Review Bedah Cerpen Dua Perempuan di Satu Rumah Karya AS Laksana (Kelas Parenting Berkedok Cerita Pendek)

Review Bedah Cerpen Dua Perempuan di Satu Rumah Karya AS Laksana (Kelas Parenting Berkedok Cerita Pendek)

Review Bedah Cerpen Dua Perempuan di Satu Rumah Karya AS Laksana (Kelas Parenting Berkedok Cerita Pendek)

Oleh : Kepik Merah

Biasanya saya baca karya AS Laksana hanya untuk dinikmati saja, selesai baca ya sudah lanjut lagi. Berbeda di tugas Loker Kata kali ini. Kami diberi tugas analisis cerpen yang juga bagian dari saran anggota kelas. Pilihannya jatuh kepada cerpen berjudul Dua Perempuan di Satu Rumah.

Judul cerpen Pak Sulak (sapaan akrab beliau) ini, menurut saya, sebenarnya tidak terlalu mencolok, hanya permainan kata (angka), yang kemudian membawa tanya di benak saya. Ada apa di rumah itu? Mengapa judulnya demikian? Bukankah wajar ada perempuan di dalam rumah? Entah ibu, entah anak perempuan, yang jelas keberadaannya lumrah. Tapi kenapa harus disebutkan dua orang? Kenapa bukan tiga, empat atau lima? Oh mungkin anak kembar, pikir saya tadinya.

Tapi tidak. Saya salah.

Kalimat pertama paragraf pertama cerpen ini bikin saya melongo. Langsung disuguhi opening klimaks, kepala siapa yang tidak panas dingin? Panas dingin sebab diberi suguhan selamat datang oleh pembunuh yang punya nyali menulis 37 puisi sebelum ditemukan tewas dalam karung. Alamak.

Sebelum masuk lebih jauh ke puncak konflik cerita, akan lebih meyakinkan jika saya mengenal karakter penulisnya terlebih dahulu, AS Laksana. Jujur, di bedah cerpen kali ini, saya pribadi tidak ada penyangkalan pada materi di kelas. Bahwa AS Laksana memang piawai bercerita. Terlebih lagi, melalui karya-karya beliau yang sebagian besar temanya cenderung memerhatikan isu keluarga dan hubungan kemanusiaan, dengan gaya dan teknik bercerita yang khas, menjadikan atmosfer bedah cerpen di kelas Lokit kali ini terasa hangat.

Bedah Alur Cerita Dua Perempuan di Satu Rumah 

Jangan menghindar dulu. Pemantik utama dari cerpen ini memang menyentil pelaku LGBT, terutama di bagian dampak perilaku masyarakat terhadap transgender. Akan tetapi, sudut pandang itu datang dari seorang anak yang ayahnya memilih mengubah dirinya jadi perempuan. Bayangkan kalau anak itu adalah kamu. Kamu berada di posisi Seto, menjadi anak dari seorang ayah yang diteriaki banci oleh teman-temannya di sekolah. Dadamu pasti sesak.

Sebenarnya, ada momen ayahmu pernah “waras” yang masih membekas di ingatanmu, yang dulunya kamu duduk di pangkuannya dengan nyaman mengobrol dan membahas betapa cerewetnya ibumu setiap hari, sebelum dia mengoperasi dadanya jadi lebih busung dari dada ibumu yang cerewet itu, sebelum lidahmu kelu dan merasa salah menyebutnya “ayah” karena kurang tepat dengan identitas barunya. Kamu perlahan kehilangan rasa nyaman, rasa percaya, rasa hormat, dari orang yang dulu jadi panutanmu dan kata-katanya lebih enak didengar ketimbang ibumu yang cerewet itu.

Saat bertanya-tanya mengapa ayahmu berubah dan kamu tak kunjung menemukan jawaban, titik jenuhnya ibumu hanya bilang, “Ayahmu sudah gila.” Kamu tidak menerimanya, sebab kamu tahu apa arti kata “gila” itu, dan kamu tahu ayahmu tidak gila. Memang, rasanya akan lebih baik jika dia benar-benar gila saja agar seseorang bisa memberinya perawatan dan semacamnya lalu sembuh. Lalu kalian mengobrol bersama lagi seperti kemarin-kemarin, mengomentari betapa cerewetnya ibumu lagi. Tapi dunia tidak bekerja demikian.

Sampai sini, kamu sekarang paham kan kenapa judulnya Dua Perempuan di Satu Rumah? Tidak benar-benar ada dua orang perempuan di rumah itu. Bahkan rumah yang masih lengkap ayah dan ibunya itu tidak pernah harmonis sejak semula. Sang suami memakai topeng agar menjadi ayah. Lalu sang istri patriarki itu tidak punya bakat mengasuh anak, yang lisannya selalu basah dengan kalimat perintah dan aturan. Seto kecil menyimpan luka menganga dari dalam rumahnya sendiri. Yang bahkan tragisnya; tidak disembuhkan, tidak ada yang menyembuhkan, tidak pernah sembuh, sampai titik akhirnya tak terselamatkan lagi.

Kenapa keluarga Seto berakhir tragis? Menurut pengamatan saya, gambaran sekilas yang saya tangkap tentang keluarga Seto ini mencerminkan ikatan keluarga yang tidak harmonis dan semua berperan dalam proses kehancurannya. Antara satu dengan yang lainnya, anggota keluarga Seto tidak memiliki ikatan yang kuat untuk saling merangkul meraih kebahagiaan, kesuksesan, bahkan merangkul ketika terpuruk. Mereka berjalan masing-masing dan putus asa terhadap keadaan. Tampaknya bukan faktor ekonomi penyebab utama terpecahnya situasi keluarga Seto, melainkan padamnya kehangatan dalam keluarga itu sendiri yang tidak dapat mereka atasi satu sama lain. Kedua orang tua Seto berkeras hati dan egois, saling menyalahkan, sementara Seto belum cukup dewasa untuk mengerti pertengkaran suami-istri itu. Seto kecil dipaksa memahami konflik keluarganya tanpa pemecah masalah. Saat ia mendapat perlakuan buruk di luar rumah karena situasi keluarganya yang kacau dan problematik, ia tidak menemukan tempat nyaman di dalam rumah, yang kemudian akhirnya membuat Seto terjerumus ke kenakalan remaja, dan melakukan enam perbuatan yang tidak pantas pada orang-orang seperti ayahnya.

Uniknya, teknik bercerita AS Laksana pada cerpen ini bermain perspektif. Kalau tidak benar-benar teliti, kamu mungkin akan salah mengira siapa narator yang menceritakan kisah Seto ini. Dia bukan Seto, melainkan anak Seto yang menemukan tumpukan puisi menyedihkan Seto sepanjang hidupnya, kemudian merangkum seluruhnya lewat sudut pandang tafsirannya. Namanya tafsiran kepala orang yang berbeda, cerita itu bisa saja karangan, bisa saja anggapan sepihak yang tidak bisa dikonfirmasi kesahihannya. Semacam cara yang dilakukan para ahli tafsir kitab, mereka hanya penyampai, penerjemah, yang terjemahannya bisa saja salah, tetapi keberadaannya tetaplah berjasa. Dari tafsiran anak Seto itulah kita jadi mengenal sedikit banyaknya pengaruh lingkungan tempat terbentuknya karakter Seto, juga ayahnya yang banci dan ibunya yang cerewet.

Keunggulan Cerpen Ini 

Umumnya cerpen bertema parenting, pola asuhan, dan hubungan orang tua akan memberi petuah-petuah menggurui yang menonjol. Tapi, AS Laksana memilih teknik bercerita yang unik. Gaya naratifnya yang natural, hidup, juga tone dan suara narator yang emosional, meninggalkan kesan bahwa saya baru saja mendengar cerita yang benar-benar apa adanya. Ya, saya seperti terbawa suasana sedang mendengarkan orang bercerita. Storytelling yang sangat piawai bikin saya betah baca sampai kalimat penghabisan.

AS Laksana tidak bilang agar para ayah dan ibu harus begini dan begitu. Dia menceritakan dampak dari satu pola asuhan yang salah, yang tidak semestinya dilakukan para orang tua. Itu jika kalian mau memahaminya. Dia menceritakan kisah seorang anak yang terluka dari dalam rumahnya, yang seharusnya memberinya tempat perlindungan, tetapi malah pukulan paling dalam itu justru mendarat di dadanya tanpa permisi, tanpa sempat ia pelajari. Perspektif ini, ingin dibagikan oleh AS Laksana kepada pembaca, bahwa perkelahian anak-anak remaja di luar sana, pergaulan bebas, dan perilaku menyimpang suatu komunitas ada hubungannya dengan manajemen sosial dari dalam entitas sebuah keluarga. Bahwa di dalam bangunan keluarga itu ada peran laki-laki sebagai ayah, dan peran perempuan sebagai ibu, dengan tangan keduanyalah seorang anak diasuh. Bukan salah satu saja, atau keduanya malah berlepas tangan. Buruk sekali. Coba lihat akhir hidup Seto di opening tadi, begitu kira-kira tafsir saya.

Kelemahan Cerpen Ini

Ini hanya soal sudut pandang kita menilai. Tidak semua orang bisa menerima ending cerita yang terlalu terang benderang. Cerita ini sudah selesai di satu orang, dan tidak ada lagi imajinasi yang berjalan. Saya tidak diberi kesempatan untuk menelusuri lebih dalam apa yang terjadi pada Seto. AS Laksana memberikan jawabannya, bahasa halusnya dari “contekan” yang dia bubuhi di akhir lembar ujian.

Kesimpulan 

Bedah cerpen kali ini bikin saya bermenung dan banyak mengoreksi diri pribadi sebagai orang tua. Saya punya anak laki-laki yang suatu hari nanti akan tumbuh berkembang atau hancur dengan tangan saya, jika saja saya salah merawatnya. Berkali-kali saya menoleh dan memerika wajah anak saya yang tertidur di sebelah bantal saya, apakah ada luka yang tertoreh di sana, ataukah bunga-bunga menyebul di balik mimpinya? Cerpen ini mendidik saya sebelum saya mendidik anak-anak. Maka pantaslah skor dari saya 4,5/5 ⭐️ dan dua jempol saya teracung untuk mengaguminya.

Kaubun, 21 Mei 2026

Kepik Merah, perempuan milenial yang lahir di Balikpapan.