Cermin Keruh Warok Dayat
Oleh: Layla Nusayba
Aku menatap lembar demi lembar kertas yang telah menguning dan rapuh itu dengan tangan gemetar. Di dalam kamar yang mendadak terasa pengap dan menyempit, dadaku terasa dihantam godam tak kasat mata. Bau apak, debu, dan sarang laba-laba yang menempel pada sampul buku catatan tua berbahan kulit lembu yang sobek ini seolah membawa serta seluruh busuk masa lalu keluarga kami langsung ke hadapanku.
Di kamar kusam dengan tembok penuh retakan inilah, aku harus menelan kenyataan pahit yang memuakkan. Kakek buyutku adalah seorang warok. Orang kampung mengenalnya sebagai Warok Dayat. Lelaki kekar bermata setajam elang, yang alih-alih diingat karena kesaktiannya mengusir bala atau menghidupkan barongan reog, justru dikenang karena kegilaannya memelihara gemblak.
Aku menghela napas berat, merasakan perih yang menjalar di dalam dada. Menatap pantulan diriku di cermin kamar yang mulai buram, sebuah pertanyaan besar merongrong isi kepalaku. Apakah aku, seorang lelaki yang membawa namanya, ikut serta menanggung dosa terkutuk yang bukan milikku?
Sejak remaja, aku dipaksa merayap dalam labirin kebingungan yang pekat. Aku tidak pernah bisa merasakan getaran apa pun pada perempuan. Secantik apa pun gadis-gadis kampung yang mencoba mendekat, mereka tak lebih dari sekadar benda mati yang gagal membangkitkan gairah. Aku berbeda. Aku cacat di mata adat budaya. Namun, saat membaca sejarah para warok yang menjadikan tubuh bocah lelaki sebagai pemuas hasrat kejantanan berkedok kesaktian, perutku mual. Aku muak setengah mati pada nasib dan nasabku sendiri. Luka ini seolah-olah menjadi warisan turun-temurun yang dikutuk dalam darah kami.
Ingatanku mendadak terlempar pada malam ketika usiaku menginjak dua belas tahun. Malam itu, rumah tua peninggalan nenek di ujung kampung ini berubah menjadi neraka yang bising. Bapak, lelaki yang seharusnya menjadi panutan hidupku, berdiri di tengah ruang tamu bersama seorang pemuda asing. Ibu meraung-raung di sudut ruangan, mencengkeram dadanya sendiri, menangis histeris sampai suaranya serak.
“Kau tidak punya malu, Mas! Kau bawa pelacur lelakimu ini ke rumah, di depan anakmu sendiri!” jerit Ibu malam itu. Air matanya mengalir, merusak bedak yang menempel di wajahnya.
Namun, Bapak sama sekali tidak peduli. Wajahnya sedingin es, seolah-olah tak ada lagi belas kasih yang tersisa di dalam dirinya. Ia menatap Ibu dengan pandangan merendahkan, lalu menggandeng erat tangan pemuda itu, melangkah keluar pintu tanpa sekali pun menoleh ke arahku yang gemetar bersembunyi di balik tirai.
Sejak malam itu, Bapak tak pernah kembali. Sementara itu, Ibu menjadi perempuan ringkih yang separuh jiwanya mati. Ia menghabiskan sisa hidupnya dengan mengutuk garis keturunan Bapak, mengutuk takdir, dan menatapku dengan tatapan ngeri, seolah-olah ia melihat bayangan lelaki yang telah menghancurkan hidupnya tumbuh di dalam tubuhku sendiri.
Kini, setelah Ibu tiada dan aku menemukan buku catatan ini di dalam lemari jati tua yang terkunci di gudang, aku sadar bahwa aib yang dibawa Bapak bukanlah sebuah kebetulan, melainkan kutukan darah yang mengalir dari Warok Dayat.
Malam makin larut. Angin dingin berembus dari jendela yang terbuka lebar, tetapi gerah yang menempel di kulitku tak juga mereda. Bangku kayu serasa mencengkeram tubuhku, memaksaku terus membaca lembar demi lembar pengakuan Woyo, bocah yang pernah menjadi korban kakek buyutku.
Usia Woyo baru tiga belas tahun ketika badai kemiskinan menyeretnya ke rumah besar Warok Dayat. Sebagai anak dari seorang bapak pemabuk dan ibu yang mati mengenaskan karena tekanan batin, Woyo mengira kepindahannya ke rumah itu bisa menyelamatkan hidupnya. Namun, harapannya pupus pada malam pertama.
“Mulai malam ini kau akan jadi gemblakku,” kata Warok Dayat dengan suara berat yang tenang.
Woyo membeku. Jemarinya saling meremas di atas paha. Di bawah temaram lampu teplok, tubuh kekar Warok Dayat mendekat, membawa bau pekat tembakau dan minyak mistik yang menyengat hidung. Ketika tangan kasar dan besar itu memeluk tubuh kecilnya, Woyo hampir berteriak, meronta, dan ingin lari sekencang-kencangnya kembali ke lereng gunung. Namun, bayangan tumpukan uang yang telah diterima bapaknya dari warok itu mengunci seluruh ototnya seketika. Ia hanya bisa menangis tanpa suara, membiarkan harga dirinya direnggut dalam keremangan malam.
“Tenanglah! Hidupmu akan kujamin, Cah Bagus,” bisik Warok Dayat keesokan paginya, sembari mengusap rambutnya dengan kelembutan yang membuatnya mual. Bagi Woyo, kata-kata itu bukan sebuah berkah, melainkan penegasan bahwa dirinya tak lebih dari barang yang telah dibeli.
Sejak hari itu, kehidupan Woyo berputar di antara dua dunia yang bertolak belakang. Di siang hari, ia harus memakai pakaian mewah, mengurus segala keperluan sang warok, dan berjalan dengan kepala tegak di samping barongan reog dalam setiap pertunjukan. Orang-orang kampung memandangnya dengan segan, sebab menjadi gemblak seorang warok besar dianggap sebagai tanda kejayaan dan posisi pilihan. Namun, di balik punggungnya, bisik-bisik kotor dan tawa sinis tak pernah berhenti mengiringi langkahnya. Woyo hidup di antara pujian dan hinaan.
Namun, waktu adalah racun yang perlahan melumpuhkan kewarasan. Tahun-tahun berlalu, dan tanpa disadari, posisi sebagai orang kesayangan Warok Dayat mulai mengubah batin Woyo. Rasa terjajah yang semula menyiksanya perlahan-lahan berubah menjadi kenyamanan yang posesif. Ia terbiasa dengan kemewahan, terbiasa dengan kuasa kecil yang ia miliki atas pelayan-pelayan di rumah itu, dan yang paling berbahaya, ia mulai haus akan perhatian dari Warok Dayat. Woyo tidak lagi melihat dirinya sebagai korban. Ia merasa dirinya adalah satu-satunya pemilik tahta di hati sang warok.
Hingga suatu hari, badai itu datang. Warok Dayat kalah pamor dalam sebuah tarung kesaktian dan gengsi melawan warok saingan dari desa sebelah. Sang warok pulang ke rumah dalam keadaan mabuk berat, menyumpah-nyumpah dengan mata merah menyala.
“Aku butuh darah baru! Darahmu sudah hambar, Woyo! Besok aku akan mengambil dua gemblak baru dari desa seberang untuk mengembalikan kekuatanku!” raung Warok Dayat sambil membanting cangkir ke lantai.
Mendengar hal itu, ada sesuatu yang patah lalu terbakar di dada Woyo. Rasa posesifnya meledak seketika. Ia melangkah maju, menghalangi jalan Warok Dayat dengan wajah tegang dan tatapan menantang.
“Tidak, Bapak! Tidak boleh ada yang lain di rumah ini! Hanya aku! Kau tidak bisa membuangku begitu saja setelah apa yang kau lakukan padaku!” teriak Woyo, lancang.
Telapak tangan Warok Dayat mendarat di pipi Woyo, disusul tendangan telak di perutnya. Woyo tersungkur di lantai yang dingin, memegangi perutnya yang kram hebat. Ia muntah, cairan lambung yang pahit keluar dari mulutnya bercampur darah. Napasnya tersengal-sengal di sela batuknya yang menyakitkan.
Malam itu, saat ia meringkuk sendirian di pojok kamar sambil mengusap darah di bibirnya. Woyo tidak lagi merasakan kesedihan seorang korban. Ia merasakan kehancuran seorang kekasih yang dikhianati. Rasa sakit di perut dan mulutnya kalah jauh dengan rasa perih di dada.
Keesokan paginya, Warok Dayat datang menemuinya dengan wajah datar, lalu melemparkan sebuah cincin ke atas kasur.
“Kau sudah dewasa, Woyo. Tubuhmu sudah tidak bisa memberiku kekuatan lagi. Aku sudah mendapatkan penggantimu. Sekarang kau bebas. Pergilah dari rumahku,” kata Warok Dayat.
Woyo menatap cincin itu, lalu menatap wajah Warok Dayat yang tanpa belas kasihan. Harga dirinya yang terluka mendorong keberaniannya sampai ke ubun-ubun.
“Bebas kau bilang? Setelah kau hancurkan hidupku, kau mau membuangku seperti anjing kurap?” raung Woyo. Ia menerjang Warok Dayat, mencoba mencakar wajah lelaki yang dulu dipujanya.
Pertikaian fisik tak terhindarkan di dalam kamar tidur itu. Warok Dayat segera mengambil alih kendali. Tersulut amarah karena merasa wibawanya ditentang, ia menyambar pisau kecil pemotong tembakau di atas meja dan menghunjamkannya ke arah Woyo.
Mata pisau itu merobek kulit di bagian pinggang Woyo. Bocah yang kini telah beranjak dewasa itu terhenyak, memegangi pinggangnya yang mengucurkan darah hangat. Ia bersandar pada tiang ranjang, menatap Warok Dayat dengan pandangan yang menyala-nyala oleh kebencian sekaligus keputusasaan yang mendalam.
“Lihat aku, Dayat! Lihat apa yang sudah kau perbuat!” desis Woyo. Ia menahan perih yang membakar pinggang dan jiwanya. “Kau sebut ini pembebasan? Ke mana aku harus pergi dengan tubuh yang sudah cacat dan harga diri yang sudah kau injak-injak? Aku tidak punya siapa-siapa lagi! Kau telah membunuh Woyo yang dulu, dan sekarang kau mengusir bangkainya!”
Warok Dayat bergeming. Ia mengisyaratkan dua orang pengawal untuk menyeret tubuh Woyo yang bersimbah darah keluar dari gerbang rumah besar itu, lalu mencampakkannya di atas tanah berdebu seperti sampah tak berguna.
Halaman terakhir buku itu menyisakan bercak darah kering yang telah menghitam. Di lembar ini juga Woyo menuliskan alasan ia nekat menyusun catatan jahanam ini.
“Aku menuliskan semua ini bukan agar dunia mengasihaniku. Aku menulisnya di sebuah gubuk reyot di tengah hutan, menahan perih luka di pinggangku. Malam ini, jika tenagaku masih cukup dan maut belum lebih dulu menemukanku, aku akan kembali ke rumah besar terkutuk itu. Aku akan melompati pagar belakang, menghindari anjing-anjing penjaga, lalu menyembunyikan buku ini di bagian terdalam lemari jati milik Dayat.
Dayat mungkin mengira bisa membersihkan tangannya setelah membuangku. Tapi ia salah. Melalui lembaran kertas ini, aku meninggalkan bagian diriku yang paling hitam di rumahnya. Dan untuk siapa pun yang lahir dari darahnya, atau siapa pun yang membaca lembaran-lembaran penuh aib ini, dengarkan sumpahku!
Kalian yang menikmati kemewahannya, kalian yang berjalan dengan angkuh membawa nama besarnya, ketahuilah bahwa darah yang mengalir di tubuhmu adalah nanah dari luka-lukaku. Kalian tidak akan pernah menemukan kedamaian dalam percintaan. Akan selalu merasa asing di dalam tubuh sendiri, ditarik oleh hasrat yang kalian sendiri benci, dan dijauhi oleh ketenangan. Keturunan Dayat akan mati dalam kesendirian, sama seperti aku yang mungkin mati perlahan di tempat ini, membusuk bersama kutukan yang akan terus memburumu!”
Aku menutup buku catatan tua itu dengan sentakan keras. Napas dan jantungku berpacu liar. Kata-kata terakhir Woyo terasa seperti cakar-cakar gaib yang keluar dari kertas, merayap naik ke dadaku, dan mencengkeram jantungku erat-erat.
Kutukan itu, sumpah serapah itu. Kini aku tahu mengapa Bapak pergi menemui kehancurannya sendiri bersama lelaki lain. Dan kini aku tahu mengapa aku berdiri di kamar ini, menatap cermin yang keruh, dengan kejantanan yang mati untuk perempuan dan jiwa yang luluh lantak oleh ketakutan. Sumpah Woyo tidak pernah mati. Ia sungguh telah melompati sekat zaman, merayap dan meracuni darah keluarga kami.
Solo, 25 Juni 2026
Layla, perempuan Jawa yang suka jajan dan sedang belajar menulis dengan benar.
