Yang Gila dan Yang Bercinta

Yang Gila dan Yang Bercinta

Yang Gila dan Yang Bercinta

Oleh : Rainy Venesia

Siang ini surya mengurangi kadar teriknya hingga sembilan puluh persen, tapi gerah menyelimuti Dusun Linggar hingga hawa panas menyembur dari mulut-mulut terbuka seiring kata-kata yang keluar. Beruntunglah nama-nama binatang mangkir, mungkin hewan-hewan tersebut mengasingkan diri sebab sungkan berpartisipasi dalam keriuhan tepat di depan surau kecil di dataran tinggi sebelah barat mata air. Kira-kira dua puluh langkah dari mata air ke arah timur, ada sebuah batu hampar cukup untuk empat atau lima orang duduk melingkar. Batu hampar di bawah pohon beringin itulah yang menjadi sebab kobar api menyambar-nyambar dari lidah beberapa orang. Oh, bukan batu, tetapi dua manusia yang duduk di batu itu yang menjadi sebab adu argumen warga yang mengepung surau.

Awalnya, Pak Bari dan empat lainnya merasa kesal karena teriakan Oha mengganggu sholatnya pada rakaat kedua. Teriakan pertama dan kedua mereka abaikan karena mafhum tentang laki-laki yang katanya kehilangan separuh akal sehat sejak dua puluh tahun lalu. Lelaki sebatang kara tersebut linglung setelah calon istrinya kedapatan sedang bermesraan di dangau dengan temannya sendiri. Lantas sepasang mesum itu diusir dari kampung setelah mufakat diambil dalam persidangan para tokoh Dusun Linggar.

Teriakan Oha makin menjadi diiringi jerit perempuan yang meminta tolong. Pak Bari dan makmumnya terpaksa menghentikan sholat dan bergegas menghampiri asal keributan. Dia kaget melihat Oha sedang memukuli seorang lelaki muda. Pak Bari dibantu dua orang berusaha menarik Oha yang membabi buta. Darah mengucur dari pelipis pemuda tersebut menimbulkan bercak merah pada kemeja putihnya. Sedangkan gadis remaja yang ternyata keponakan Pak Bari, menangis dan terus berteriak minta tolong menarik orang-orang yang hendak pulang dari sawah berbelok menghampiri.

Butuh lima orang untuk mengendalikan Oha. Seterusnya, lelaki gondrong dengan kaos hitam lusuh itu digiring ke surau diikuti Pak Bari yang menggandeng korban. Semuanya duduk melingkar sambil mengatur napas menenangkan diri. Beberapa ekor mata melirik pada keponakan Pak Bari, gadis manis yang selalu tampil modis dengan aksesoris yang berganti-ganti. Gadis kelas dua SMA yang sedang mekar dan dinanti banyak pemuda. Beberapa dari mereka langsung melengos sambil mengusap wajah, mulutnya komat-kamit beristigfar. Namun, beberapa justru tersenyum saat pandangannya menumbuk benda yang harusnya tertutup.

Pak Eman, ketua kampung yang disegani menatap Oha dengan tatapan lembut dan teduh. Dia tersenyum saat menoleh pada Deni sang korban. Namun, wajahnya segera berpaling saat melihat Eva. Matanya bergerak memberi isyarat pada Pak Bari. Isyarat itu disampaikan Pak Bari dengan mata melotot disertai gerakan dagu, membuat keponakannya yang terlihat masih syok langsung mengernyitkan dahi. Eva menatap Pak Bari tak mengerti, lalu menunduk. Seketika wajahnya berubah merah. Buru-buru ia membenahi kancing bajunya yang terbuka.

Pak Eman bergeser ke depan mendekati Oha. Tangannya mengusap kepala lelaki itu. Dia paham bahwa Oha tak sepenuhnya seperti persangkaan warga. Lelaki malang itu hanya kehilangan tujuan hidup setelah gagal menikah. Tak jarang Pak Eman mengajak Oha berbincang, mengajaknya makan bersama di rumah, dan menyuruhnya membersihkan halaman atau pekerjaan lain.

“Apa yang kau lihat?” tanya Pak Eman, mengundang semua mata tertuju padanya. Pertanyaan yang aneh. Mungkin, begitu menurut mereka. Atau bisa jadi sebagian merasa geram karena yang ditanya bukan Eva atau Deni yang nyata-nyata waras.

“Zina, bedebah itu zina!” teriak Oha kembali nyalang, telunjuknya mengacung ke arah sepasang kekasih yang langsung melotot saling pandang.

Wajah Pak Bari merah padam menahan murka. Matanya membeliak melotot pada Oha. Dia tak terima keponakannya dipermalukan. Dia bangkit hendak melayangkan tinju ke wajah Oha. Beruntung tangannya berhasil ditangkap oleh Pak Eman.

“Sabar, Pak Bari.”

“Kalian percaya sama orang gila ini?” bentak Pak Bari sambil menoleh ke kiri dan kanan, dadanya turun naik, napasnya tampak memburu.

“Tenang, Pak. Tenang dulu.”

“Halah, sudahlah. Eva, ayo kita pulang!” Pak Bari menyambar tangan keponakannya, lalu meninggalkan surau menyibak kerumunan. Sedangkan Deni mengekor di belakang dengan meraba-raba pelipisnya.

Bisik-bisik menjadi bising, lalu pendapat-pendapat menjadi rapat beradu ingin dimenangkan. Sebagian mencebik mencaci Eva dan pasangannya yang mereka rasa sudah mencemari kampung. Sebagian menganggap wajar karena menurutnya begitulah lumrahnya sepasang kekasih yang sedang dilanda asmara. Sebagian meminta Eva diusir tak ingin dusun yang mereka cintai mendapat azab karena perbuatan laknat dua manusia tersebut. Sebagian lain menganggap pendapat pertama berlebihan, cukup segera dinikahkan saja, maka urusan selesai. Sebagian lain tetap bersikukuh bahwa kelakuan mereka dimaklumi selayaknya anak muda yang memadu cinta.

“Halah, biasa aja kok. Gak sampe bunting,” celetuk seseorang, ditimpali yang lain membenarkan.

“Lagian si Oha dipercaya. Orang gak waras mana bener omongannya.”

“Mau bunting atau nggak, tetap saja mereka zina,” tukas seorang lain.

Sementara itu di dalam surau para sesepuh masih mengunci rapat mulut mereka. Kepala mereka menunduk, seolah tunduk pada fakta yang sudah diketahui bersama perihal keluarga Pak Bari. Tak ada yang berani membuka suara lebih dulu, mungkin tak ingin membuat suram pada hal yang sudah benderang. Hanya Oha, satu-satunya lelaki yang mengangkat wajah, seolah tak terpengaruh oleh apa pun, seolah tak ada tali yang mengekang pikirannya, pandangannya bebas menatap orang-orang di luar yang makin terdengar riuh berargurmen. Lelaki yang katanya tak waras itu tak menyadari ketika Pak Eman mencuri pandang padanya dengan pandangan cemas. Ketua kampung yang kata-katanya selalu ditaati warga, menyadari besok atau lusa Pak Bari akan datang ke rumahnya jika persoalan Eva dibawa ke Balai Besar.

Suara ribut di luar membuat Pak Eman dan yang lainnya saling pandang, lalu semuanya berdiri hendak melihat apa yang terjadi. Dengan suara lantang Pak Eman membuat semua bungkam. Hanya beberapa tangan yang masih bergerak saling sikut.

“Apa yang kalian lakukan?” tanya Pak Eman sambil menatap dua orang tua yang tadi hampir berkelahi.

Tak ada jawaban. Pak Eman menggelengkan kepala. Kendati begitu, dia paham apa yang sedang diributkan.

“Usir saja si Eva, dia sudah berbuat tak senonoh. Kami tak mau kampung ini ternoda oleh perbuatan mesum mereka,” kata salah satu yang tadi hampir berkelahi.

“Kalau Eva diusir artinya yang lain juga harus diusir. Memangnya cuma Eva yang bercinta? Memangnya anakmu gak begitu juga?” sanggah lawannya.

“Bercinta adalah hak asasi. Urusan pribadi. Ngapain diurusin?” teriak seorang pemuda yang baru pulang dari kota sebab kena PHK.

“Hak asasi mulutmu. Orang melanggar norma kok, ya mesti diurusi,” jawab seorang lainnya yang sebelum hari ini terkenal pendiam, jarang terdengar bersuara dalam kesempatan apa pun.

Adu mulut kembali membuat halaman surau menjadi gaduh. Beberapa yang baru datang hendak mengambil air, menunda dulu hajatnya dan langsung menggabungkan diri setelah bertanya pada yang berdiri paling belakang. Pak Eman mengangkat tangan. Semuanya terdiam, lalu mengangguk-angguk mendengar pidato singkat ketua kampung, bahwa masalah ini akan dibahas nanti di Balai Besar. Perlahan, kerumunan bubar setelah Pak Eman dan beberapa sesepuh mengajak mereka melanjutkan sholat yang tadi tertunda.

Namun, bubarnya kerumunan ternyata bukan berarti pertikaian juga berhenti, malahan makin panas. Perdebatan makin menggila menggerus tata krama demi memenangkan pendapat. Dua kubu terbentuk begitu saja meneruskan perseteruan. Antara wajar dan asusila, hak asasi dan norma.

Dua hari berlalu, pertikaian makin meruncing. Sebagian minta segera diadakan sidang di Balai Besar. Sebagian menyanggah dan menertawakan yang lain. Sebagian diam tak ingin tahu. Sedangkan Pak Eman tersenyum mengawasi Oha. Dia merasa yakin bahwa lelaki itu paling waras, bahkan dari dirinya yang tak mampu menggelar persidangan setelah Pak Bari ditemani dua pengawalnya berkunjung secara pribadi malam kemarin.

Selesai.


Bandung, 1 Desember 2020

Rainy Venesia menggunakan waktu luangnya untuk belajar menulis. Baginya menulis adalah salah satu cara untuk menyampaikan gagasan dan buah pikirannya dengan aman.

Editor : Lily

 

Grup FB KCLK
Halaman FB Kami
Pengurus dan kontributor
Mengirim/Menjadi penulis tetap di Loker Kata

Leave a Reply