Kelopak yang Tanggal
Oleh: Layla Nusayba
Aku mekar di dalam pot yang terbuat dari tanah liat, berdiri di teras sebuah rumah yang sesekali waktu disesaki wangi kayu cendana. Sinar matahari yang menyusup dari celah daun pepohonan di pekarangan memberiku tenaga.
Pemilikku adalah perempuan yang selalu mengikat rapi rambutnya. Garis-garis halus menghiasi sudut matanya, menyerupai urat-urat pada daun-daunku. Kadang matanya terang, kadang redup, seperti langit yang mendung. Lelaki yang tinggal bersamanya memanggilnya Kinasih.
Setiap pagi, Kinasih membuka pintu rumah lebar-lebar dan keluar sambil bergandengan tangan dengan lelakinya. Ia akan terus berdiri di teras sampai lelaki itu menaiki benda yang suaranya meraung dan menggeletar. Tangannya akan terus melambai seperti daun ditiup angin, lalu ia akan tersenyum sendiri saat melihat manusia-manusia kecil dengan pakaian seragam putih merah melintas di pekarangan, sebelum kemudian menghela napas panjang dan tertunduk.
Setelah mereka raib dari pandangan, ia menghampiriku. Aroma segar menguar dari tubuhnya. Jemari lentiknya menyentuh kelopakku dengan lembut. Aku menyukai sentuhannya, serasa ada tenaga yang mengalir ke mahkotaku.
Setelah menghirup aromaku dalam-dalam, Kinasih memangkas dahan-dahanku. Aku membenci bagian ini karena rasanya menyakitkan, tapi aku akan segera melupakan sakit itu ketika ia menyiramku dengan air cucian beras. Aku mengetahui nama cairan itu ketika suatu kali ada beras yang ikut jatuh dan berbicara dengan pohonku. Kata Kinasih, air itu bisa membuat kelopakku tetap merah menyala menyerupai gincu pengantin. Entah apa maksudnya gincu pengantin itu, mungkin itu nama sebuah bunga sepertiku. Sambil memegang gembor kecil, biasanya ia bersenandung sambil tersenyum. Saat melakukan itu ia mengeluarkan aura yang membuatku merasa tenang.
Menjelang siang, Kinasih akan berada di dalam rumah. Aku mendengar suara benda-benda beradu dari balik dinding, diselingi aroma sedap yang merayap keluar dari jendela yang terbuka. Sore hari, ia biasanya duduk di kursi rotan di sampingku, membaca buku sampai matahari berubah kemerahan, menunggu suaminya pulang. Lelaki itu baru kembali ketika langit telah hitam, dan ia menghampiri Kinasih yang sedang meremas jemarinya sendiri di ambang pintu.
Suaminya menyapa Kinasih dengan lembut, mendaratkan kecupan di kening perempuan itu meski wajahnya sendiri tampak kuyu dan lelah. Obrolan mereka pun mengalir dari ruang depan seperti biasa, tapi kekehan Kinasih tak terdengar. Padahal kekehan itulah yang selalu mengantarku tidur.
“Kenapa tak mengabariku kalau mau pulang telat. Aku kepikiran yang tidak-tidak.”
“Maaf. Aku mengantar teman kantor ke rumah sakit. Istrinya melahirkan.”
Keesokan paginya, Kinasih berdiri di ambang pintu dengan wajah yang sayu. Ia melepas kepergian suaminya tanpa senyum yang biasanya memenuhi bibirnya.
“Jangan terlalu dipikirkan,” kata suaminya sebelum pergi dengan benda yang meraung dan hilang di tikungan.
Raungan benda itu tak lagi terdengar, tapi Kinasih tak menghampiriku sebagaimana biasanya. Ia mematung lama di ambang pintu saja, menatap aspal jalanan hingga matanya memerah, lalu masuk dan menutup pintu rapat-rapat. Kinasih baru keluar menjelang sore untuk membuang sampah dan menyiramku asal-asalan. Kucuran air gembor tumpah ke mana-mana.
Beberapa hari telah berlalu setelah hari itu, dan aku tak pernah melihat Kinasih keluar rumah lagi. Jendelanya tetap tertutup meski matahari sudah di tengah langit. Tak ada suara benda-benda beradu dari balik dinding. Tak ada aroma sedap yang biasanya tercium. Rumah itu tampak sepi.
Aku sendiri mulai kehausan. Tak ada setetes air pun yang bisa diserap oleh akarku, kecuali titik-titik embun yang terburu menguap oleh panas matahari musim kemarau. Batangku mulai condong ke bawah; tanah di dalam potku retak-retak; kelopakku yang merah mulai mengerut, tepiannya menghitam terbakar sinar matahari. Dalam terpaan terik matahari, aku bertanya-tanya apa yang sedang dilakukan Kinasih di dalam rumah hingga lupa menyiramku?
Suatu siang, Kinasih menyibak gorden jendela. Aku berharap ia melihat daunku yang mulai meranggas dan berjatuhan, tapi ia hanya diam sambil meringkuk di atas sebuah benda. Wajahnya basah oleh air yang jatuh dari matanya. Ia menatap lurus ke luar jendela dengan sebelah tangan menopang pipi.
Tak berselang lama, Kinasih keluar rumah, berdiri di dekatku sambil menempelkan sesuatu di telinganya.
“Aku mau berpisah saja, Mah.”
“Tapi aku tahu kalau Mas Ari menginginkan anak.” Nada suaranya agak meninggi.
“Terus aku mesti gimana, Mah?” Suara Kinasih kini gemetar.
Apa anak yang dimaksud Kinasih seperti anak-anak manusia yang sering lewat di pekarangan? Aku tidak begitu tahu urusan manusia.
Obrolan itu berakhir dengan mata Kinasih yang mengeluarkan air. Ah, andai saja air itu aku serap, tentu aku tak akan kehausan begini.
Keesokan paginya, pintu rumah kembali terbuka lebar. Kinasih muncul dengan binar mata yang berbeda dari kemarin, meski matanya masih sembap. Ia kembali memegang kerah pakaian suaminya, dan melepasnya bekerja dengan senyuman.
Sedetik setelah kepalanya menengok ke arahku, matanya langsung membelalak.
“Astaga. Maafkan aku,” katanya sambil membelai bekas kelopakku yang semalam tanggal.
Dengan tergesa ia lalu mengambil air dan mengguyurkannya ke tempatku tumbuh. Tanah segera menyerapnya dan akar-akarku pun menyerapnya. Kinasih kemudian berjongkok, membelai sisa kelopak dan daun-daunku. Ia kembali bersenandung dan aku menyukainya lagi.
Solo, 25 April 2026
Layla, perempuan Jawa yang suka jajan dan sedang belajar menulis dengan baik.
