketika aku dan orang tuaku tengah duduk santai di ruang keluarga, terdengar derap langkah yang cepat diiringi suara mencicit dari atas plafon. Ayah yang sibuk dengan ponselnya, dan Ibu yang tengah menyambung ulang kain pada pakaian yang koyak, sama-sama mendongak, menyaksikan papan tripleks bergerak-gerak. Begitu pula denganku.

“Bukankah itu suara tikus?” tanyaku.

“Sejak kapan ia ada di sana?” saut Ibu sembari berkacak pinggang. Pandangannya belum lepas dari plafon. Helaan napasnya terdengar pasrah.

“Belikan racun, Yah, sebelum ia beranak-pinak!” kata Ibu lagi.

Ayah yang telah kembali sibuk dengan ponselnya hanya berdeham. Ia tampaknya enggan mengalihkan wajahnya dari ponsel sedikit pun. Padahal Ibu sedang menatap Ayah dengan saksama, seolah-olah sedang menunggu tanggapan darinya.

“Yah! Belikan racun tikus!” Ibu menepuk paha Ayah hingga Ayah tersentak.

Ayah berdeham lagi sambil tetap menggenggam ponselnya. Namun, wajahnya kini terarah pada Ibu. “Beli racun? Lalu, setelah tikusnya mati, siapa yang akan mengevakuasi jasadnya? Bakalan ribet, Bu. Sudah, biarkan saja. Tikus juga makhluk hidup. Lagi pula, ia mungkin hanya sekadar lewat.”

Aku membelalak, mulutku terbuka, membentuk huruf ‘o’. Begitu pula dengan Ibu. Sepertinya kami memiliki perasaan yang sama, tidak percaya dengan apa yang meluncur dari mulut Ayah. Kami pun akhirnya saling pandang, lalu sama-sama menggeleng sambil tersenyum miring.

***

Malam di mana awal kehidupan tikus di atas plafon terdeteksi, telah jauh berlalu. Tikus yang mulanya hanya satu, telah membawa kawanannya. Aku bisa tahu dari derap langkah yang makin ramai di atas plafon. Setiap malam, langkah kaki mungil mereka terkadang berubah menjadi suara gedebuk yang mengejutkan sekaligus menjengkelkan. Aku pikir, mereka mungkin sedang kawin. Benar saja, populasi tikus-tikus itu seketika meningkat. Buktinya, kudapati beberapa dari mereka merayap turun melewati celah-celah plafon sambil mencicit.

Akhir-akhir ini, aku sering mendengar suara mencicit sekaligus suara kayu yang dicakar dari balik lemari yang berada di dalam kamarku. Aku yakin tikus-tikus sialan itu ingin menjadikan lemariku sebagai sarang baru. Lalu mereka akan kawin dan melahirkan di dalam lemariku. Kemudian lahirlah anak-anak tikus. Tidak menutup kemungkinan, kelak akan kutemukan bayi-bayi tikus yang masih merah, menggeliat di atas pakaianku yang telah dilipat oleh Ibu. Ah, membayangkannya saja membuat asam lambungku naik. Tidak akan kubiarkan! Namun, setiap aku hendak menangkap basah mereka, mereka selalu sukses melarikan diri dariku. Kecepatan lari mereka berhasil melewati batas kesabaranku. Aku harus segera menghadap Ayah, meminta izin untuk membeli racun tikus.

“Kamu tahu tidak, setelah tikus menelan racun, ia tidak akan langsung mati. Efeknya terjadi beberapa jam kemudian. Kamu yakin, ia akan mati di tempat yang kamu inginkan? Kalau tidak, bagaimana? Yang ada, kamu akan menemukannya setelah ia menjadi bangkai yang beraroma tajam. Saat itu terjadi, jasad tikus telah dilahap belatung. Kamu sanggup membersihkannya?” ucap Ayah panjang lebar.

“Memangnya Ayah tidak mau?”

Bukannya menjawab, Ayah malah tertawa. Setelah puas, ia baru berhenti untuk mengambil napas. Kemudian ia berkata, “Andai nenekmu masih hidup. Sayang sekali, ia tidak sempat mengajari ibumu banyak hal. Oh, iya, omong-omong makan malam sudah siap belum?”

Tanpa banyak bicara, kuambilkan sepiring nasi goreng yang telah disiapkan Ibu di meja makan. Kemudian aku memberikannya pada Ayah yang sedang mengusap-usap layar ponsel sambil mengulum senyum. Ia pun lantas menyambut makan malamnya dengan wajah semringah.

“Makanlah yang banyak! Besok-besok mungkin Ayah harus berebut makanan dengan tikus-tikus itu.” Aku berlalu sebelum Ayah mulai menceramahiku.

“Hei, Nak ….”

Aku seketika menutup kupingku sambil terus melangkah, mencari Ibu. Membicarakan tikus-tikus sialan itu bersama Ibu, mungkin akan membuahkan solusi.

Ibu sedang berjongkok di dekat mesin cuci. Sebelum aku menyapa, ia terlebih dahulu menoleh, lalu menengadah. Ketika ia melihatku, bibirnya lantas melengkung. Namun, senyumnya cepat sekali menguap. Wajahnya yang sudah dihiasi garis-garis halus, tampak lelah. Kemudian ia menghela napas sambil mengubah posisinya menjadi duduk bersila. Lalu ia memperlihatkan kabel yang tidak lagi saling terhubung. Bahkan serabut tembaganya terurai. Sontak aku membekap mulutku, menahan keterkejutan yang terlepas dari pita suara. Dasar tikus sialan!

Aku lantas duduk bersila di samping Ibu. “Bagaimana, mau kubelikan racun tikus tidak?”

“Naaak, tikus juga makhluk hidup. Biarkanlah mereka hidup berdampingan dengan kita,” ucap Ibu lemah.

Aku terkesiap mendengar Ibu berkata demikian. Apa mungkin Ayah telah berhasil memengaruhi Ibu? Namun, tidak perlu waktu lama, wajah Ibu berubah. Matanya menyipit, membentuk garis tawa di ujung mata. Mulutnya terbuka, memperlihatkan gigi-giginya yang masih lengkap. Lalu Ibu terkikik. Suara tawanya terdengar seperti orang yang sesak napas. Aku lantas tertular.

(*)

Lampung, 25 Juni 2026

 

Ann Soul, seorang ibu yang hobi membaca dan menulis. Dulu dia INFJ, sekarang INFP.