Luruh
Oleh: Ann
Perut bagian bawah Nabila keram. Rasa sakit itu bukanlah sesuatu yang baru baginya. Sebulan sekali, selama satu sampai tiga hari, ia selalu mengalami hal serupa. Namun, kali ini, rahimnya yang sedang berkontraksi itu tidak hanya meluruhkan bagian dindingnya saja. Ada calon makhluk hidup yang gagal berkembang di dalam sana, yang sedang diupayakan lebur oleh tablet Misoprostol yang tiga jam lalu ia telan. Membuat mata Nabila turut meluruhkan dinding-dinding kesedihan yang telah membeku selama beberapa bulan terakhir.
Nabila hanya bisa meringkuk di ranjang klinik sambil meringis sesekali. Air matanya kini hampir mengering. Akan tetapi, ia berencana untuk menumpahkannya kembali tatkala suaminya selesai dengan urusan administrasi. Sayang sekali, suaminya tiba hanya untuk pamit.
“Ada eksa ambles. Aku urus dulu, ya. Gak lama, kok,” ucap suami Nabila sambil mengelus kepala istrinya yang basah karena keringat. Kemudian ia mengecup kening Nabila sebelum pergi. Nabila hanya bisa mengembuskan napas lemah.
Setelah kepergian suaminya, Nabila meraih ponsel yang ia taruh di nakas. Dalam posisi tubuh menggulung ke kanan, ibu jarinya membentuk sebuah pola di layar ponsel. Beberapa saat kemudian, ia mengambil potret dirinya sendiri. Ketika melihat hasilnya, ia menggeleng, bibirnya mengatup. Setelah kamera ia arahkan ke tiang penyangga infus, barulah ia tersenyum.
Selanjutnya, ia kembali menggulir layar ponsel hingga masuk ke halaman media sosialnya. Kedua ibu jarinya dengan lincah menyisipkan foto yang baru saja diambil di kolom utas. Tidak lupa, ia juga menambahkan keterangan singkat, “Menunggu kuretase.” Lalu ia mengunggahnya dalam keadaan hidung yang mulai pedih.
Sambil menunggu tanggapan dari teman-teman di dunia maya, ia mengusap layar ponsel dari bawah ke atas secara perlahan, menyusuri kembali foto-foto yang telah ia unggah. Jantungnya berdebar lebih cepat tatkala ia melihat hasil USG bulan lalu. Saat itu, janinnya seukuran kacang merah. Hati Nabila lemas tatkala melihat kolom komentar yang dibanjiri ucapan selamat. Ia kemudian memikirkan bagaimana respons teman-teman mayanya nanti setelah mengetahui bahwa kacang merah itu tidak akan pernah tumbuh.
Gayung bersambut, letupan-letupan notifikasi akhirnya terdengar, membikin darah Nabila memanas. Ia bahkan mengubah posisinya menjadi duduk bersandar. Dengan terburu-buru, ia membuka notifikasi-notifikasi yang mulai terdengar ramai. Senyum tipis mencuat tatkala ucapan belasungkawa perlahan memenuhi kolom komentar. Beberapa dari mereka bahkan sampai mengirim pesan pribadi. Kedua ibu jari Nabila makin gesit menari di atas papan ketik virtual.
Merasa terhibur setelah membaca tanggapan dari teman-teman maya, akhirnya Nabila sampai pada satu komentar yang membuat area leher hingga punggungnya membeku. “Terlalu koar-koar itu tidak baik. Pamali!”
Meski demikian, otak Nabila masih sanggup memerintah ibu jarinya untuk mengirim balasan. “Maksudnya?”
“Bahaya ‘ain,” balas kawan mayanya lagi.
“Ah, iya. Terima kasih atas perhatiannya.”
Energi Nabila langsung anjlok. Tubuhnya merosot hingga ia kembali ke posisi semula. Hanya saja, kali ini iya membiarkan matanya menatap langit-langit kamar yang terlampau sepi. Tidak ada satu pun aktivitas serangga di atas sana. Sementara itu, letupan-letupan kecil di ponselnya makin semarak.
“Cih, memangnya dia siapa? Sok ngatur banget!” keluh Nabila sembari melihat-lihat media sosialnya lagi. Lalu, ia dibuat tersentak untuk kedua kalinya. Kali ini ia tampak semringah. Lantas Nabila menerawang sambil memainkan jemarinya, menghitung sudah berapa lama ia dan akun bernama Eris tidak saling bertukar kabar.
“Kamu keguguran, Bil?”
Saat membaca pesan tersebut, Nabila seakan-akan bisa mendengar suara Eris yang lembut dan mendayu-dayu.
“Iya, Ris.”
“Kamu sekarang di mana?”
“Samarinda, ngikut suami.”
“Kerja?”
“Udah enggak, Ris.”
“Kira-kira kenapa bisa keguguran?”
“Entah. Tau-tau kata dokter rahimku kosong. Hiks.”
“Bulan depan aku lahiran. Doain, ya.”
“Waaah, semoga lancar, ya, Ris.” Bibir Nabila melengkung. Bola matanya mendadak hangat.
Tiba-tiba pintu terbuka. Seorang perawat datang untuk memeriksa mulut rahim Nabila. Ia mengernyit. “Masih belum terbuka.” Kemudian ia menatap Nabila sambil menyungging, “Sebentar lagi dokternya datang, ya, Bu.”
“Ya, Sus,” ucap Nabila sambil mengangguk. Lalu ia memamerkan giginya yang rapi hingga perawat itu hilang di balik pintu.
Nabila kembali berkutat dengan ponselnya. Bibirnya lantas mengerucut ketika ia tidak menemukan balasan dari Eris. “Hanya segitu saja? Gak jawab amin kek, atau apaaa gitu?”
Tidak mau terperangkap dalam prasangka, Nabila memutuskan meninggalkan kotak pesan. Selanjutnya, yang ia lakukan hanyalah menjelajahi beranda media sosialnya. Ia terus mengusap-usap layar ponsel sampai ia menemukan utas yang baru dibuat Eris beberapa detik yang lalu.
“Padahal kerja dari pagi sampai sore, tapi Debay tetap sehat. Alhamdulillah. Cant wait to meet you, Debay.”
Mata Nabila terpaku pada sederet kata-kata yang seketika memicu kontraksi di rahimnya. Ia ingin berpaling, tetapi ia masih ingin mencernanya sekali lagi.
(*)
Lampung, 25 September 2026
Ann lahir di Bandung. Sekarang menetap di Lampung.
