Masa Langkau

Masa Langkau

Masa Langkau

Oleh: Rosna

Orang Bagan bilang tak ada hal yang tak bisa diceritakan di kedai kopi. Mereka bisa melewatkan berjam-jam di sana untuk bertanya kabar dan mendiskusikan banyak hal, mulai dari anggaran MBG yang kian membengkak, kebakaran hutan yang tak kunjung padam, hingga pidato-pidato pejabat yang kerap dijadikan lelucon. Hanya dengan segelas kopi hitam dan beberapa buah gorengan hangat, waktu seakan terhenti di meja-meja kayu yang legam oleh keringat dan tumpahan kopi.

Ada Ikhsan di sana. Laki-laki muda itu masih tampak canggung untuk menyatu penuh dalam keriuhan. Dia hanya ikut tertawa ketika orang-orang tertawa, dan mengangguk-angguk saat Rasidin—pemilik kedai kopi sekaligus kerabat jauh dari pihak ibunya—tengah berkisah lelucon politik sore itu.

Belakangan ini Ikhsan menjadi lebih sering berada di dekat Rasidin. Ketika keputusan mendadak dari rumah menghantam hidupnya, Rasidinlah yang mengajaknya bekerja di kedai kopi itu. Seperti sore yang lalu-lalu, cerita dari meja-meja itu tak pernah selesai.

“Memang betuah betul si Ikhsan ne,” ucap Rasidin sambil membawa secangkir kopi , menuju meja tengah. “Tak berontak sedikit pun waktu disuruh emaknya berhenti kuliah.”

Tak butuh lama, semua pandangan pengunjung kedai di meja itu tertuju pada Ikhsan. Laki-laki muda itu makin kikuk. Jemarinya meremas kain lap yang dipegangnya, lalu memaksa sebuah senyum tipis yang hambar.

“Apa pasal pula?” tanya salah satu pengunjung berkumis tebal. “Bukannya kau sudah lama kuliah, San? Dah nak wisuda, kan?”

Rasidin melirik Ikhsan, mungkin berharap anak muda itu mau menyuarakan isi hatinya sendiri. Namun, Ikhsan hanya menunduk, mengamati garis-garis retak di lantai semen kedai. Dia berharap pembicaraan mengenai dirinya segera berganti saja.

“Oh, kejap. Ini anak Kak Salamah tu, kan?” celetuk pengunjung lain yang baru sadar siapa Ikhsan yang tengah mereka bincangkan.

“Kak Salamah yang tinggal di dekat kantor desa, kan?”

“Yang suaminya dah tak ada sebab kapal karam, tu?”

“Kasihan betul.”

Rasidin mengangguk pelan lalu melirik ke arah Ikhsan yang kian menunduk. Ikhsan tak bisa mengelak memang dialah anak Kak Salamah yang suaminya meninggal ketika pergi melaut lalu gelombang besar datang membalikkan perahu.

“Apa karena si Zul nak nikah?” sambung yang lain, nadanya mulai dipenuhi rasa ingin tahu.

“Siapa nak nikah? Dengan siapa pulak?”

“Itu, Zul, abangnya si Ikhsan. Dengar kabar, nikahnya terpaksa.”

“Terpaksa bagaimana? Dah jebol anak gadis orang?”

Pertanyaan itu menggantung tebal di udara. Rasidin menghela napas panjang, lalu bergegas ketika seorang pembeli datang memesan bungkusan kopi. Ikhsan pun ikut berdiri dengan sigap, mengambil lap dan berpindah ke meja sebelah untuk menghindari tatapan mengintimidasi bapak-bapak itu. Setelah beberapa pembeli itu pergi ternyata pembicaraan mengenai dirinya belum juga usai.

“Memang kau ambil jurusan apa, San?” tanya bapak berkumis tebal itu lagi saat Ikhsan meletakkan piring gorengan baru di meja mereka.

“Sastra, Pak,” jawab Ikhsan pelan, nyaris seperti bisikan.

“Sastra?” Bapak itu menggeleng-gelengkan kepala. “Mau kerja apa kau besok kalau tamat? Pantaslah mamakmu suruh kau berhenti dulu. Tak jelas juga masa depannya. Lebih baik uangnya untuk menyelamatkan muka keluarga.”

“Kalau kuliah di sastra itu bisa kerja di pabrik sawit?” celetuk bapak yang lain yang disambut dengan gelengan kepala.

Ikhsan hendak beranjak dari meja itu tetapi sambungan percakapan yang dari bapak yang lain memaksanya untuk tetap bertahan.

“Lagipula aku dengar keluarga perempuan itu dari kalangan pejabat, San,” lanjut yang lain.

“Kalau tak mau tanggung jawab, bisa habislah mamakmu dan abangmu itu.”

Ikhsan tidak menjawab. Ia hanya tersenyum sopan, lalu berjalan mundur menuju dapur belakang ketika seorang pembeli datang lagi. Dari dapur, Ikhsan masih bisa mendengar obrolan para bapak itu. Pembicaraan sekarang beralih ke keluarga perempuan yang begitu terpandang di kampung ini. Tentang betapa kayanya keluarga perempuan itu karena memiliki hampir sepertiga lahan sawit di kampung itu. Juga tentang betapa dermawannya keluarga perempuan jika ada kegiatan kemasyarakatan.

“Kau hanya istirahat sekejapnya, San. Jadi tak usah risau betul,” ucapan emaknya terngiang kembali di telinga Ikhsan.

“Ambil masa langkau saja, kejap. Nanti kalau abangmu dah kawin, masalah kuliahmu itu, gampanglah,” lanjut emaknya saat itu.

“Kau pasti akan dibantu keluarga istrinya. Untuk sementara ini, giliran kau dulu yang membantu abangmu.”

Ikhsan menghela napas panjang. Dia bukan tak tahu apa arti masa langkau itu. Itu artinya dia harus memulai dari awal lagi. Semua uang tabungan yang sudah dipersiapkan mendiang ayahnya untuk pendidikannya ditambah dengan uang tabungannya telah diminta emaknya untuk uang lamaran.

“Tapi, Mak. Kuliah Ikhsan kejap lagi selesai, ini sudah nak urus skripsi,” bantahan itu masih terdengar di kepalanya.

“Lagipula siapa yang bisa menjamin, Bang Zul akan membantu Ikhsan nanti?” Ikhsan masih mencoba menawar keputusan emaknya.

“Selama ini Bang Zul juga tak pernah mau membantu Ikhsan,” bantah Ikhsan nyaris tak terdengar.

Emaknya hanya tersenyum kecut lalu berlalu. Setelah pembicaraan singkat itu tak ada lagi diskusi. Yang tersisa hanya angka nol di buku tabungannya.

Tak lama, setelah pembicaraan di meja tengah itu meredup, Rasidin mendekati Ikhsan kembali lalu menepuk bahunya. (*)

 

Dumai, 25 September 2026

 

Rosna Deli. Perempuan penyuka keramaian.