CerpenSastra

Rumah Tanpa Jendela

Aku teringat, ketika tak sengaja menemukan sebuah gambar saat membersihkan buku-buku lama. Dulu, David sering mendebatku saat pelajaran menggambar. Namun, hari itu dia diam.

Usia kami baru dua belas tahun. Dan gambar itu akan dipajang di dinding belakang, setelah dipamerkan di depan kelas nantinya.

Aku bahkan tidak pernah mengerti dengan gambar-gambar yang mereka pamerkan saat itu. Kalian mungkin juga akan setuju dengan pendapatku, jika melihatnya dengan mata kepala sendiri.

Hari itu, tiga orang dipilih secara bergilir untuk maju ke depan.

Shanum, anak perempuan yang senang menguncir ekor kuda rambutnya itu, mendapat kesempatan pertama. Ia maju membawa gambar sebuah garis lurus. Ya, hanya gambar garis lurus.

Lebih parah, Shion. Anak laki-laki blasteran itu hanya menggambar sebuah titik di tengah. Apa-apaan!

Dan tentu saja, gambarku yang sederhana. Sebuah segitiga di atas bangun kubus yang kurepresentasikan sebagai rumah. Ada balok persegi panjang di tengah sebagai pintu.

Bu Guru menyuruh kami menjelaskan maksud dari gambar yang kami pilih.
Shanum mengatakan hanya menyukaianya. Dia berkata begini:

“Ini adalah aku. Hidupku.”

Dia mengambil pensil warna dan mulai menggambarkan lengkungan lengkungan tak beraturan. Ia berkata, bahwa itu adalah jalinan takdir dan kenyataan yang saling silang. Manusia tidak dapat melawan takdir, namun mereka diperkenankan memilih jalan terbaik untuk satu tujuan yang sama. Kebahagiaan.

Shion melanjutkan gilirannya tanpa menunggu dipersilakan. Aku melihat Bu Guru yang tercengang dan tak dapat berkata-kata dengan penjelasan Shanum tadi.

“Apa yang kalian lihat dari kertas ini?” Shion memulai dengan pertanyaan.

Tentu saja mereka menjawab sebuah titik di tengah. Dan jangan tanya ukurannya, karena itu hanya sebuah titik kecil.

“Padahal, yang kumaksudkan adalah kertas kosong.”

Semua orang terdiam. Apa-apaan itu! Jelas-jelas ada titik di sana!

“Lihat, tanpa kita sadari, hal itu telah menjadi salah satu sifat buruk alami manusia. Selalu mencari celah untuk melihat setitik kesalahan orang lain, walaupun begitu banyak kebaikan di dalam dirinya.”

Kali ini Bu Guru tersenyum haru pada penjelasan Shion, sedangkan teman-teman hanya melongo dan bungkam. Shion tak memperpanjang penjelasannya, yang berarti kini giliranku.

Aku memandang ke arah sebelah bangku milikku. David dengan wajah muram dan sedih. Aku sudah berusaha menghiburnya sejak tadi.

Aku menarik napas panjang dan kuperlihatkan kepada semua orang. Mereka menatapku dengan “hah?” gambar yang sangat sederhana.

“Raina, bisa kamu jelaskan maksud dari gambar itu? Dan mengapa rumah kamu tak memiliki jendela?” Kali ini Bu Guru yang bertanya.

“Karena aku menggambarkan rumah David.” Bu Guru seperti tersentak dan gaung kesiap mengisi ruang kelas kami hari itu. “Dia bilang, rumahnya yang sekarang sangat sempit. Aku ingin mengajaknya ke rumahku, tetapi dia tidak mau. Dia sendirian di rumah yang lembab tanpa celah dan udara. Hanya ada dinding-dinding yang membekapnya. Gelap tanpa cahaya. Aku berniat akan memberikan jendela pada rumahnya. Supaya dia bisa nyaman untuk kembali ke rumahnya.”

Aku tidak tahu mengapa, tetapi David kemudian tersenyum. Sedangkan, semua orang menatap ngeri seolah mendengar cerita hantu.

Bu Guru mendekatiku, dan memegang kedua lenganku dengan tangan gemetar. “Ra-Raina, Di mana kamu bertemu dengannya?!”

“Kenapa Bu Guru bertanya? Dia masuk dan sedang duduk di bangkunya. Dia terus mendesakku untuk ikut, tetapi, kan aku harus izin kepada Mama dulu.”

Anak-anak lain tiba-tiba menjerit dan berhamburan keluar kelas. Aku tak mengerti mengapa.

“Kenapa mereka berlari?”

“Ra-Raina, Da-David sudah meninggal tiga hari yang lalu.”

End

Heuladienacie:

Penulis amatir penyuka cokelat dan mi. Penyuka drakor ini bisa dihubungi di akun Wattpad, Ig, dan Line: @heuladienacie.

Grup FB KCLK
Halaman FB Kami
Pengurus dan kontributor
Mengirim/Menjadi penulis tetap di Loker Kata

0
Tags

Tulisan terkait

Leave a Reply

Close