Sepasang Sandal di Pinggir Sungai

Oleh: Erien

Sore itu, seorang anak menemukan sepasang sandal di pinggir sungai. Sandal jepit murahan, warna biru pudar, besarnya seukuran kaki seorang perempuan dewasa. Sandal itu diletakkan rapi seperti sandal-sandal di teras langgar sebelah rumahnya. Anak itu mengamati, mengambil yang sebelah kanan lalu membolak-balik sandal kanan itu sebelum akhirnya menaruhnya kembali seperti semula. Ia merasa tidak akan ada orang yang sengaja meninggalkan sandal sejelek apa pun dalam keadaan sejajar di pinggir sungai ini. Dengan bergegas, ia pulang untuk memanggil orang-orang.

Dua orang bapak menanggapi dengan serius. Mereka berjalan seperti berlomba dan itu membuat orang-orang yang dilewati penasaran. Sekejap saja kerumunan datang dengan cepat, membawa rasa ingin tahu yang lebih besar daripada rasa peduli. Sebagian tidak bersandal.

“Siapa punya?” tanya seseorang.

Tak ada yang menjawab. Tapi beberapa orang mulai saling pandang seperti mencoba mengingat siapa yang pernah terlihat dengan sandal itu.

“Kalau yang punya sandal ini tidak ada di sini, berarti … ,” kata salah seorang laki-laki sembari berjongkok di depan sepasang sandal itu. Ia lalu menoleh pada kepala kampung yang baru saja datang. Keduanya bertatapan beberapa detik sebelum kemudian serentak menatap ke arah sungai yang mengalir deras. Ada yang tidak seperti biasa.

“Siapa yang belum pulang hari ini?”

Kepala kampung celingak-celinguk ke arah kerumunan di kanan dan kirinya. Ada nada cemas di pertanyaan itu sekaligus harapan bahwa semua sudah pulang ke rumah seperti seharusnya.

Nama Sri disebut pelan-pelan. Mula-mula satu orang dengan nada antara ragu dan bertanya, lalu yang lain menyusul menjawab, mengiakan.

Sri, perawan tua, tinggal sendiri di ujung kampung, bekerja mencuci pakaian orang lain, dan jarang bicara kecuali perlu. Orang-orang tahu ia ada, tapi tak benar-benar mengenalnya selain sebagai yatim piatu dari sepasang bisu. Sore itu, seorang ibu mendatangi rumahnya untuk minta bantuan mencuci, tapi Sri tidak ada. Lalu, seseorang lain tiba-tiba ingat kalau Sri pernah memakai sandal seperti itu.

Kepala kampung menghela napas panjang. Laki-laki itu melarang semua warga memindahkan sepasang sandal di pinggir sungai. Tidak ada yang bertanya. Semua setuju meski ada beberapa wajah yang terlihat seperti sedang mencemaskan sesuatu.

Malamnya, rumah Sri didatangi. Biasanya rumah itu diterangi satu lampu di atas pintu, di tengah lubang angin. Itu cukup untuk menerangi teras kecilnya dan ruang tamu. Namun, malam ini rumahnya gelap.

Kepala kampung mengetuk pintu. Tiga ketukan beruntun sebanyak tiga kali, berjeda setengah menit. Ia menyuruh istrinya memanggil Sri dan mengucapkan salam. Tidak ada jawaban.

Ternyata, pintu tak dikunci. Kepala kampung, istrinya, dan dua laki-laki masuk. Lampu dinyalakan. Ruangan terlihat remang-remang tapi jelas. Meja kecil, tikar yang digelar dengan beberapa gelas air mineral yang disusun terbalik. Sementara, di sisi dinding lain, ada tiga ember, satu berisi pakaian basah, dan secangkir teh yang sudah dingin. Kamarnya kosong dengan kasur berantakan. Lemarinya rapi dengan beberapa baju terlipat rapi. Tak ada tanda-tanda ia pergi jauh, kecuali sandal yang tertinggal di sungai, kalau memang benar itu sandalnya. Tidak ada petunjuk apa pun.

Malam itu, warga kampung tidur dengan rasa penasaran. Benarkah sandal itu milik Sri? Ke mana perempuan itu?

Selama tiga hari, laki-laki kampung bergantian menyusuri sungai dan menusuk-nusuk dasarnya dengan bambu. Perempuan dan anak-anak tidak boleh mendekat. Semua dilakukan dari pinggir sungai. Pencarian dimulai dari tempat sepasang sandal biru ditemukan, menyusuri sepanjang aliran sungai hingga perbatasan kampung. Tidak ada yang melapor ke pihak berwenang. Tidak ada yang mau jadi saksi. Apalagi kemungkinan menjadi tersangka berdasar tekanan. Lebih baik diam, kerjakan sendiri.

“Untung yang hilang Sri.” Ucapan kepala kampung ini terdengar jelas. Namun, semua laki-laki itu menunduk pura-pura tidak mendengar.

Tiga hari berlalu. Sungai sudah sepi. Sepasang sandal masih di situ, ditinggalkan. Tidak ada yang melewatinya lagi.

Hari berikutnya, orang-orang mulai bercerita. Ada yang bilang melihat Sri berjalan ke arah sungai saat senja. Ada yang bilang ia tampak lelah, seperti habis membawa sesuatu yang berat. Lalu hilang di tikungan dekat rumahnya. Namun, tidak ada yang berani memastikan.

Seminggu berlalu, hujan turun deras. Air sungai naik, membawa ranting, daun, dan sampah. Seorang lelaki yang sedang mencari ikan menemukan sesuatu tersangkut di jaringnya. Ketika berhasil diangkat, ia melihat kain, rambut, dan akhirnya tubuh yang sudah tak lagi utuh sebagai seseorang yang bisa dikenali dengan mudah.

Orang-orang diam. Nama Sri tak lagi disebut dengan ragu, tapi juga tidak dengan keberanian.

Pemakaman dilakukan sederhana. Tak banyak yang datang. Beberapa membawa doa, sebagian hanya rasa bersalah yang tak tahu harus diletakkan di mana.

Setelah itu, semuanya kembali seperti biasa. Sandal biru itu disimpan oleh kepala kampung. (*)

Kotabaru, 26 April 2026

Erien, pernah merasa bahwa dunia bergerak tidak semestinya.