Gadis Kecil Ayah

Gadis Kecil Ayah

Gadis Kecil Ayah

Oleh : Ika Mulyani

Bukannya aku tidak suka bila kedua mertuaku datang berkunjung. Hanya saja ….

Kami menempati rumah kontrakan kecil tanpa kamar—khas rumah sewaan di kota besar—dan hanya terdiri dari tiga ruang berderet yang dibatasi dinding tanpa daun pintu, kecuali pintu kamar mandi di sudut belakang.

Pada awalnya, Bapak dan Ibu melarang keras saat aku akan memboyong putri mereka ke sini.

“Ketiga masmu sudah merantau jauh. Mereka pulang hanya setahun sekali. Masa kamu juga ikut pergi ninggalin Ibu sama Bapak?” Ibu mengiba dengan mata berkaca.

Namun, aku berhasil meyakinkan mereka, bahwa sesulit apa pun, penting bagi setiap keluarga untuk hidup mandiri, tidak lagi bernaung di bawah ketiak orang tua.

“Lagi pula, kami tidak terlalu jauh dari sini, hanya perlu sekitar dua jam perjalanan. Kami bisa sering-sering sowan. Ibu-Bapak juga gampang kalau mau datang ke rumah.”

Dan begitulah. Hampir setiap bulan mereka berkunjung di akhir pekan, dan menginap semalam-dua malam. Mitha—yang selalu dimanjakan Bapak dan Ibu sejak kecil—selalu terlihat senang menerima kedatangan kedua orang tuanya.

Masalah mulai timbul—setidaknya bagiku—saat Ibu pensiun dari profesinya sebagai guru setahun lalu.

Sejak itu, kunjungan mereka tidak pernah sebentar. Paling cepat seminggu, bahkan pernah sampai tiga pekan. Betah sekali keduanya di sini. Mungkin karena Mitha adalah anak bungsu, putri satu-satunya, kesayangan Ibu dan Bapak.

Saat itu—empat tahun usia pernikahan—kami tengah menjalani program kehamilan. Kehadiran mereka di rumah dengan tata ruang seperti itu, membuat kami jadi tidak bebas, bahkan tidak bisa sama sekali, untuk bermesraan. Sedikit merangkul saja aku sungkan, apalagi mengecup atau ….

Meski begitu aku bersyukur saat program kehamilan berhasil setahun kemudian.

Sepekan lalu, istriku mengalami flek di usia kehamilannya yang baru menginjak tiga bulan. Menurut dokter saat pemeriksaan, kondisi kehamilan Mitha cukup rentan, dan ia meresepkan vitamin penguat kandungan. Meski tidak harus bed rest, ibu calon anakku itu tidak boleh terlalu lelah.

Kami harus menunggu lima tahun untuk kehamilan pertama ini. Tentu saja kami akan menjaganya baik-baik. Setelah kubujuk dan rayu, Mitha akhirnya bersedia untuk berhenti dari pekerjaannya, tidak hanya cuti panjang hingga kondisi kandungan membaik, seperti rencana awalnya.

Dengan kehadiran kedua orang tuanya—seperti hari ini—Mitha memang jadi ada yang menemani. Aku tenang meninggalkannya di rumah saat pergi bekerja.

Akan tetapi, ada masalah lain lagi, setidaknya bagiku. Ibu dan Bapak khasnya orang tua, cerewet sekali. Semua sebisa mungkin harus diatur sesuai keinginan mereka. Demi kebaikan kalian, begitu selalu mereka berdalih.

Mitha cenderung mengamini semua kehendak orang tuanya, tetapi tidak denganku. Bila menurutku ada yang tidak sesuai, aku harus pandai-pandai berargumen, agar Ibu dan Bapak bisa menerima penolakanku tanpa rasa sakit hati, dan Mitha mau mengikuti pendapatku.

Seperti sekarang ini.

Aku yang tengah berada di dalam kamar mandi, dapat dengan jelas mendengar perbincangan mereka bertiga di ruang depan.

“Kenapa berhenti kerja? Kan bisa cuti di luar tanggungan? Nanti selesai cuti lahiran bisa lanjut ngantor.” Terdengar suara Bapak.

“Iya. Sayang banget, Tha. Nanti anakmu bisa dititipin sama kami. Rumah Ibu jadi rame, nanti. Ibu juga jadi ada kesibukan. Ibu sering bosan, eh, di rumah.” Ibu menimpali.

Dari nada penuh antusiasnya, aku bisa membayangkan raut muka dan sorot mata Ibu saat berbicara, membuatku takut pendirian Mitha akan tergoyahkan.

Baru tiga hari lalu aku berhasil meyakinkannya untuk resign. Demi anak kita, kataku. Aku juga mencoba membuat ia mengerti dan menyadari, bahwa tugas seorang ibu itu amat mulia. Anak kami akan sehat bahagia dan bisa diarahkan dengan baik, hingga insyaallah jadi orang sukses, bila mendapat pengasuhan total dari ayah-ibunya, tanpa campur tangan baby sitter atau kakek-neneknya sekalipun.

Susah payah kucari kisah-kisah inspiratif seputar pengasuhan dan pendidikan anak, juga termasuk perkembangan kesehatannya, dari berbagai sumber tepercaya.

“Mitha pingin ngasuh sendiri anak Mitha, Bu. Mitha enggak mau dia sering ditinggal mamanya. Emm … kayak Mitha dulu.”

Jawaban istriku tersayang sungguh melegakan hatiku. Namun, kalimat selanjutnya yang kudengar membuatku kembali sedikit resah, dan agak kesal.

“Tapi, kan, kalau tetep kerja kamu jadi bisa bantu Hardi cari uang. Biar kalian bisa beli rumah, enggak ngontrak terus.”

Penuturan Bapak sungguh menohok harga diriku sebagai laki-laki.

Hm. Akan kubuktikan, aku—tanpa dibantu Mitha atau siapa pun—mampu membelikan anak-istriku rumah yang nyaman. Insyaallah.

Setelah tujuh tahun bekerja, posisiku di kantor sudah lumayan. Hari ini, aku memperoleh bonus sekaligus promosi jabatan, hingga bisa mengganti cincin kawin milik Mitha yang kupinjam setahun lalu, saat kami memulai program kehamilan. Selain itu, dengan tambahan gaji yang kuperoleh, kami bisa mulai menabung untuk membeli rumah, bahkan mungkin mobil.

Meski dengan susah payah, sepulang kantor tadi, aku berhasil mendapatkan cincin dengan model persis sama, di toko perhiasan ke-21 yang kudatangi. Tadinya, aku berencana menjadikannya sebagai kejutan, tetapi … ambyar karena kedatangan Ibu dan Bapak. Ah, sudahlah.

***

Putriku cantik sekali. Kuberi ia nama Aisya. Dengan penuh kebanggaan, kulantunkan azan dan ikamah di masing-masing telinga mungilnya.

Putriku tumbuh jadi gadis yang cantik dan pintar. Bila ibunya adalah satu-satunya putri di antara empat anak Ibu-Bapak, Aisya adalah putri kami satu-satunya.

Setelah melahirkan Aisya, Mitha tidak pernah hamil lagi, entah mengapa. Padahal, kami ingin sekali memberi Aisya adik. Hingga sekarang putri kami sudah beranjak dewasa, keinginan itu tidak terwujud. Empat program kehamilan yang kami jalani, tidak ada yang berhasil.

Mungkinkah ini sebagai “kompensasi” dari terkabulnya keinginanku untuk segera memiliki rumah sendiri dalam waktu relatif singkat? Barangkali memang manusia tidak bisa mendapatkan semua keinginannya sekaligus. Ada batasnya.

Hanya dalam waktu tiga tahun setelah kelahiran Aisya, kami sudah menempati rumah baru yang sangat nyaman. Ada tiga kamar tidur, hingga tidak masalah akan berapa lama Ibu dan Bapak berkunjung. Karierku terus menanjak. Bisnis yang Mitha tekuni secara online dari rumah, berkembang pesat. Akan tetapi, keturunan kami tidak juga bertambah.

***

Waktu terus melesat. Aisya menjalani hidupnya dengan ceria dan penuh semangat dalam pengasuhan total dari ibunya. Peringkat tiga besar selalu diraihnya selama masa sekolah. Bahkan putriku meraih predikat lulusan terbaik saat SMA. Di akhir masa kuliah, ia berhasil lulus dengan predikat cum laude, dan kembali menjadi lulusan terbaik di angkatannya. Sungguh membanggakan.

Kami menggelar acara syukuran dengan mengundang semua teman dan kerabat. Ramainya seolah kami tengah menggelar resepsi pernikahan.

Tidak lama selepas wisuda, Aisya mendapatkan pekerjaan di sebuah perusahaan besar tempat ia pernah magang di masa perkuliahannya. Putriku yang cerdas dan luwes dalam bergaul, perlahan menapaki kariernya dengan cemerlang.

Suatu hari, saat usia Aisya menginjak angka seperempat abad, datanglah seorang pria melamarnya. Kualifikasi pemuda itu sungguh tidak memenuhi ekspektasiku tentang calon menantu ideal. Namun, melihat rona bahagia terpancar dari wajah Aisya, aku pun mengiyakan lamaran itu.

Kecemasanku tentang apakah pernikahan Aisya akan bahagia, perlahan terhapuskan. Aku bisa merasakan aura kebahagiaan terpancar dari wajah putriku dan suaminya di setiap kunjungan kami. Aura itu juga memenuhi rumah mungil mereka.

Betapa aku ingin berlama-lama ada di sana, turut merasakan aura positif itu. Akan tetapi, Mitha selalu membuatku merasakan déjà vu dengan mengingatkan suaminya ini pada kenangan masa lalu, tentang kesalku saat mendapat kunjungan panjang Ibu dan Bapak. Maka, rindu pada Aisya lebih banyak kutuntaskan lewat video call.

***

Berita pengunduran diri Aisya dari pekerjaannya, sungguh membuatku gusar.

“Gimana, sih, Aisya, main resign begitu aja?! Baru saja dia dapat promosi. Belum ada sebulan kayaknya, ‘kan? Sayang banget! Dia kan pinter. Enggak kepake itu nanti ilmunya kalau cuma di rumah.”

Mitha berusaha menenangkan. Wanita yang masih tetap cantik di usianya yang sudah lebih dari setengah abad itu, menggenggam jemariku dengan erat. Aku menghela napas panjang.

“Mas, ingat enggak dulu pernah merayu aku?” tanyanya sambil menyentuh bibirku dengan ujung jari tangannya yang bebas.

Setiap Mitha menyentuh bagian tubuhku yang ini, entah mengapa, emosi negatif apa pun di dalam diriku akan melemah. Aku mencoba tersenyum, meski hati masih belum sepenuhnya tenang.

“Rayuan yang mana? Kapan? Tiap hari, kan, aku rayu kamu.”

Mitha terkekeh, dan mendaratkan cubitan di perutku, membuatku sedikit mengaduh.

“Duluu, Mas ngerayu aku untuk mau full jadi emak-emak. Padahal karierku lagi bagus banget. Stay at home. Jadi ratu di rumah, itu tugas mulia. Kalau berhasil, balasannya surga. Gitu kata Mas. Ingat?”

Aku tercenung.

“Mas juga ngotot untuk ngontrak rumah, hidup terpisah dari Ibu-Bapak. Biar mereka tidak … apa istilah Mas waktu itu? Merecoki? Mas bilang, ‘Aku kepala rumah tangga, berkuasa untuk ngatur rumah tanggaku, tanpa intervensi siapa pun!’. Ingat?”

Aku menunduk. Ya, tentu saja aku ingat. Namun ….

“Jadi, apa hak kita untuk mengatur-atur hidup Aisya dengan suaminya?”

Aku mengangkat wajah, dan menemukan senyum dan tatapan lembut dari Mitha.

“Aisya sudah jadi milik suaminya, Mas. Tugas kita membersamainya sudah berakhir sejak Mas ucapkan ijab pernikahan mereka. Sekarang kita hanya bisa sekadar mendampingi, berjalan mengiringi, dan meluruskan bila ada yang menyimpang dari jalan kebaikan.”

Aku merasa lidah ini kelu. Seketika, aku seolah kembali ke masa kami—aku dan Mitha—menjadi raja dan ratu sehari. Selama duduk di pelaminan, benakku dipenuhi berbagai gambaran mimpi kehidupan rumah tangga ideal yang ingin kuwujudkan.

“Ini seperti dulu kita tidak diizinkan untuk ikut masuk ke kelas pertama Aisya di sekolah. Iya, kan, Mas? Kita cuma bisa mengintip dari jendela.”

Pada dasarnya, yang dialami Aisya adalah apa yang dulu dialami pula oleh istriku. Oleh kami. Namun sungguh, memahami keputusan Aisya—gadis kecilku—yang sejatinya juga pernah kami lakukan, tidaklah semudah itu. (*)

Ciawi, 20 Agustus 2020

Ika Mulyani, lahir di Bogor, 44 tahun lalu. Di sela kesibukannya sebagai ibu dari dua anak, ia juga mengajar matematika di sebuah bimbel. Hobi membaca membuatnya mencoba untuk menulis, dengan harapan dapat berbagi sedikit ilmu dan inspirasi. Salah satu mimpinya adalah, menulis buku “Fun Math for Kids and Moms”.

 

Editor : Fitri Fatimah

Leave a Reply