Secangkir Teh

Secangkir Teh

Secangkir Teh

Oleh : Ika Mulyani

 

Saatnya telah tiba untuk hari ini. Aku didudukkan, hingga bagian-bagian tubuhku terlipat membentuk sudut siku-siku, se-siku sandaran kursi kayu yang menyangga tubuhku. Bagian atas tubuhku siku-siku dengan pahaku, paha siku-siku dengan betis yang menjuntai ke lantai, lengan atas siku-siku dengan tangan yang menjulur di atas paha. Telapak kaki yang menjejak rata di lantai, juga membuat sudut siku-siku dengan betisku.

 

Namun, kepalaku terkulai, mengikuti tarikan gravitasi. Pasti karena rambutku terlalu panjang, juga terlalu lebat, atau bisa jadi juga karena kepalaku terlalu besar.

 

Di depanku ada meja kayu, tingginya sedikit lebih tinggi dari bantalan kursi yang kududuki. Di atas meja itu ada secangkir teh, yang baunya sungguh sudah terasa memuakkan bagiku. Meskipun demikian, aku tetap harus mengambil cangkir itu, mengangkatnya hingga bibir cangkir sejajar dengan hidungku, lalu menghidu baunya yang luar biasa menyesakkan itu. Lidahku harus mencecap cairan pekat dan pahit itu sedemikian rupa, seolah ia adalah minuman terlezat di dunia.

 

Bagaimana dengan kepalaku yang tadi terkulai? Akan ada yang menarik bagian belakang kepalaku hingga jika dilihat dari samping, garis wajahku akan tegak lurus, lagi-lagi membentuk sudut siku-siku, dengan garis bibir cangkir.

 

Itu yang harus kulakukan dalam setiap sesi minum teh, dua kali dalam satu putaran siang dan malam, setiap matahari mulai terlihat dari jendela di sebelah kanan itu, dan setiap matahari terlihat lagi tapi dari jendela yang sebelah kiri. Mengapa harus? Karena itulah yang dikehendaki untukku, suka tidak suka.

 

Aku bosan! Aku sudah muak dengan bau teh itu! Tak terhitung berapa kali sudah kujalani rutinitas ini. Aku ingin minuman yang lain. Yang mungkin berwarna cerah dan berbau harum. Tanpa disuruh, aku akan menyesapnya sepenuh perasaan, sepanjang hari dan sepanjang malam bila perlu.

 

Aku harus mencari cara, agar keinginanku itu bisa terpenuhi.

 

Tapi bagaimana?

 

Aku tidak bisa menggerakkan bibirku sendiri untuk bersuara. Bahkan aku tidak bisa meski sekadar mengedipkan mata, bila Dia tidak menggerakkan kelopak mataku hingga menutup lalu membuka lagi.

 

Sepenuhnya Dia yang menggerakkan seluruh bagian tubuhku, tanpa memandang apa yang menjadi keinginanku. Padahal, aku tahu bahwa Dia selalu tahu apa yang sebenarnya kuinginkan. Namun entah mengapa, selama ini Dia hanya melakukan apa yang Dia inginkan untuk kulakukan.

 

Ah. Barangkali nanti ada jalan. Untuk kali ini, mungkin untuk yang terakhir kali, akan kuhirup teh sialan itu.

 

Teh sudah terhidang di meja, aku bisa mencium baunya yang sudah sangat kukenal. Namun hingga matahari yang kini sedang menyorot dari jendela sebelah kiri, makin turun, makin turun, terus makin turun—dan aku yakin sebentar lagi cahayanya akan menghilang—kepalaku masih terkulai, tanganku masih menjulur di atas paha, membentuk sudut siku-siku dengan lengan atas.

 

Apa yang terjadi? Apakah Dia lupa untuk menggerakkan tanganku? Tapi Dia tidak pernah lupa.

 

Sudut mataku tiba-tiba menangkap kilatan warna yang sangat terang. Sekaligus dua warna yang berbeda. Bukan matahari. Aku yakin cahaya matahari tidak pernah berwarna merah dan hijau seperti itu. Ya, aku yakin itu yang disebut hijau, dan yang satu lagi merah. Baru saja aku merasa Dia mengembuskan pengetahuan baru itu ke dalam kepalaku.

 

Kepalaku menengadah—akhirnya Dia menarik bagian belakang kepalaku.

 

Aku tak percaya pada penglihatanku. Ini luar biasa! Rupanya, tanpa aku perlu mencari cara, kali ini Dia mengabulkan keinginanku. Kalau begitu, bukankah ini berarti keinginanku sejalan dengan kehendak Dia?

 

Di samping kiri dan kanan cangkir teh laknat itu, masing-masing ada gelas kristal yang indah. Isinya lebih indah lagi. Merah cerah di kanan dan hijau terang di kiri. Sungguh warna yang luar biasa! Aromanya pun sungguh sedap, yang kuyakin akan makin sedap bila cangkir teh disingkirkan.

 

Tanganku, yang kanan, terangkat, terjulur, lalu berhenti, menggantung di udara. Aku makin yakin, aku telah mendapat restu untuk memperoleh apa yang selama ini kuinginkan.

 

Sebuah pengetahuan baru lain berembus ke dalam kepalaku: kali ini aku bisa memilih, mana dari ketiganya yang akan kuangkat dan kuhirup.

 

Yang jelas, tentu saja, aku tidak akan memilih yang di tengah. Lalu, yang mana yang sebaiknya kuambil? Yang isinya merah? Atau hijau? Warna mereka sama-sama indah, aroma keduanya sama-sama sedap, meski dalam nuansa yang berbeda.

 

Oh, si merah itu ceri, sementara aroma si hijau disebut pakis. Pengetahuan baru berembus lagi.

 

Jadi, yang mana yang sebaiknya kupilih? Atau, tidak bisakah aku memilih keduanya?

 

“Tidak!” Kata itu berembus sangat keras ke dalam kepalaku. Dan setiap pilihan punya konsekuensi masing-masing yang berbeda, yang harus kuhadapi kelak, ketika matahari sudah benar-benar menghilang dan tidak akan muncul lagi dari jendela sebelah kanan. Dan setelah tiga putaran masa, matahari justru akan muncul dari jendela sebelah kiri, bergerak berlawanan arah dari biasanya.

 

Tanganku masih menggantung di udara, sejajar dengan garis paha. Mana yang harus kupilih? Merah? Atau hijau? Apa? Aku harus menunggu sampai aku tahu apa konsekuensi dari masing-masing pilihan itu?

 

Tapi kapan? Aku sudah tidak sabar. Lama sekali belum ada lagi yang berembus ke dalam kepalaku.

 

Baiklah. Kucoba saja yang berwarna hijau itu. Sedikit saja dulu.

 

Ajaib. Kali ini aku bisa menggerakkan tangan dengan kuasaku sendiri. Dan … Ah, ternyata bau si hijau ini sedap sekali!

 

Aku tergoda untuk terus menghirup, menghirup, dan menghirup, tanpa menyadari bahwa kepalaku makin besar, makin besar, dan makin besar. Tarikan gravitasi di kepalaku makin kuat, membuat seluruh bagian atas tubuhku ambruk ke atas meja, hingga perutku sejajar dan berimpit dengan paha, dengan posisi wajah menghadap ke arah jendela sebelah kiri. Aku kembali kehilangan kendali atas tubuhku, membuat rasa sesal memenuhi seluruh bagian hatiku. Aku sudah salah pilih!

 

Gelas kristal yang tadi kupegang, juga yang berisi cairan merah, jatuh ke lantai, pecah berderai. Sementara itu, cangkir teh terguling tepat ke depan hidungku, tidak ikut jatuh ke lantai, tidak pecah. Isinya berleleran, membuat sebagian rambut dan seluruh pipi kananku basah.

 

Aroma teh mau tak mau menyeruak masuk ke dalam hidungku. Anehnya, kali ini baunya terasa berbeda bagi penciumanku. Memang masih bau teh yang biasa, tapi alih-alih muak, justru aku merasa tenang dan damai. Kemudian, aku bisa merasakan kepalaku yang membengkak berangsur-angsur menyusut. Aku yakin sekarang kepalaku lebih kecil sedikit dari ukuran biasanya, karena terasa lebih ringan ketika leher digerakkan.

 

Eh, leherku bergerak? Aku yang menggerakkannya sendiri!

 

Tiba-tiba sebersit rasa penasaran muncul di benakku. Seperti apa aroma si merah?

 

Aku menggerakkan tangan, ke arah leleran si merah di lantai yang masih bisa terjangkau ujung jari. Kucium aromanya. Ah, jauh lebih harum dari si hijau! Rasa penasaran makin kuat. Kujulurkan lidah, kujilat ujung jari yang dipenuhi si merah yang ternyata kental dan lengket itu.

 

Oh. Apa yang terjadi dengan lidahku?! Panas sekali! Bisakah teh itu mengobatinya? Seperti tadi? Masihkah ada teh tersisa? []

 

Ciawi, 21 Oktober 2026

 

Ika Mulyani, penyuka teh tawar hangat yang pekat sebagai minuman saat bersantap di warung makan.