Lantai Rumah Ini

Lantai Rumah Ini

Lantai Rumah Ini

Oleh: Erien

Lantai rumah ini tumbuh setiap malam. Bukan retak, tapi tumbuh. Papan-papannya memanjang sepersekian kuku, merayap pelan ke arah dapur seperti akar kayu yang menjauhi batang pohon. Aku menyadarinya karena setiap subuh sendok aluminium di meja makan selalu bergeser sedikit dari tempat semula. Mula-mula kupikir itu ulah tikus atau getaran truk yang lewat di jalan raya belakang rumah. Namun pergeserannya terlalu rapi, terlalu sabar, seolah-olah rumah sedang memindahkan dirinya sendiri tanpa izin penghuninya. Dan kuperhatikan jarak meja makan dan meja kompor semakin menjauh. Pasti lantai ini yang tumbuh. Entah sejak kapan.

Ibu tidak pernah membicarakan lantai. Dia tetap menyapu seperti biasa, menepuk-nepuk keset di teras, merebus air untuk teh melati, lalu duduk diam memandangi halaman yang ditumbuhi pohon jambu. Ibu tidak keberatan melangkah sedikit lebih jauh dari sebelumnya. Tetapi, suara langkahnya berubah. Dahulu bunyinya ringan. Tak. Tak. Tak. Kini langkahnya terdengar berat dan patah-patah. Duk-duk-duk-duk.

Sejak Ayah meninggal tiga tahun lalu, kami tinggal di rumah ini seperti dua orang penyewa yang sama-sama takut terusir. Tidak banyak percakapan tersisa di antara kami. Ibu lebih sering menyapa panci yang isinya mendidih, mengomeli tanaman cabai yang berbuah irit, atau berbisik pada foto Ayah di lemari kaca.

Aku sendiri memilih pulang larut dan tidur cepat agar tidak perlu melihat matanya yang selalu tampak sedang menunggu sesuatu. Padahal aku tahu yang Ibu tunggu bukan aku.

Kadang-kadang aku terbangun malam-malam karena mendengar Ibu berjalan ke dapur. Bukan untuk makan atau minum. Ibu hanya berdiri di sana beberapa menit dalam gelap. Aku tahu karena pernah mengintip dari balik pintu kamar dan melihatnya menempelkan telapak kaki telanjang ke lantai kayu, diam seperti orang memastikan denyut nadi orang mati. Lalu, Ibu berjongkok, mengusap-usap lantai. Sebelum kembali ke kamar, Ibu tengkurap sambil menempelkan telinga di lantai.

Sejak itu, aku mulai tidur tengkurap agar telingaku menempel ke lantai. Mungkin dengan begitu aku tahu apa yang Ibu dengarkan dari lantai.

Mula-mula aku hanya mendengar suara udara yang berulangkali tertekan dari telinga yang bergerak. Lalu, ada suara jantungku sendiri. Juga suara angin yang lembut dan dingin. Ada juga percakapan kecil yang tidak jelas membicarakan apa. Anehnya, semakin lama aku mendengarkan, semakin aku merasa rumah ini sedang menceritakan dongeng pengantar tidur yang membuatku mengantuk.

Suatu malam, lantai mengirim sebaris dingin merambat dari ruang tamu hingga ujung kakiku. Ketika dingin itu sampai ke wajahku, aku mendongak dan berdiri. Lantai yang kuinjak dingin ketika keluar kamar tapi menghangat saat aku berjalan menuju dapur dan itu membuatku berhenti. Lalu, kakiku kembali dingin sewaktu berjalan ke arah kamar belakang. Lantai memintaku membuka lemari tua di kamar belakang. Dinginnya berhenti di sana.

Lemari itu milik Ayah. Setelah pemakaman, Ibu tidak pernah mengizinkan siapa pun menyentuh isi di dalamnya. Hanya debu yang menempel di pintunya, dibiarkan tumbuh agar waktu tetap tinggal di sana.

Aku membuka lemari pelan-pelan. Derit pintunya nyaring dan terpatah-patah. Bau kapur barus dan kain lama langsung keluar seperti napas yang ditahan bertahun-tahun. Di dalamnya hanya ada sepatu-sepatu Ayah: sepatu kerja hitam, sandal kulit retak, sepatu olahraga yang solnya mulai mengelupas. Aku langsung teringat kebiasaan Ayah setiap pulang kerja yaitu melepas sepatu di depan dapur sambil mengeluh kakinya “ditelan jalan”.

Waktu kecil aku sering memasukkan kakiku ke dalam sepatu kerjanya. Kakiku tenggelam di sana, dan Ayah akan tertawa sambil berkata suatu hari nanti aku akan tumbuh mengikuti jejaknya.

Aku tidak pernah sempat bilang bahwa aku takut menjadi seperti dia. Takut bekerja sampai punggung membungkuk. Takut diam-diam menyimpan lelah sendirian. Takut mati mendadak seperti pagi itu, ketika Ayah ditemukan rebah di ruang tamu dengan tangan masih menggenggam daftar belanja.

Aku mengangkat sepasang sepatu kerja hitamnya. Debu jatuh pelan. Lalu lantai berdenyut.

Duk.

Dukduk.

Duk.

Aku menaruh sepatu itu di lantai. Perlahan, tanpa kaki di dalamnya, sepatu bergerak sendiri menuju dapur. Tidak berjalan tapi diseret. Aku mengikutinya sambil menahan napas.

Di bawah meja makan, sepatu itu berhenti tepat di atas papan kayu yang warnanya lebih pucat daripada sekitarnya. Itu tempat Ayah biasa duduk sambil membaca koran dan mengupas mangga untukku.

Lantai menghangat kemudian terbuka. Serat-serat kayu saling menjauh dan dari celahnya keluar bau hujan pertama di bulan Januari. Rasanya speerti ada air yang sedang mengingat cara menjadi sungai. Di dalamnya ada benda kecil terbungkus kain merah. Tanganku gemetar saat membukanya.

Gigi susu milikku.

Aku langsung teringat malam ketika gigiku tanggal. Aku menangis karena takut wajahku berlubang selamanya. Ayah menenangkanku sambil berkata bahwa semua bagian tubuh yang jatuh harus disimpan rumah agar manusia tidak tercerai-berai setelah mati.

“Rumah menjaga kita,” katanya waktu itu. “Bahkan setelah kita pergi.”

Dadaku mendadak sesak.

Tiba-tiba aku sadar. Lantai bukan sedang tumbuh. Ia sedang mengumpulkan kami. Semua jejak seperti serpih kuku, rambut rontok, tumpahan air mata, suara pertengkaran yang jatuh dari mulut, bahkan langkah-langkah yang gagal pergi. Rumah menyimpannya di bawah papan kayu.

Aku menoleh dan mendapati Ibu berdiri di ambang dapur. Entah sejak kapan Ibu di sana. Matanya tidak tampak terkejut. Wajahnya lelah mungkin karena terlalu lama hidup bersama kehilangan hingga rasa itu menjadi anggota keluarga baru.

Ibu memandang lantai yang masih sedikit terbuka. Lalu, dengan suara lirih yang nyaris patah, Ibu berkata kepada sesuatu di bawah rumah.

“Sudah ketemu anakmu?” (*)

Kotabaru, 24 Mei 2026

Erien. Saya dan deadline punya hubungan toksik.