CerpenTantangan Lokit 11

Susanti Pulang Kampung

Terbaik ke-6 Tantangan Lokit 11

Susanti Pulang Kampung
Oleh : Ayu Candra Giniarti

Susanti membuka kaca mobil, ia melambaikan tangan kepada kawan-kawannya di Kampung Durian Runtuh. Upin, Ipin, Jarjit, Ihsan, Fizi, Mail dan Mei-mei pun membalas lambaian tangan Susanti. Ia akan pulang ke negara asalnya, Indonesia.

Haiya, tak ada Susanti,  ma …. Macam mana mau main masak-masak? Hm.” Mei-mei menunduk sedih.

Tak seronoklah macam ni,” keluh Upin.

Tak seronok, tak seronok. Hm …,” jawab Ipin.

Tak pe! Ikut saye jual ayam goreng. Lagi seronok!” ajak Mail.

Due tige kucing berlari. Susanti sudah tak ada lagi. Huhuhu ….” Jarjit pun merasa kehilangan.

“Huuh,” keluh Ihsan dan Fizi bersamaan.

***

Awalnya Susanti merasa sangat sedih, karena ia akan pulang kampung cukup lama. Namun ternyata ia menikmati perjalanannya, benar-benar menyenangkan. Mobil itu melaju cepat, tak terasa bandara sudah terlihat sangat dekat.

“Wah, udah sampai. Asik …!” teriak Susanti gembira.

Ia melompat keluar dari mobil dan berlari masuk ke Bandara. Setelah melewati beberapa proses, akhirnya Susanti dan keluarganya pun naik pesawat. Susanti mencoba mengingat-ingat, kapan ia terakhir kali naik pesawat. Ah, masih terlalu kecil sehingga ia sulit mengingatnya. Kemudian Susanti mengeluarkan kamera kesayangannya, dan cekrek! Beberapa foto dalam pesawat pun berhasil diabadikan. Ia berencana untuk menunjukkan foto-foto itu kepada kawan-kawannya sepulang ke Malaysia nanti.

***

“Cucu kita besok sampai, Pak!” raut wajah Mbah Darmi tampak sangat bahagia.

Sementara Mbah Darmo senyum-senyum dan manggut-manggut, sambil sesekali mengayunkan kursi goyangnya. Susanti adalah cucu pertama mereka. Kedua orangtua Susanti memang sudah lama memutuskan untuk pindah ke Malaysia, sejak ayah Susanti dipindahtugaskan ke negara itu.

“Pak, besok akan ada arak-arakan warga untuk menyambut anak dan cucu kita.”

Mbah Darmo menyemburkan kopi yang baru saja diminumnya. Meski begitu matanya berbinar, tampak tak bisa menahan haru.

Ealah kenapa to, Pak! Minum kopi kok disembur-sembur kaya dukun!”

Mbah Darmi mengusap pipinya yang tampak mulai berkeriput. Ya, Mbah Darmi memang dikaruniai waktu yang lama untuk mendapatkan momongan. Apalagi ketika memiliki cucu, usianya pasti sudah tak semuda tukang sayur yang saban hari lewat depan rumah.

“Ngapain to, Bu! Arak-arakan kaya kedatangan cucu presiden aja!” Mbah Darmo heran sekaligus kaget.

“Ya kan cucu kita baru ini lho pulang ke Indonesia. Sudah lama, Pak. Pengen rasanya menyambut dengan gembira, suka cita, suka-suka saya. Saya suka saya suka!” jawab Mbah Darmi, menirukan gaya Mei-mei.

Zaman era digital seperti ini sangat mudah mendekatkan yang jauh. Video call beberapa kali dengan Susanti dan teman-temannya, membuat Mbah Darmi hafal gaya khas masing-masing teman cucu kesayangannya itu.

Mbah Darmo menarik napas dalam-dalam, dilanjutkan dengan gelengan kepala dan wajah yang masih tampak keheranan. Tak lama kemudian, ada tetangga datang. Yu Sumi, namanya.

“Mbah Darmi, ini pesanannya ya. Wafer stroberi satu blek, cokelat satu blek, rengginang satu blek, peyek kacang ijo satu blek. Sudah to, Mbah? Apa nggak pesan yang empuk-empuk buat Mbah Darmo? Kasihan nanti Cuma …. Hehehe.”

Yu Sumi tidak berani melanjutkan kata-katanya, karena Mbah Darmo sudah pasang tampang tersinggung. Dagunya terangkat, matanya dipicingkan, hidungnya kembang kempis, bibirnya mulai mengatup rapat-rapat menahan gigi palsu yang mau lepas.

“Sudah, Yu Sumi. Ada wafer, kan empuk juga. Kalau kurang empuk biar diputar, dijilat, terus dicelupin dulu sebelum dimakan.”

Mbah Darmi dan Yu Sumi cekikikan, sementara Mbah Darmo tampak lebih cepat mengatur napas, wajahnya semakin tampak kesal.

“Sudah, sudah, Pak. Maaf ya,” Mbah Darmi menepuk lembut bahu suaminya itu.

Mbah Darmo menghela napas sekali lagi dan mencoba tersenyum.

***

Hari sudah semakin larut, Mbah Darmo dan mbah Darmi terlihat sulit memejamkan mata. Saling pandang dan tersenyum, menyiratkan kebahagiaan yang tak terperi. Akhirnya hari yang sudah dinanti-nanti sepasang sejoli berambut putih itu pun datang. Sesuai dengan keinginan Mbah Darmi, arak-arakan sudah siap menanti di gapura desa.

Mobil berwarna hitam bertempelkan logo ojek online, berhenti tepat di gapura itu. Mbah Darmi dan Mbah Darmo merentangkan kedua tangannya. Cucu kesayangannya berlari ke dalam pelukannya. Mbah Darmo menjunjung tubuh mungil itu untuk duduk di kursi kayu yang sudah disiapkan dengan tandu. Meskipun setelahnya Mbah Darmo terus memegangi pinggangnya, ia tetap tampak bahagia. Begitu juga Mbah Darmi, arak-arakan yang diimpikannya untuk menyambut anak, menantu dan cucunya berjalan lancar.

Sampai di rumah Mbah Darmo dan Mbah Darmi, tamu-tamu makan jajanan ringan dan minum teh hangat yang sudah disiapkan beberapa ibu-ibu warga desa yang tidak mengikuti arakan. Ramai sekali rumah Mbah Darmi dan Mbah Darmo. Suka cita menyelimuti keduanya, anak, menantu dan cucunya, juga semua warga yang hadir. Mbah Darmi menyeka air mata, Mbah Darmo merangkul bahu istrinya itu dengan tangan yang mulai tak kokoh lagi. Semburat bahagia mewarnai setiap lekuk dan guratan di wajah kedua sejoli berambut putih itu. Apalagi untuk beberapa hari ke depan, akan ada yang rela menempel koyo di pinggangnya setiap hari demi melihat tawa bibir mungil Susanti. Mbah Darmi juga akan selalu siap, memberi makna dalam rasa yang tertuang di setiap hidangan yang dimasaknya.

***

“Halo Mei-mei, Upin, Ipin, Jarjit, Ihsan, Fizi, Mail!” Susanti melambaikan tangan ke kamera handphone milik ayahnya.

Sementara di sana, Abang Sally memegang handphone dengan tangan kirinya, mengarah ke anak-anak itu. Tangan kanannya masih asyik menyantap ABCD Uncle Mutu.

Mereka bahagia, rindu kepada kawan sudah terobati. Tinggal menunggu satu minggu lagi untuk menyambut Susanti dan mengakhiri liburan sekolah. (*)

Note: Cerita ini merupakan fanfiction dari film Upin dan Ipin.

Ayu Candra Giniarti, ibu dari dua balita yang suka menonton kartun Upin dan Ipin. Saat bersama mereka adalah aktivitas yang menyenangkan dan waktu berharga yang tak tergantikan. Dan menulis adalah salah satu caraku, untuk menghabiskan jatah banyak kata yang dikeluarkan seorang wanita (daripada buat ngomel. Hehe..)

Tantangan Lokit adalah tantangan menulis cerpen yang diselenggarakan di grup FB KCLK

Grup FB KCLK
Halaman FB Kami
Pengurus dan kontributor
Mengirim/Menjadi penulis tetap di Loker Kata

0
Tags

Tulisan terkait

Close