Roti Terbaik
Oleh: M Indah
Lima tanda hati, nol komentar.
Aku kaget karena tiga puluh menit telah berlalu sejak diunggah, foto roti sisir terbaik hasil percobaan selama beberapa hari ini hanya mendapatkan lima tanda hati. Memang pengikutku di Instagram belum sampai ribuan, tetapi biasanya paling sedikit lima puluhan orang yang memberi tanda hati. Itu pun tak sampai lima belas menit setelah konten kuunggah. Bagaimana mungkin konten roti hitam legam, karena kelamaan dipanggang di oven yang suhunya terlalu tinggi, dua hari lalu lebih banyak disukai dan mendapatkan komentar daripada roti terbaikku hari ini?
Aku mulai menggulir ponsel untuk melihat unggahan-unggahan sebelumnya, memperhatikan satu per satu foto dan video itu dengan teliti. Bahkan, kubaca ulang semua takarir yang kusematkan, berharap menemukan petunjuk mengapa unggahanku kali ini sepi peminat. Tak lupa kubuka semua komentar yang muncul dalam setiap unggahan, yang rata-rata berisi ucapan penyemangat agar aku tidak berhenti mencoba.
Sesuai saran AI, aku sudah mengatur waktu unggahan agar sama dengan yang sebelum-sebelumnya, supaya konsistensiku terbaca algoritma dan unggahan terbaru lebih cepat mencapai jangkauan yang luas. Aku juga meminta AI untuk mengubah latar foto menjadi lebih estetik seolah rotiku dibuat di sebuah dapur milik chef profesional. Hanya saja, foto roti itu asli tanpa edit. Kupikir kilau cantik roti berlapis mentega itu akan lebih menonjol jika dipadukan dengan latar meja dapur berbahan kayu dengan sisa tepung berserakan dan tambahan ornamen biji gandum yang masih menempel di tangkainya. Selain itu, foto proses pembuatan roti pun sudah kupilih dengan ketat agar mereka yang melihat dapat mengikuti perjalanan hadirnya si roti sisir yang berhasil mengembang dengan bentuk sempurna itu, tanpa merasa aku “oversharing”.
Aku juga sudah menahan diri untuk tidak terlalu sering menengok laman Instagramku dan mengecek siapa saja yang telah membubuhkan tanda hati atau melemparkan komentar. Sengaja aku berselancar ke unggahan kawan-kawan “komunitas baker”, menebar tanda hati dan komentar untuk mengalihkan perhatian dari harapan akan limpahan respons pada unggahanku sendiri. Akan tetapi, setengah jam tanpa tambahan hati maupun komentar? Kurasa ini sudah keterlaluan.
Sebagai kreator konten pemula yang masih dalam proses belajar, reaksi dari mereka yang singgah ke unggahanku ini sangat berharga. Ia seperti siraman minyak pada api yang menyala redup di tungku perapian, mengobarkan semangatku untuk mencari ide konten baru. Aku tidak mengharapkan cuan saat ini sebab sadar akan isi kontenku yang masih belum terarah. Namun, aku yakin sudah bisa menentukan tema dan “wajah” akunku dua atau tiga bulan ke depan.
[Emang susah dapat respons kalo kita posting yang sukses.]
[Mending fokus ke eksperimen-eksperimen gagal aja, Kak. Atau ambil konten orang yang udah viral.]
Kucermati jawaban dari teman-teman sesama kreator untuk keluh kesah yang baru kukirim ke grup “kreator cuan” beberapa menit lalu. Ternyata, tidak hanya di dunia nyata orang-orang menyukai kegagalan orang lain. Padahal, aku melihat akun para baker profesional selalu kebanjiran respons setiap kali mereka mengunggah konten mereka.
[Jangan samain yang udah pro ama kita yang kroco lah ….]
Ah, benar juga. Lagi-lagi aku merasa tertolong dengan kehadiran komunitas yang kuikuti itu meskipun tak jarang mereka terlalu jujur saat berkomentar atau mengusulkan hal-hal yang berseberangan dengan prinsipku.
Tanpa sadar aku menoleh pada roti yang masih kusimpan di dalam oven, menimbang-nimbang kepada tetangga sebelah mana akan kubagi hasil percobaanku kali ini. Mama Bianca pernah mengunggah kiriman roti sosis di laman Instagramnya dengan menandai akunku dan memberi ucapan penyemangat sepekan yang lalu. Waktu itu, rotiku kurang mengembang jadi bentuknya masih tidak lonjong sempurna menutupi cup roti yang kupakai sebagai wadah. Saran dan masukan dari Mama Bianca banyak diaminkan pengikutnya di kolom komentar, bahkan ada beberapa orang yang mengikuti akunku setelah itu.
Kalau dipikir-pikir, Bunda Kinan yang rumahnya tepat di sebelahku juga sering mengunggah kegiatan sehari-harinya di story WhatsApp yang juga dihubungkan ke akun media sosialnya yang lain. Hmm …, dua loyang roti sisirku mungkin bisa mendapatkan lebih banyak perhatian melalui akun mereka berdua.
Segera kumasukkan kedua roti terbaikku itu ke dalam plastik pembungkus bermotif gambar aneka hasil bakery lalu kuambil foto yang masing-masing kukirim ke Mama Bianca dan Bunda Kinan dengan pesan singkat.
[Aku otewe ke situ ya. Tolong kasih review, plis.]
Sepulang dari mengantarkan roti, aku kembali mengambil ponsel, mengamati satu per satu story WhatsApp tetanggaku, berharap ada notifikasi masuk ke akunku. Tak terasa tiga puluh menit telah berlalu tanpa ada notifikasi sama sekali. []
Tangerang, 25 September 2026
M Indah, seorang ibu rumah tangga yang sedang belajar menulis.
