Perjalanan Malam
Oleh : M Indah
Rombongan siswa-siswi SMP IT Insan Akbar berbondong-bondong masuk ke gerbong satu dan dua dengan keriuhan khas remaja. Gerbong kereta Senja Utama itu terasa bergoyang saat aku menginjak tangga di pintu paling depan. Aku berusaha fokus mencari nomor kursiku, yang sebenarnya mudah karena aku tinggal mengikuti Ilyas yang akan duduk di sampingku, jadi aku terus memandangi belakang kepala sahabatku itu.
Ketika Ilyas berhenti dan memberi jalan, aku segera menempati kursi di dekat jendela tanpa repot-repot mengecek ulang nomor kursi. Kuletakkan ransel di bawah kaki, mengatur posisi sandaran kursi, lalu duduk diam mengamati suasana peron yang masih hiruk-pikuk. Tak kuindahkan Ilyas yang sibuk meletakkan ransel dan barang bawaannya di kabin atas.
Kusandarkan tangan kiri ke kusen jendela untuk menyangga kepalaku yang terasa berat. Saat itu, aku baru sadar bahwa tanganku tidak mau diam. Ia terus bergetar pelan, membuat kepalaku tak nyaman. Kuangkat kedua tangan di depan dada seperti sedang berdoa dan kudapati keduanya memang terus bergerak.
Otak sialan! Kupukul kepalaku yang tidak mau menuruti mauku, berharap syaraf-syaraf di otakku dapat berhenti mengirim sinyal palsu ke tangan. Kejadian itu sudah berlalu. Dompetku sudah hilang tak berbekas. Tapi aku masih punya satu dompet lagi. Jadi berhentilah mengirim tanda bahaya itu, Otak Bebal! Toh, yang hilang cuma lima puluh ribu!
Lima puluh ribu itu juga amanah. Kalau hilang artinya kamu gak bisa jaga amanah!
Suara dalam kepalaku itu membuat tanganku bergerak semakin cepat. Kemudian ada sepasang tangan lain yang menghentikannya. Ternyata wali kelasku sudah duduk di kursi Ilyas sementara sahabatku itu berdiri di lorong sebelah kursinya.
“Kasih tahu mamamu, Rizqi.” Pak Zaki menyodorkan ponsel yang sudah menampilkan layar percakapan dengan Mama.
Sedikit ragu, aku meraih ponsel itu. Jariku urung mengetik. Kugigit bagian dalam bibir bawahku untuk menahan rasa panas yang menjalar di kedua mataku. Aku memandang Pak Zaki yang duduk miring menghadap ke arahku.
“Tulis saja secara ringkas kapan dan di mana dompetmu hilang. Kurasa mamamu akan mengerti.”
Walaupun tidak yakin Mama tidak akan memarahiku, aku tetap mengetik sesuai arahan Pak Zaki. Terkirim. Kuserahkan ponsel ke wali kelasku itu, tetapi beliau tidak mengambil kembali ponselnya dan mengajakku menunggu beberapa saat karena yakin Mama akan membalas pesan itu segera.
Satu menit kemudian, muncul tulisan “typing” di bawah nama Mama. Aku menunggu. Pak Zaki menepuk pundak kananku lalu beranjak untuk kembali ke kursinya.
Balasan dari Mama hanya dua kalimat tanya.
[Kok bisa? Kamu udah cari lagi di tas selempang dan ransel?]
Aku mengetik balasan dengan jempol yang bergetar lebih hebat. Auman Mama seakan bergaung di dalam telinga, seperti biasanya kalau aku melakukan kesalahan. Namun, batu yang menyumpal dan memberati dadaku sejak satu jam yang lalu rasanya sedikit bergeser, memberi lebih banyak ruang dalam paru-paruku untuk diisi oksigen.
Kuakhiri berbalas pesan–lebih tepatnya wawancara–dengan Mama lalu berdiri, bermaksud mengembalikan ponsel Pak Zaki yang tak kuketahui di mana kursinya. Namun, Ilyas mengulurkan tangan, mengambil ponsel dari tanganku, kemudian berjalan ke arah belakang gerbong. Kuanggukkan kepala sambil menangkupkan kedua telapak tangan di depan dada saat Pak Zaki menoleh kepadaku.
Aku kembali duduk bersandar ke jendela, mengamati suasana malam di tepi jalan kereta yang kulewati. Hitam itu belum pekat sebab kami belum jauh dari Jakarta. Berbagai lampu dari bangunan dan papan reklame yang kami lewati menyorot terang lalu lenyap dalam sekejap berganti dengan lampu yang lain.
“Senyum untuk Mama, ya ….” Samar kudengar suara cempreng Bu Eka yang sedang mengambil video kondisi para siswa di gerbong satu. Ilyas sudah tenggelam dalam Al-Qur’an mungil yang tak pernah lepas dari tangannya. Kucoba mendengar ayat yang meluncur dari bibirnya, tetapi aku tak dapat menebak karena lokomotif sedang membunyikan klakson dengan kencang. Kulirik Al-Qur’an mungil itu dan dapat kupastikan sudah setengah bagian yang terbuka. Juz 15 isinya surat apa, ya?
“Lo nggak apa-apa?”
Aku hanya menggeleng lalu membenarkan posisi kacamata yang terasa sedikit merosot. Entah berapa kali pertanyaan itu dilontarkan Ilyas sejak aku membuat kekacauan di ruang tunggu Stasiun Pasar Senen karena baru sadar bahwa dompetku hilang. Aku tidak ingat apa yang telah kulakukan, tetapi badanku masih merasakan pelukan erat Pak Zaki, telingaku masih mendengar ucapannya yang terus menerus menyuruhku melafalkan istighfar. Ketika sadar, aku melihat Ilyas memunguti barang-barang yang tersebar di lantai, memasukkan kembali semuanya dengan rapi ke dalam ransel biru tua, mirip ranselku. Beberapa detik kemudian aku sadar bahwa itu memang ranselku. Aku hanya bisa menangis dalam pelukan Pak Zaki.
“Makanya dengerin omongan Mama! Dasar anak gak guna!”
Aku tergagap. Selimut biru tua dengan bordiran logo PT KAI merosot dari dada ke pangkuanku. Aku mengedip beberapa kali sampai sadar bahwa aku telah tertidur dengan omelan Mama. Gerbong satu masih ramai dengan suara obrolan teman-temanku meskipun lampu sudah diredupkan. Aku sama sekali hilang kesadaran, tak tahu kapan menerima selimut dan memakainya, serta kapan lampu telah diredupkan.
“Lo nggak apa-apa?” Ilyas mengulang pertanyaan konyolnya. Andai saja pertanyaan itu keluar dari mulut Mama. Tapi, mana mungkin. Bahkan, dalam mimpi pun Mama tidak mengkhawatirkan keadaanku. Dia hanya bisa membentak, menghardik, atau mengatai.
“Gue mau ke toilet.” Tanpa sadar, aku menjawab pertanyaan Ilyas dengan ketus. Eh, tapi kenapa semua tampak buram? Aku meraba mukaku sesaat sebelum Ilyas mengulurkan kacamataku.
“Di belakang.” Ilyas mengatakan posisi toilet saat aku celingukan mencari arah yang tepat. Tentu saja si sempurna ini tahu segalanya.
Aku bergegas melangkah ke belakang gerbong, mengabaikan teman-teman yang entah sedang membicarakan apa untuk melewatkan delapan jam perjalanan sampai-sampai belum merasa mengantuk. Di toilet, aku berdiri berlama-lama, menikmati angin panas yang masuk dari jendela ventilasi yang sengaja kubuka. Aku segera menutup jendela kemudian berwudu ketika menyadari ada dorongan kecil di pintu.
“Gue juga mau ke toilet” Ilyas berdiri di depan pintu lalu tergagap mencari alasan saat kutatap matanya penuh selidik. Kulemparkan pandangan ke gerbong seberang yang pintu toiletnya terbuka.
“Eh, tadi ada orangnya padahal.” Si pintar itu ternyata payah dalam berakting dan berbohong. Aku tetap diam, malas menanggapinya. Ilyas dengan segala upayanya melindungi aku sejak kami baru masuk SMP. Ilyas yang kesabarannya sering membuatku merasa menjadi manusia paling kejam di dunia karena kerap mengacuhkannya. Meskipun aku sering menjadi manusia tidak berguna di hadapan Ilyas, terutama jika dia main ke rumahku dan dia menjadi anak kesayangan Mama, dia pula yang membuatku nyaman dengan kondisiku ini.
“Loh, masih di sini?”
Aku terkejut ketika menyadari bahwa aku masih berdiri di depan toilet. Tidak, aku tidak ada niat menunggu Ilyas menyelesaikan urusannya di dalam sana untuk membuktikan bahwa dia hanya mengikuti dan mengkhawatirkanku. Aku hanya …, entahlah.
Ilyas membuka pintu gerbong, memberi tanda supaya aku berjalan terlebih dahulu. Rasanya semua penghuni sekolah sedang memperhatikan kami berdua, tetapi aku meyakinkan diri bahwa itu hanya perasaanku saja.
“Lo gak belajar?” Kulemparkan pertanyaan itu saat melihat Ilyas kembali membuka Al-Qur’an kecilnya alih-alih buku pelajaran untuk persiapan ujian masuk MAN Insan Cendekia. Sebenarnya aku tidak peduli, tetapi mengobrol rasanya dapat menghentikan tayangan ulang kejadian di ruang tunggu stasiun, yang terus-menerus terbayang di dalam kepalaku.
“Ntar aja.” Tepat setelah Ilyas menjawab, Nizar–si peringkat satu angkatanku–menyenggol lengan kanan Ilyas.
“Ngaji aja lo! Ke gerbong restorasi, kuy! Pada bahas aljabar di sana.”
“Udah jam sebelas, woy!”
“Aman, lah …, bentar lagi juga dah turun.”
“Masih tiga jam lagi ….”
“Gue mo tidur.” Sengaja aku mengibaskan tangan seolah mengusir saat melihat gelagat bahwa perdebatan Ilyas dan Nizar tidak akan segera berhenti. Dengan berpura-pura tidur, kuharap Ilyas bisa lebih bebas menikmati perjalanannya, tidak hanya mengaji sambil menjagaku. Mungkin aku juga akan mengaji jika tidak bisa tidur agar “tayangan ulang” itu kembali muncul.
Aku bersyukur karena akhirnya Ilyas mengikuti Nizar ke gerbong restorasi. Namun, belum lima menit sejak kepergian Ilyas, Zikri–teman sebangkuku di sekolah selain Ilyas–tiba-tiba menempati kursi Ilyas dan menyodorkan cokelat panas.
“Gue gak pesen …,” kataku sambil berusaha menolak gelas kertas itu, tetapi karena tidak tega melihat Zikri kepanasan membawa dua gelas, aku menerima dengan ragu-ragu.
“Masih panas banget itu.” Zikri mengeluarkan meja lipat dari pegangan kursi dan langsung kutiru.
“Skin terbaru lo apa sekarang?”
Zikri dan obrolan tentang gim yang sering kami mainkan bersama. Sering juga kami ikut turnamen untuk pemula, tetapi levelnya sudah jauh di atasku. Dia rela mengurangi uang jajan untuk membayar joki agar akunnya tetap dalam posisi bermain meskipun dia sedang bersekolah atau tidak dapat bermain. Berbeda dengan aku yang lebih menyukai tingkatan yang aku raih sendiri dengan susah payah.
Tak terasa pembahasan kami soal gim sudah berlangsung sangat lama sampai Ilyas dan tim “siswa teladan” kembali dari gerbong restorasi. Tiga puluh menit sebelum tiba di Lempuyangan. Kuamati kedua tanganku yang sudah tidak lagi bergetar.
“Gue tidur bentar biar bisa Tahajud. Ntar tolong bangunin, ya.” Aku mengangguk sambil tersenyum tipis ke arah Ilyas. Sahabatku itu segera terlelap dengan napas teratur dan wajah damai. Kutatap gelas kertas kosong yang masih ada di mejaku. Masih terasa panasnya cokelat cair pemberian Zikri di telapak tanganku. Panas yang perlahan berkurang, menghangatkan dada dan mataku.[]
Tangerang, 27 Oktober 2026
