Review Film Autobiography: “Siap, Jenderal”
Oleh : Rosna Deli
Sesaat setelah saya selesai menonton film ini, perasaan terintimidasi masih terasa di hati saya. Aura gelap, penuh tekanan itu memang menurut saya berlangsung cukup kuat dalam setiap adegan di film Autobiography. Ekspresi wajah Rakib yang banyak diam tapi terus memperhatikan setiap tingkah, perbuatan yang dilakukan majikannya, Pak Purna, seolah menyiratkan kesan kelam. Dan ini berlangsung hingga film berakhir.
Alur Cerita Film Autobiography
Film ini diawali dengan kedatangan Pak Purna ke kediaman lamanya di kampung. Rumah itu telah dijaga secara turun-temurun oleh keluarga Rakib. Dan setelah ayah Rakib masuk penjara, Rakib sendirilah yang menjaga rumah itu. Keseharian Rakib menjadi berubah setelah kedatangan Pak Purna. Karena tujuan kedatangan Pak Purna kali ini adalah untuk mencalonkan diri sebagai seorang Bupati, Rakib tidak hanya menyediakan makan dan minum, tapi bertugas juga sebagai supir pribadi Pak Purna. Dia mengikuti semua rangkaian kegiatan Pak Purna selama masa itu. Sebagai seorang pensiunan jenderal, Pak Purna tidak hanya disegani di kampungnya tapi juga masih memiliki kekuasaan di sana.
Sebagai langkah awal, untuk menjalin hubungan yang baik dengan Rakib, Pak Purna mengajak Rakib untuk mengunjungi ayahnya di penjara. Meskipun hubungan antara Rakib dan ayahnya tak harmonis, tapi Rakib terpaksa mengikuti ajakan itu. Ayah Rakib merasa senang sementara Rakib bertingkah tak peduli. Pesan yang paling melekat dari pembicaraan singkat antara Rakib dan ayahnya adalah “Jangan mudah percaya.”
Setelah itu, perjalanan keduanya meski terkesan lambat tapi menyiratkan banyak pesan. Rakib seolah menemukan sifat seorang bapak pada Pak Purna. Pak Purna walau dengan kesibukannya masih menyempatkan waktu untuk mengajarkan Rakib menggunakan senjata, bermain catur dan makan mi instan bersama. Hal yang paling membekas bagi Rakib adalah ketika Pak Purna memberikannya baju seragamnya dulu. Rakib mengenakan seragam tentara itu ke manapun dia pergi dan ucapan Pak Purna bahwa Rakib mirip dia ketika muda begitu menyenangkannya.
Saat Rakib mengantar-jemput ke manapun Pak Purna pergi, digambarkan jelas di setiap bagian film, Rakib lebih banyak diam dengan ekspresi tertahan sementara Pak Purna dengan intonasi suara tegas, meskipun selalu diucapkan dengan santai, berbaur menjadi satu. Sosok Rakib menjadi tidak konsisten di beberapa bagian. Perasaan kagum, takut dan bingung menyelimutinya hingga terus menerus. Misalnya, ketika Rakib tidak sengaja menabrak pembatas masjid ketika mereka dalam perjalanan kegiatan Pak Purna. Pada bagian itu, alih-alih Pak Purna memarahi masyarakat yang marah karena aksi Rakib itu. Dia justru meminta Rakib meminta maaf karena maaf itu adalah hadiah. Rakib cukup terkesan.
Namun, di lain waktu, Rakib juga tak luput dari kemarahan Pak Purna ketika dia menyembunyikan sesuatu di sakunya. Saya pikir, dari situlah Rakib mulai “ragu” dengan sosok mantan jenderal di depannya itu. Potongan spanduk baliho kampanye Pak Purna yang rusak oleh orang tak dikenal. Dan dengan kemarahan yang sangat, Pak Purna memerintah Rakib untuk mencari tidak hanya potongan spanduk yang hilang, melainkan berikut pelakunya.
Film yang berdurasi hampir dua jam ini, menyuguhkan banyak hal, tentang begitu kuatnya pengaruh kekuasaan pada kehidupan kita sehari-hari. Bahkan ia bisa masuk ke ruang-ruang pribadi dan tak bisa dicegah. Dan Rakib yang mungkin terkejut dengan semua yang baru saja dialaminya, tentang kebohongan-kebohongan yang dilakukan Pak Purna membuat dia ingin lari dari lingkaran itu. Rakib telah memesan tiket untuk pergi ke Batam dan telah melakukan temu janji dengan salah satu calo. Tapi keinginan itu tercium oleh Pak Purna dan dihentikan dengan bantuan para tentara.
Kelebihan
Film ini memiliki banyak subteks penting tentang hal-hal yang sering kita temui dan kita rasakan tentang makna kekuasaan. Yang paling terlihat adalah penutupan kasus kematian Agus. Kekerasan itu nyata yang berujung pada kematian tapi tak tersentuh hukum.
Kedua, nuansa intimidasinya begitu terasa dari awal hingga akhir. Pak Purna dengan intonasi dan raut wajahnya mampu memerintah tanpa menyuruh, dan semua orang seolah tidak bisa berkata tidak. Kesan kelam itu didukung dengan latar tempat dan suasana yang detail di dalam film. Selain itu, proses pengambilan gambarnya juga terkesan natural. Saya suka saat mobil Pak Purna tak bisa lewat karena ada perbaikan jalan. Semua yang ditayangkan di sana, pencurahan aspal, suasana jalan terasa begitu dekat dengan yang saya saksikan sehari-hari.
Setiap dialognya bernas. Dan pantas, ada banyak penghargaan yang disabet oleh film yang disutradarai oleh Makbul Mubarak ini. Mulai dari penghargaan penulis skenario terbaik, aktor terbaik, film terbaik, dan masih banyak lagi.
Selain itu saya juga suka kover filmnya. Ia menampilkan dua wajah dalam satu kepala, wajah Pak Purna dan Rakib. Keduanya bisa jadi merupakan satu kesatuan yang dipisahkan hanya karena waktu atau usia. Namun, sejatinya kisah yang mereka alami adalah pengulangan dari waktu ke waktu. Tentang kekuasaan yang berulang juga tentang sulitnya menyuarakan kebenaran. Lihat akhirnya, ketika Rakib memandang pantulan wajahnya di cermin dan meminta segelas kopi untuk dirinya, lalu film pun selesai.
Kekurangan
Bagi yang menyukai alur cerita cepat mungkin agak bosan dengan film ini. Namun, jika dipahami lebih dalam tak ada yang sia-sia di setiap bagian filmya. Skor untuk film ini 9 dari 10. Selamat menonton dan temukan sensasi menegangkan.
Dumai, 25 April 2026
Rosna Deli, perempuan penyuka keramaian.
