Akhir Kisah Sebuah Buku

Akhir Kisah Sebuah Buku

Akhir Kisah Sebuah Buku 
Oleh: Nayata

Cerpen Terbaik ke-6 #Tantangan_Lokit_9

Rasanya sesak di atas sini. Terdiam dan membisu, tak mampu berbuat apap un untukmu. Setidaknya membuatmu tersenyum, bahkan tak jarang tertawa bahagia. Untukmu, karena aku.

***

Aku merasa bahagia saat itu. Saat pertama kali kau memilihku di antara begitu banyak pilihan yang mengantri di depanmu. Dengan wajah semringah yang mengembang dari ujung bibirmu, aku tahu kau juga bahagia memilihku. Aku merasa sangat beruntung menjadi milikmu.

Dalam keadaan apa pun kau selalu bersamaku, menggenggamku erat, tak terlepaskan. Meskipun orang-orang asing itu mulai menginginkanku. Tapi kau selalu saja berusaha mempertahankanku bersamamu. Kau bilang aku adalah kesayanganmu. Tak boleh lecet, tergores, atau terluka. Apalagi jika harus sampai kehilanganku, kau selalu menggeleng keras tak siap bila itu yang terjadi.

“Kau boleh meminjam yang lain. Tapi maafkan aku, jangan buku ini.” Kau mendekapku erat sore itu, saat seorang teman dekatmu datang memintaku bersamanya meski hanya dua atau tiga hari.

Dia terlihat kecewa. Meski merasa harus memaklumimu.

“Ini buku kesayanganku….” ucapmu lirih.

Aku terenyuh dan luluh. Merasakan getaran ketulusan menjalar di setiap serat kulitku, saat kau mengucapkan itu.

Aku tentu tahu itu bukan omong kosong. Selalu. Saat ingin tidur kau sempatkan membacaku, meski sudah puluhan kali kau telah sampai hingga ujung terakhir kata-kata yang tersusun indah dalam lembaranku. Entah kalimat yang mana membuatmu tersihir denganku, hingga kau begitu candu. Saat bel istirahat di sekolah, saat teman-temanmu asyik berhamburan ke kantin. Kau dengan tenang dan senang membawaku ke perpustakaan. Memilih tempat paling nyaman bersamaku. Kemudian hal yang selalu kutunggu itu terjadi. Kau tersenyum berulang kali, dengan binar mata yang berpendar dari manik cokelatmu.

Namun setelah bertahun-tahun berlalu, kau mulai berubah. Perhatian dan rasa sayang darimu telah teralihkan. Meski perlahan, tapi itu membuatku sedih. Awalnya kau mulai tertarik dengan buku-buku baru, dengan sampul yang lebih bagus, juga cerita yang lebih menarik. Kisah-kisah yang bukan sekedar membuat senyum melengkung di wajahmu, tapi amarah, air mata, dan geram kerap kali kulihat, dan anehnya selalu berakhir dengan senyum puas saat kau sampai di ujungnya.

“Wow … ini keren! Unpredictable!”

Malam itu kudengar kau berteriak histeris dari atas ranjang, tempat favoritmu membaca buku. Berjingkrak kegirangan, bertingkah seperti usiamu saat pertama kali membacaku. Aku tahu, kau baru selesai membaca buku yang kau beli tadi pagi.

Sedang aku, perlahan mulai kau abaikan. Hanya berdiri murung di antara deretan buku lain di atas meja. Semakin hari semakin tergeser ke belakang, ditinggalkan. Bahkan menyentuh kulitku saja sudah tidak pernah.

Entah hari apa itu, kau mengambilku dari deretan buku di atas meja. Senang? Tentu. Aku sedang bersiap-siap untuk kau baca lagi. Tapi … yang terjadi ternyata tak sesuai dugaanku.

Setelah menepuk-nepuk pelan kulit luarku, membersihkan dari debu yang mungkin menempel, kau meletakkanku di atas rak buku tinggi dekat meja. Menyimpanku di antara deretan buku yang sudah lusuh dan berdebu. Itu artinya aku tidak kau butuhkan lagi. Tersimpan dan tak terbaca kembali, kecuali jika ada hal penting yang ingin kau cari. Begitulah yang kusaksikan selama ini, bagaimana kau memperlakukan buku-buku di atas rak buku yang kini jadi tempat tinggal baru.

Rasanya sesak di atas sini. Terdiam dan membisu, tak mampu berbuat apa pun untukmu. Setidaknya membuatmu tersenyum, bahkan tak jarang tertawa bahagia. Untukmu, karena aku. Seperti saat-saat itu.

Seandainya bisa berdoa seperti yang sering kau lakukan, aku ingin agar kau tetap abadi dalam usia belasan tahun lalu. Bersama-sama menghabiskan waktu, di mana pun, kapan pun. Tentu saja bersamaku. Tidak ada buku-buku baru selain aku, tidak ada ekspresi-ekspresi aneh selain tersenyum atau tertawa dari wajahmu. Aku yang selalu kau banggakan di depan teman-temanmu, kau jaga dan kau sayang sepenuh hati. Tapi … aku hanya buku.

“Oh ya? Anak-anak itu membutuhkan buku-buku bacaan juga?” Siang terik sepulang dari tempat kerja, sesaat setelah melepaskan kaos kaki dan meletakkan asal tas selempang di atas ranjang, kau menerima telepon dari seseorang.

“Tentu saja aku punya!”

“Dengan senang hati, kebetulan sekali … beberapa buku bacaan waktu aku kecil masih tersimpan rapi di rak. Aku yakin akan cocok dibaca anak-anak itu.”

Dengan wajah bersemangat setelah telepon itu terputus, kau segera menyiapkan sebuah kardus bekas berukuran sedang. Lantas memilah-milah buku-buku di atas rak, kemudian meletakkannya di dalam kardus.

Oh tidak! Apakah aku juga akan kau masukkan ke dalam sana? Kuharap tidak. Kuharap aku tetap jadi kesayanganmu, meskipun sudah tak berminat kau baca lagi. Kumohon, aku tidak ingin berpisah denganmu.

Tap tap tap.

Hingga tibalah giliran deretan buku tempatku berdiri yang kau pilah-pilah. Satu per satu barisan yang terbentuk mulai kosong. Meski masih terlihat ada rasa sayang yang tersirat saat kau memperhatikan beberapa dari mereka, sebelum memasukkannya ke kardus. Dan … sampailah tanganmu menggapaiku.

Benarkah kau akan memberikanku pada anak-anak itu? Tidakkah kau jadikan aku pengecualian dari yang lain? Aku … aku ingin tetap jadi buku kesayanganmu. Tak bisakah?

“Huft … buku terakhir,” ucapmu sembari mengusap pelan kulit luarku. Perlahan membuka lembar demi lembar kertasku. Bukan membaca, hanya mengamati deretan alfabet berukuran besar dan berjarak lebar di dalamku. Juga gambar warna-warni yang menghiasi.

Sangat berharap kau berubah pikiran.

“Buku ini … buku kesayanganku.” Kau memperhatikanku lekat. Aku tahu ingatanmu sedang mengembara jauh ke belasan tahun silam yang kau habiskan bersamaku.

Sekarang kau mendekapku erat. Seperti yang selalu kau lakukan dulu. Memejamkan mata, mengembuskan napas pelan. Seperti mencoba mengikhlaskan sesuatu dalam dirimu.

“Buku kesayangan … sampai kapan pun kau akan tetap jadi kesayanganku. Tapi, mereka jauh lebih membutuhkanmu. Darimu aku berharap mereka memiliki senyuman dan tawa riang saat membacamu. Seperti aku dulu. Maafkan aku, meski berat … semoga kau akan jadi kesayangan mereka juga.”

Kau meletakkanku pelan di atas tumpukan buku-buku lainnya di dalam kardus. Kemudian menutupnya. Baiklah, inilah akhir kisahku, sebuah buku kesayanganmu.(*)

Lombok, 05 November 2018.

Nayata, a weird, a daydreamer. Seorang ibu muda penyuka biru dan penikmat nasi goreng. Masih awam dalam dunia literasi, tapi sangat semangat untuk terus belajar.

Tantangan Lokit adalah lomba menulis yang diselenggarakan di grup KCLK

Grup FB KCLK
Halaman FB Kami
Pengurus dan kontributor
Mengirim/Menjadi penulis tetap di Loker Kata