Rumah Urut Bu Aha
Oleh: Rosna Deli
Aku hampir saja terlelap andai Bu Aha tidak mengajakku untuk terus mengobrol. Sambil tetap memijat punggungku, perempuan itu tak henti bercerita tentang kondisi rumah tangga anaknya. Aku hanya menimpali dengan sedikit ‘ooo’ dan mencoba menganggukkan kepala. Aku ingin menghentikan omongannya karena campuran minyak urut dan irisan bawang merah itu begitu menenangkan. Aroma pedas dan hangat bersekutu dibawah pijatan Bu Aha seakan memperbaiki semua urat sarafku yang telah tersumbat. Bebas dan segar. Namun, jika dengan ini Bu Aha makin bersemangat dalam mengeluarkan semua kemampuannya memijat, aku tak masalah.
Rumah Urut Bu Aha adalah yang terkenal di sini. Aku bahkan telah memesan layanannya seminggu yang lalu. Aku masih ingat embusan kipas angin tua menyapaku saat pintu depan kubuka. Senyuman Bu Aha yang begitu hangat, lalu dia menyuruhku untuk duduk sambil meletakkan kaki di rendaman air hangat pula. Rasa hangat itu menjalar dari ujung kaki hingga ujung rambutku, seakan semua masalah di kepala hilang dibagi rata ke seluruh tubuh.
Layanan yang diberikan Bu Aha tidak kaleng-kaleng. Sempurna di mataku yang memang sudah berulang-ulang mencari tukang urut yang pas di badan. Aroma lavender menyeruak dari dupa yang telah di tempatkan di sudut ruangan, lalu tak lupa Bu Aha pun menyalakan pemutar musik dengan irama alam. Sempurna.
Aku masih mencoba menganggukkan kepala saat Bu Aha mengalihkan kisahnya ke awal mula bisnisnya. Namun, aku tak terlalu menyimak karena pijatannya yang lembut sangat menenangkan. Pijatannya dimulai secara perlahan dari kaki dengan memberi tekanan melingkar lalu meremas kakiku dan menekan titik tertentu selama beberapa menit.
“Ini titik bagus untuk mengeluarkan energi negatif dalam tubuh,” Bu Aha lalu menekan di area tulang belakang secara perlahan.
Aku merasa beban di kepalaku ikut ditekan oleh jari Bu Aha lalu ia terdesak dan keluar secara perlahan. Alunan suara air dan angin memenuhi ruangan sementara embusan kipas itu sudah hilang, aku terbawa oleh kehangatan yang begitu dalam. Urat sarafku longgar, aliran darah seakan bebas melaju seperti di jalanan tol. Aku benar-benar hampir terlelap, lalu Bu Aha berujar, “Semua orang datang ke sini dengan beban, tapi tidak semua pulang dengan ringan.”
Kantukku seketika hilang. Kalimat terakhir dari Bu Aha itu terdengar dingin dan menakutkan. Aku ingin bertanya apa maksud pernyataannya itu, tapi lidahku kelu. Pijatan hangat Bu Aha kurasa berubah menjadi lebih kuat dan justru mematikan saraf motorikku.
Bu Aha menyeringai lalu berkata tepat di telingaku. “Ikhlaskan saja, Nak. Tak semua yang kita harapkan akan sesuai dengan kenyataan.”
Aku ingin membalikkan badan dan menepis pijatan selanjutnya tetapi Bu Aha semakin menekan saraf-sarafku. Kakiku kaku, apa rendaman air hangat untuk kaki tadi bukan air rendaman biasa?
Bu Aha berdiri lalu mendorong meja besi yang berisi beberapa peralatan pijat menjadi lebih dekat. Aku menghidu aroma alkohol atau seperti disinfektan rumah sakit. Apa ini?
Tak lama kemudian, derit pintu terdengar pelan. Suara musik dan gemericik air tadi menghilang digantikan dengan suara berat dari seorang laki-laki.
“Bagaimana kondisinya, Bu?”
Bu Aha menghentikan pijatannya lalu menjawab dengan santai, “Sempurna, Bos. Dia, laki-laki yang menjaga pola hidup sehat. Tidak merokok dan rajin berolahraga. Saya yakin paru-paru dan ginjalnya sehat.”
Laki-laki yang dipanggil Bos itu mengangguk senang lalu berjalan mondar-mandir di sekeliling ruangan. Aku masih berusaha berontak tapi sekadar berteriak saja aku tak bisa. Suaraku tertahan dan saraf-saraf badanku rasanya semua terkunci.
“Ini bisa langsung dimulai, Bos?”
Laki-Laki berperawakan kecil itu mengangguk mantap. “Pastikan tidak ada kesalahan. Setelah ini, bereskan dengan rapi,” ucap si Bos itu kini tepat di wajahku.
Aku tak bisa melakukan apa pun, yang kurasa bantal pijit yang menjadi alas kepalaku kini terasa basah. Apa maksudnya ini? Hidup dengan satu ginjal?
“Terima kasih ya, sudah memesan layanan di sini seminggu yang lalu. Itu memberi kami cukup waktu untuk memeriksa latar belakang medis dan golongan darahmu. Dan ternyata semuanya cocok sesuai pesanan,” ucap Bu Aha lalu mengisi suntikan dengan cairan.
Lampu di atas ruangan yang tadi temaram tiba-tiba menyala sangat terang, menyilaukan mataku. Di pantulan kaca di sudut ruangan, aku melihat Bu Aha mengenakan celemek plastik transparan yang sudah bercak-bercak merah kering.
“Waktunya pulang dengan ringan, Nak,” ucapnya sambil menyodorkan masker oksigen berisi gas yang berbau manis ke wajahku. Dunia perlahan menjadi hitam.
Dumai, 17 Maret 2025
Rosna Deli perempuan yang menyenangi keramaian
