Persimpangan Rasa

Persimpangan Rasa

Persimpangan Rasa

Oleh: Layla Nusayba

Ada saat-saat di mana Jalu mengumpat setiap lampu lalu lintas menyala merah. Ia ingin segera pulang. Begitu lampu berubah hijau, ia akan menekan klakson berkali-kali, mendesak motor-motor di depannya agar lekas bergerak. Ia ingin secepat mungkin tiba di kontrakan. Di sanalah Ratna biasa menunggunya di ranjang, telanjang.

Tapi kini Ratna telah pergi, dan perempuan bersuami memang semestinya pergi, tidak berbaring sembarangan di kasur lelaki lain. Namun, saat Ratna menyampaikan kata perpisahan di kamar kontrakan usai mereka menuntaskan hasrat, Jalu tidak sanggup menerimanya.

“Suamiku sudah selesai tugas luar kota. Dia akan pulang minggu depan. Kita tidak bisa begini lagi, Jal.” Suara datar Ratna memecah keheningan kamar.

“Kenapa tidak lewat video call saja?” Suara Jalu bergetar, memelas. “Tiga hari sekali pun tidak masalah. Atau seminggu sekali.”

Ratna tidak menjawab. Ia bangkit, merapikan pakaiannya dengan sedikit buru-buru, lalu meraih tas tangannya tanpa sekali pun memandang mata Jalu. Diamnya Ratna adalah sebuah penolakan mutlak. Langkah kaki perempuan itu perlahan menjauh, menghilang di balik pintu, meninggalkan Jalu sendirian.

“Sial!” Jalu memukul kasur.

Di sela-sela riuh mesin pabrik tempatnya bekerja, Jalu selalu jadi bahan lelucon kawan-kawannya. Umurnya hampir kepala tiga, tapi ia tidak pernah punya pacar. Ruang kepalanya penuh dengan kesalahpahaman tentang perempuan. Pernah ia menaruh hati pada seorang gadis, dan sudah terlanjur melambung tinggi, tapi dijatuhkan oleh kenyataan pahit bahwa gadis itu hanya menganggapnya sebagai kakak tempat mengadu.

Ketakutan akan penolakan membuat Jalu melarikan diri ke rimba digital. Di balik layar ponsel, asmara terasa lebih murah dan aman. Melalui media sosial, Jalu mulai menyusun identitas baru. Ia mengunggah foto-foto dengan filter berlapis yang mengikis habis pori-pori kasar dan jerawat batu di wajahnya. Ia mengaku-ngaku sebagai lelaki mapan yang kesepian, membual tentang hal-hal yang tak pernah ia miliki.

Di jagat maya itu pula ia bersua dengan Ratna. Di antara foto-fotonya, ada satu yang paling sering dipandangi Jalu. Kulitnya semulus porselen, matanya bulat jernih, dan senyumnya seolah sanggup meruntuhkan kesepian Jalu yang menahun. Di foto itu, Ratna mengenakan gaun merah selutut dengan latar belakang kafe yang estetik.

Ketika Ratna mengirim pesan dan mengajak bertemu, Jalu mendadak mulas dan dirundung kebimbangan. Ia berdiri lama di depan cermin, memandangi giginya yang agak tonggos dan kulitnya yang kusam. Ia takut apa yang telah dibangunnya runtuh seketika saat wajah aslinya telanjang di dunia nyata. Namun, rasa penasaran mendorongnya untuk tetap berangkat bertemu Ratna.

Halte dekat terminal dipenuhi debu dan asap kendaraan. Suara teriakan dan klakson saling bersahutan di bawah terik matahari, membuat Jalu sesekali memijat pelipisnya. Ia berdiri di dekat tiang listrik dengan jantung bertalu-talu, memandangi sekeliling sampai seorang perempuan kurus berambut keriting melambaikan tangan ke arahnya. Riasan tebalnya mulai luntur akibat keringat. Jalu tertegun, mendadak kehilangan kata-kata.

Saat mereka akhirnya duduk berhadapan di bangku semen panjang halte, Jalu menunduk menatap sepatunya, sementara Ratna pura-pura sibuk mengecek layar ponsel. Tak satu pun berani menatap terlalu lama. Di antara jeda-jeda canggung itu, kenyataan merobek imajinasi yang selama ini mereka bangun. Keduanya jauh dari sosok yang mereka tampilkan di media sosial. Mereka sama-sama pembohong.

Jalu meremas bungkusan rokok di tangannya, memecah kecanggungan dengan suaranya yang parau. “Ki-kita jadi cari tempat?”

Ratna tidak mengiakan, tapi ia juga tidak menggeleng. Perempuan itu hanya bergeming, menatap Jalu dengan tatapan yang sulit diartikan.

Ucapan kawannya dulu mendadak menyengat kepala Jalu. “Kalau diam saja, berarti dia mau.”

Menganggap diamnya Ratna sebagai lampu hijau, Jalu langsung berdiri dan melangkah menuju motornya. Benar saja, Ratna bangkit dan berjalan mengekor di belakangnya tanpa sepatah kata pun. Perempuan itu benar-benar tidak menolak.

Di atas ranjang kontrakan yang berderit, Ratna mengenalkan Jalu pada bagian tubuh manusia yang purba, sebuah dunia pekat yang belum pernah disentuh oleh imajinasi Jalu yang gersang. Di bawah remang lampu kamar, segala kekurangan fisik menjelma menjadi kehangatan yang menyelamatkan. Ratna meliuk-liuk seperti pucuk alang-alang ditiup angin, dan sejak sore itulah Jalu jatuh cinta setengah mati. Ia tidak mencintai kecantikan wajah, melainkan keintiman yang membuatnya merasa menjadi seorang lelaki seutuhnya.

Klakson nyaring dari kendaraan di belakangnya membuyarkan lamunan Jalu. Lampu lalu lintas sudah berubah hijau. Jalu membalas dengan menekan klaksonnya bertubi-tubi, melampiaskan kejengkelan pada deretan motor di depannya, lalu menarik gas sambil mengumpat, “Taik!”

Namun, ia tidak membelokkan motornya ke arah gang kontrakan. Jalu enggan pulang untuk menemui kamarnya yang sunyi. Ia membiarkan motornya melaju membelah pusat kota, hingga akhirnya berhenti di depan taman kota yang mulai beranjak sepi.

Jalu turun, memilih duduk tepat di bawah lampu jalan kuningan. Beberapa meter di sampingnya, sepasang remaja sedang tertawa di atas motor, dan dua tukang becak sedang mengobrol sambil menunggu penumpang. Kota ini masih cukup ramai oleh suara tawa dan deru mesin, tapi Jalu merasa seolah tengah duduk di lahan kosong.

Ia merogoh saku jaket, mengeluarkan sebungkus rokok kretek, lalu menyalakannya sebatang. Asap tebal mengepul, melayang, lalu hilang disapu angin malam. Jalu menatap ujung rokoknya yang membara kemerahan, persis seperti warna lampu lalu lintas yang dibencinya. Ia mengisap rokoknya dalam-dalam, membiarkan dadanya sesak oleh nikotin, berharap rasa hangat itu bisa menggantikan liukan pucuk alang-alang yang kini telah kembali ke pelukan lelaki lain. Sebelum batang pertama benar-benar habis terbakar menjadi abu, jemarinya yang gemetar sudah bersiap menyalakan batang berikutnya. (*)

Solo, 25 Juli 2026

 

Layla, perempuan Jawa yang suka membaca dan jajan. Ia sedang belajar menulis dengan baik.