CerpenSastra

Secangkir Teh Tubruk yang Telah Mendingin

Secangkir Teh Tubruk yang Telah Mendingin
Lusiana Ayuningtyas

Arum menatap wanita yang duduk di hadapannya dengan pandangan antara iba juga sedih. Teh tubruk yang dia hidangkan sejam lalu telah mendingin, bahkan kini daun tehnya sudah hampir semua tenggelam, warna teh juga lebih gelap. Wanita yang juga mertuanya tersebut sama sekali tak menyentuhnya. Dia duduk di sana dalam diam, pandangannya kosong. Arum menghela napas panjang lalu menghembuskan dengan perlahan. Berharap dadanya yang terasa sesak sedikit lega.

“Bu, tehnya diminum dulu, sudah dingin. Atau mau Arum ganti?” Arum menyentuh tangan ibu mertuanya tersebut dengan lembut. Wanita tersebut menoleh menatap Arum dengan pandangan sedikit bingung.

“Teh?” wanita itu bertanya dengan suara lirih yang sedikit serak. Arum mengangguk, lalu menunjukkan teh yang sudah dingin tersebut. Sang mertua menghela napas panjang, lalu tanpa peringatan mulai menangis. Isaknya pelan, tetapi terdengar pilu. Melihat sang ibu mertua terlihat begitu bersedih, Arum memeluk ibu dari sang suami itu. Isaknya yang terdengar menyedihkan akhirnya membuat dirinya ikut terisak lirih.

Keduanya akhirnya sama-sama menangis. Dua wanita dari dua generasi yang berbeda itu baru saja kehilangan dua orang yang mereka kasihi. Ibu mertua baru kehilangan sang belahan jiwa. Begitu juga dengan Arum, sang suami baru menghadap Sang Khalik selisih dua hari setelah kematian ayah mertua, yang berarti ibu mertuanya kehilangan dua orang yang disayanginya dua kali dalam kurun waktu yang berdekatan. Keduanya meninggal karena covid-19. Ini minggu pertama setelah seluruh keluarganya selesai isolasi mandiri. Alhamdulillah, Arum, ibu mertua, juga anak-anak hasil tes swab-nya negatif.
Kesedihan kentara sekali masih melingkupi rumah joglo tersebut. Apalagi malam ini, setelah anak-anaknya tidur dan saudara-saudara juga iparnya telah pulang. Rasanya seperti mimpi ketika rumah sakit tempat suaminya bekerja memberitahukan bahwa sang suami terkena covid-19 setelah berjibaku dengan pasien yang terinfeksi selama dua bulan. Sempat pulang seminggu sebelum dinyatakan terpapar covid-19, untuk menjenguk Arum juga anak-anaknya, itu pun hanya melihat lewat pagar di luar rumah. Anak-anak memberi semangat pada sang ayah yang kala itu hanya berdiri di depan pagar dengan APD lengkap.

Sementara sang ayah mertua tertular dari salah seorang tetangga yang terinfeksi. Si tetangga ini sudah diminta isolasi mandiri karena tanpa gejala. Hanya saja, karena dia menyepelekan, dia malah ikut bersepeda bersama para tetangga lain. Tak ada yang tahu kalau si tetangga ini pasien covid-19 tanpa gejala. Akibatnya ayah mertua Arum tertular. Begitu tertular, kondisinya langsung drop. Ketika dibawa ke rumah sakit, hanya dalam waktu seminggu, sang ayah akhirnya menghembuskan napas terakhir. Setelah ditelusuri, ternyata tetangga yang jaraknya lima rumah biang keladinya. Akhirnya semua orang yang berinteraksi dengan tetangga tersebut harus menjalani tes, dan melakukan isolasi mandiri, ada atau tidak ada gejala.

Ada rasa geram, sesal, sedih yang bercampur jadi satu. Hanya saja tak ada yang bisa Arum lakukan. Hidup harus tetap berjalan. Walau rasa kehilangan suami dan sang ayah mertua masih tetap saja lekat. Malam ini kembali dia terisak, tatkala melihat sang ibu terisak dengan pilu. Hatinya kembali digelayuti kesedihan yang seperti tak terkikis.

“Setelah ini bagaimana ibu akan hidup?” begitu isak sang ibu di pelukan Arum. Pertanyaan yang bahkan Arum sendiri tak bisa menjawab. Posisinya hampir sama dengan sang ibu. Sama-sama kehilangan belahan jiwa. Bedanya sang ibu sudah mengarungi rumah tangganya selama 48 tahun, sedang dirinya baru 15 tahun mengarungi rumah tangga dengan sang suami. Walau begitu tetap saja menyesakkan ketika teringat dia akan berjuang hanya dengan kedua anaknya.

Maut. Sungguh satu kata yang meluluhlantakkan semuanya. Banyak impian yang ingin digapai Arum bersama sang suami. Bahkan impiannya melihat sang anak di pelaminan berdua dengan suaminya ternyata harus pupus. Tak ada yang bisa dilakukan. Bisa dibilang sang suami meninggal karena tugasnya sebagai seorang tenaga kesehatan. Setelah menolong orang-orang yang terinfeksi. Jauh di lubuk hati, ada rasa ikhlas, karena insyaallah sang suami syahid. Tuhan telah menetapkan seperti itu, jadi tak ada lagi yang bisa dilakukan selain mendoakan semoga almarhum mendapatkan tempat terindah.

Rasa sedih dan kehilangan pasti akan tetap ada, hanya nanti seiring berjalannya waktu, pasti ada saatnya dia akan tersenyum saat mengenang sang suami. Semoga rasa kehilangan ini akan menjadikan dirinya lebih kuat menghadapi hidup. Karena hidupnya tak berhenti sampai di sini. Ada dua amanah yang hidupnya bergantung pada dirinya. Dan ada sang ibu mertua yang butuh tempat bersandar. Dia berdoa juga berharap, semoga dikuatkan untuk menghadapi hari esok.
Wanhua, Taipei, Taiwan 30 Mei 2021

Bionarasi:

Lusiana. Seorang single fighter yang sedang berjuang memulihkan diri sendiri dengan menulis.

 

Editor: Erlyna

0

Tulisan terkait

Leave a Reply

Close