CerpenSastra

Melissa

Melissa

Oleh : Ken Lazuardy

 

Pelaksanaan pentas seni HUT SMA Tunas Bangsa tahun 2021 akan berlangsung dua hari lagi, akan tetapi proses dekorasi masih belum selesai.

“Udah jam setengah sebelas nih, Gi. Temen-temen kayaknya udah pada capek.”

“Enak mana? Capek sekarang tapi selesai, atau tertunda besok dan akhirnya pas hari H kita ngedrop? Maksudku gini, besok itu biar tinggal gladi resik aja, kita bisa pulang lebih awal. Jadi, semua panitia dalam kondisi fit pas acara,” jelas Gia—si ketua OSIS—sambil tetap fokus mewarnai sterofoam untuk dekorasi panggung.

“I-iya, juga sih. Gini deh, gimana kalo kita bagi shift aja? Kasian tuh temen-temen yang rumahnya jauh. Kalo kita kan, tinggal werr … aja, udah sampe rumah.”

Good idea, tumben pinter, Sha. Biasanya lemot.”

Sasha hanya tersenyum nyengir mendengar pujian sekaligus ledekan dari Gia.

“Oke, jadi yang di sini biar aku, Sasha sama Dimas aja. Yang lain pulang dulu, deh. Besok pagi finishing aja sama gladi.”

Semua setuju dengan keputusan Gia, panitia yang dimaksud pun pulang ke rumah masing-masing. Kini hanya tinggal mereka bertiga.

“Hmm, aku mau pulang aja, Gi. Kalian nggak takut apa? Ntar didatengin hantu Melissa, baru tahu rasa.”

“Hush, jangan ngomong gitu ah, Dim. Merinding, nih.” Sasha menggeser posisi duduknya mendekat ke Gia.

“Melissa? Si anak pinter yang katanya bunuh diri gara-gara nilainya jeblok itu? Jangan percaya, lagian itu kan cuma cerita serem turun-temurun dari kakak kelas aja buat nakut-nakutin. Udah ah, ayo kerja biar cepet kelar. Kasian tuh Pak Andi nungguin kita sampe selesai.” Gia menjelaskan sambil mempercepat pekerjaannya.

“Oh, iya, ada Pak Andi. Pak guru baruku yang ganteng, pembina OSIS kita yang baik hati.”

“Duh, ngefans banget sih, Sha, sama Pak Andi. Padahal nggak ganteng-ganteng amat, B aja. Oh, iya. Di mana Pak Andi betewe, Gi?” tanya Dimas.

“Nunggu di pos satpam, katanya nemenin Pak Bagyo.”

Setelah satu jam mereka memasang dekorasi panggung dan membersihkan sisa guntingan dan cat yang berserakan, tiba-tiba Sasha terkejut melihat goresan cat di lantai yang membentuk tulisan.

“Gaes, kalian jangan iseng nakut-nakutin, ini nggak lucu.”

“Apaan sih, Sha?”

“Itu tuh lihat, siapa yang nulis?” Sasha menunjuk tulisan di lantai yang bertuliskan “TOLONG, AKU DIDORONG DARI LANTAI TIGA”.

Mereka bertiga terdiam sejenak, hawa dingin mulai merasuk, sejurus kemudian mereka kompak berteriak meminta tolong sambil mengambil langkah seribu tak peduli kaki tersandung batu, yang mereka pikirkan hanya segera sampai di pos satpam. Jarak dari aula sekolah dan pos satpam yang sebenarnya dekat jadi terasa jauh.

“Pak Andi, Pak Bagyo… tolong!”

“Ada apa ini? Ada apa?” tanya Pak Bagyo panik.

“A-anu, Pak. Itu …,” ujar Gia—gadis yang sama sekali tak pernah percaya hal gaib itu—gemetar

“Sini, duduk dulu kalian. Minum dulu. Sampe kaget saya,” ujar Pak Andi menenangkan.

“Ada hantu Melissa, Pak.” Dimas menyahut.

“Ah, yang bener? Kalian lihat dia?” Pak Bagyo kembali bertanya.

“Nggak sih. Tapi kayaknya dia yang nulis di lantai, Pak. Kita kan tadi cuma bertiga di sana, nggak ada yang nulis.” Sasha menjelaskan sambil mengedarkan pandangan, memastikan sekali lagi bahwa mereka tidak diikuti.

“Emang bener ya, Pak? Misteri hantu Melissa itu ada?” tanya Dimas. “Kan Pak Bagyo kerja di sini udah lama.”

“Iya, kejadian itu kalau nggak salah terjadi dua puluh lima tahun yang lalu.” Pandangan Pak Bagyo menerawang jauh, mengingat kejadian misteri yang cukup lama itu. “Anaknya cantik, keturunan Tionghoa. Katanya dapat tekanan dari kedua orang tuanya, dia harus selalu juara kelas. Terus, pas dia kelas tiga, hasil ujian semesternya jeblok karena bertengkar sama pacarnya. Mungkin stres atau depresi gitu. Makanya bunuh diri. Nggak ada yang tahu lompat dari lantai berapa. Karena pas kegiatan belajar mengajar. Semua guru dan siswa ada di dalam kelas.”

“Tapi, itu tulisannya, dia didorong, Pak. Bukan lompat atau bunuh diri.”

“Oh iya? Tulisannya gimana?” Pak Andi yang semula diam, ikut nimbrung.

“Tolong, aku didorong dari lantai ….” Sasha diam sejenak untuk mengingat, “dua. Eh, bener nggak sih gaes?”

“Mana kita tahu, kita nggak sempet baca tulisannya. Keburu takut sih,” sahut Dimas. Gia sebenarnya tahu, hanya saja tak ingin menjawab, mengingatnya saja cukup membuat bulu kuduknya meremang.

“Bukan. Lantai tiga,” sahut Pak Andi.

“Oh, iya ding. Lantai tiga.” Sasha meralat jawabannya.

“Pak Andi tahu ceritanya juga?” Gia bertanya penasaran.

“Iya, tahu dikit. Semua alumni sekolah sini pasti tahu kok cerita itu.”

“Oh, gitu. Pak Andi dulu kan alumnus sini ya.” Sasha menanggapi.

“Iya, Bapak masuk sekitar tahun 1993. Lulus tahun 1996.”

Gia, Dimas dan Pak Bagyo saling melempar pandang. (*)

 

Ken Lazuardy. Perempuan kelahiran November 1990 di Pasuruan, Jawa Timur ini  mencoba menekuni dunia kepenulisan pada bulan Oktober 2019 dengan mengikuti sebuah kelas menulis online. Masih dan akan terus belajar di berbagai grup kepenulisan, salah satunya di Kelas Menulis Loker Kata. Jika ingin berkenalan lebih lanjut, silakan berkunjung ke akun sosial medianya, WA: 082234570275, IG : ken_lazuardy, Facebook : ken_lazuardy.

Editor : Nuke Soeprijono

 

Grup FB KCLK
Halaman FB Kami
Pengurus dan kontributor
Mengirim/Menjadi penulis tetap di Loker Kata

0
Tags

Tulisan terkait

Leave a Reply

Close