Darsi

Darsi

DarsiĀ 

Oleh: Rosna Deli

 

Aku baru bertemu Darsi dua kali. Dan kurasa tak ada yang istimewa dengan perjumpaan-perjumpaan itu. Namun bisa-bisanya dia minta dijodohkan dengan abangku, Bang Rahmat. Mungkin Darsi memperhatikannya setiap kali Bang Rahmat mengantarku ketika kami berjumpa itu.

Kami bertemu pertama kali ketika sama-sama berada di Samsat. Ketika itu aku hendak membayar pajak sepeda motor, dan aku bertanya kepadanya perihal alur pembayaran. Perempuan itu menerangkan dengan detail lalu setelah itu kami terlibat obrolan yang menyenangkan. Saat salah satu dari nama kami dipanggil terlebih dahulu, obrolan kami terhenti.

Pertemuan kedua terjadi di salah satu bank. Saat itu aku tengah mengurus ATM ku yang tertelan. Namun kali ini, dia yang menyapaku terlebih dahulu. Dengan senyum yang cemerlang dia duduk di antara aku dan abangku. Abangku segera berdiri lalu mencari tempat duduk yang lain. Darsi tampak terkejut dengan tindakan abangku itu tetapi setelah itu dia kembali bertanya ini-itu seolah kami teman lama yang sudah lama tak bersua. Sementara Bang Rahmat lebih memilih memperhatikan ponselnya tanpa sedikit pun melirik ke arah aku atau Darsi.

“Jangan lupa jodohkan aku dengan abangmu, ya, Rin,” ucapnya lalu memberikan padaku nomor ponsel serta akun media sosialnya.

Saat itu aku tentu hanya bisa pura-pura mengangguk lalu mengatakan kalau abangku sudah ada pacarnya. Namun Darsi tak kecewa dia justru berkata sebelum janur kuning melambai semua orang mempunyai kesempatan yang sama. Lagi-lagi aku hanya tersenyum meski dalam hati aku terheran-heran dengan sikap percaya dirinya.

Kalau aku boleh jujur, sebenarnya Darsi tak terlalu menarik tapi enak dipandang. Maksudku secara penampilan dia biasa saja. Rambut hitamnya dibiarkan tergerai lalu bagian depan rambutnya di jepit sedikit agar poninya tidak menjuntai. Sehingga dahinya menjadi pusat perhatian saat kami mengobrol. Permukaan dahinya halus dengan jarak antara alis dan garis rambut seimbang tampak seperti membingkai wajahnya.

Namun, tidak dengan penampilannya. Kurasa Darsi belum bisa mempadupadankan warna pakaian. Bisa-bisanya dia mengenakan baju bunga-bunga cerah lalu dilapisi dengan jaket merah muda dan diakhiri dengan hareem, jenis celana seperti yang digunakan orang Timur Tengah berwarna marun. Saat kedua kali melihatnya, aku sempat berkomentar perihal pakaiannya. Namun Darsi hanya tersenyum lalu mengatakan bahwa ini sedang tren. Apa iya?

Sebenarnya aku bisa saja pura-pura mengatakan sudah memberitahukan perihal keinginan Darsi terhadap abangku. Lalu menyampaikan bahwa abangku menolak harapannya. Namun bukan Darsi namanya. Dia mencari sendiri akun media sosial abangku dan hendak mengatakannya sendiri. Dan memang setelah itu beberapa kali dia telah mengirim pesan ke abangku meski tidak mendapat balasan

Gila benar. Aku benar-benar menyesal telah menegurnya terlebih dahulu ketika di Samsat itu. Namun satu hal yang baru kuketahui bahwa Darsi adalah cucu satu-satunya dari pemilik kebun sawit terbesar di kampungnya. Dia dengan bangga mengatakan akan menjadikan abangku bos di RAM sawit milik kakeknya.

Abangku tinggal duduk manis, menimbang panen sawit lalu dapat uang. Mudah, bukan?

***

Sore itu, Darsi mengajakku untuk bertemu di sebuah kafe di pusat kota. Aku sengaja pergi sendiri dan Darsi terlihat kecewa. Namun, kekecewaannya tidak lama ketika kukatakan abangku setuju untuk bertemu tapi belum tentu mau.

“Ini langkah baik, Rin. Bertemu saja dulu, mana tahu dia luluh dengan kecantikanku,” ucap Darsi lalu mengibas rambutnya.

Aku sekali lagi terheran-heran, mengapa Darsi begitu ngotot ingin menjadi kakak iparku?

“Aku bukan menolak, ya, Dar. Tapi, aku takut kau kecewa dengan abangku. Sebenarnya abangku tak sebaik yang kau lihat. Abangku itu …,”

“Aku sudah tahu, Rin. Abangmu baru saja di PHK, kan? Aku sudah scroll media sosialnya,” Darsi memandangku lama seolah ingin menguatkan aku.

“Ya, namanya rezeki. Mungkin memang rezekinya nanti jadi Bos RAM sawit kakekku,” Darsi tersenyum lalu terkekeh sendiri. Di mata Darsi, Bang Rahmat adalah sosok pria idaman yang teramat sangat bersahaja, misterius, dan macho. Dan Darsi jatuh cinta pada pandangan pertama.

“Selain itu, Dar. Abang Rahmat sebenarnya sudah pernah menikah tapi sudah cerai,” jelasku pelan. Aku harus mengungkapkan ini sebelum keinginan Darsi kelewat batas. Dia harus tahu bahwa Bang Rahmat telah menjadi duda di usia tiga puluh tahun tanpa anak dan masih tinggal dengan orang tua.

Darsi terdiam lalu mengaduk-aduk es teh pesanannya. Aku yakin mendengar fakta itu Darsi akan melupakan keinginannya itu.

“Tapi pasti lebih baik dari duda yang akan dijodohkan denganku, Rin,” jawabnya setelah jeda panjang lalu meminta jawaban dariku.

Darsi melanjutkan dengan semangat membara, “Kakekku mau jodohin aku sama tengkulak sawit umur lima puluh lima tahun yang kelakuannya gila harta! Pamer mobil, pamer cincin emas di sepuluh jarinya. Aku muak, Rin! Makanya aku butuh pria sederhana kayak Bang Rahmat buat nyelametin aku. Nanti Kakek pasti luluh kalau ngeliat ketulusan Bang Rahmat. Abangmu bakal kuangkat jadi bos RAM sawit Kakek!”

Aku memegangi pelipisku yang mendadak pening. Ingin rasanya kubuka rahasia Bang Rahmat yang lain bahwa jaket kulit cool yang dipakai Bang Rahmat waktu itu sebenarnya adalah jaket hadiah beli pupuk urea, dan sepatu boots-nya yang keren itu adalah sepatu kerja dari pabrik sawit tempat dia bekerja dulu. Dengan kata lain abangku itu tak menjanjikan apapun.

Aku tak bisa berkata-kata lagi mungkin memang sudah jalannya Darsi dah abangku bertemu.

***

Sudah hampir sepuluh kali aku bolak-balik dari dapur menuju ruang tamu untuk memastikan bahwa Bang Rahmat tidak ke mana-mana hari ini. Sore ini, Darsi akan pura-pura berkunjung ke rumahku sebagai seorang sahabat. Kemudian kami akan mengobrol lalu aku akan mengajak abangku untuk bergabung. Walaupun sebetulnya, aku belum membicarakan ini kepada abangku. Aku benar-benar bingung harus menyampaikannya bagaimana.

Saat Darsi baru saja tiba dan kami duduk di teras, tiba-tiba, pintu depan terbuka. Bang Rahmat keluar hanya menggunakan kaus partai , celana kolom sarung, dan memegang garpu tanah yang bengkok.

“Rin, ini garpu tanah mau abang pakai buat korek got depan, ada yang tersumbat …,” Bang Rahmat terhenti. Matanya membelalak melihat Darsi berdiri di teras.

Seketika, Bang Rahmat membeku. Garpu tanah di tangannya bergetar. Wajahnya langsung merah padam. Tanpa mengucap sepatah kata pun, dia berbalik badan dengan gerakan patah-patah seperti robot rusak, lalu masuk kembali ke dalam rumah dan mengunci pintu.

Aku menepuk jidat. “Aduh,” ucapku. Darsi pasti sudah tak ada rasa dan sadar kalau abangku ini cuma duda aneh yang kelakuannya serba canggung.

Namun ketika kutoleh Darsi, matanya justru berbinar-binar. Air mata haru tampak menggenang di sudut matanya.

“Luar biasa…” bisik Darsi dengan nada terkagum-kagum.

“Eh? Luar biasa gimana, Dar?” tanyaku heran.

“Dia … dia sengaja kerja bakti membersihkan got demi lingkungan! Pekerja keras, ramah lingkungan, dan tidak sombong!” Darsi menggenggam tanganku erat-erat. “Rin, mantap! Besok aku bawa Kakek ke sini buat ngobrol dengan orangtuamu!”

Darsi langsung pergi dengan melambaikan tangan gembira, meninggalkan aku yang berdiri terpaku di teras. Dari balik jendela, kusaksikan Bang Rahmat mengintip lewat celah gorden dengan wajah pucat pasi.

“Rin…” bisik Bang Rahmat dari balik jendela, suaranya gemetar. “Cewek aneh itu udah pergi belum?”

Dumai, 25 Juli 2026

 

Rosna Deli perempuan penyuka keramaian.