Sebelum Amplop Itu Dibuka

Sebelum Amplop Itu Dibuka

Sebelum Amplop Itu Dibuka

Oleh: Maurien Razsya

Sih Mertawati datang terlalu pagi. Saya belum membuka pintu tapi saya tahu dia sudah ada di depan sana. Hanya Sih Mertawati yang mengetuk keras sambil memanggil Bapak. Tidak seperti tamu lain yang mengetuk lalu mengucap salam pelan. Atau mengetuk saja. Atau salam saja. Sih Mertawati selalu mengetuk, tepatnya menggedor pintu, sambil memanggil Bapak dengan suara kencang.

Sebenarnya saya malas membuka pintu untuknya. Namun, Sih akan tetap menggedor dan berteriak sampai seseorang datang. Entah itu penghuni rumah atau pun Mak Linah, penghuni rumah sebelah, yang jengah dengan keberisikan Sih Mertawati. Jadi, dengan pelan saya membuka pintu.

“Mana Uak Leno?” Sih mengernyit ketika melihat saya yang membuka pintu.

“Belum pulang.” Saya meliriknya sekilas lalu menatap langit di belakangnya yang masih setengah gelap.

“Katanya pulang malam?” Sih Mertawati masuk dan dengan cepat berjalan ke dapur. Tas cokelatnya bergoyang seiring rambut yang dikuncir.

Saya terbeliak, tak menyangka Sih akan langsung masuk ke dapur. Dapur masih berantakan. Saya memang sengaja bermalas-malasan pagi ini, mumpung Bapak sedang ke kota dan mengabari tidak jadi pulang semalam. Tapi Sih Mertawati tentunya bukan orang yang saya inginkan melihat betapa berantakannya dapur. Piring-piring bekas makan kemarin belum saya cuci. Panci bergagang dengan dua helai mi yang sengaja saya biarkan mengering masih nangkring di atas kompor. Bekas bungkus mi instan saja masih belum saya singkirkan dari meja dapur. Belum lagi gelas Bapak yang saya pakai selama tiga hari ini masih ada bekas tehnya.

“Uak!” Sepertinya Sih Mertawati tidak percaya pada ucapan saya.

Sih Mertawati bukan siapa-siapa. Dia dikenalkan Bapak kepada saya sebagai anak dari mendiang teman Bapak. Maka sejujurnya saya kesal saat Sih muncul tiap Minggu hanya untuk mencari Bapak, tak lama setelah ayahnya meninggal. Dia judes kepada saya. Bibir tipisnya selalu selurus penggaris ketika melihat saya. Beda sekali saat dengan Bapak. Berbinar dan tersenyum. Sih dan Bapak biasa mengobrol di ruang tamu selama satu jam. Seringnya lebih lima sampai delapan menit. Dengan saya, hanya jika perlu dan sekedarnya saja. Dan saya sangat risih mendengar nada panggilannya kepada Bapak yang meliuk dan centil. Termasuk kekepoannya pada kepulangan Bapak seperti ini.

“Bapak pulang nanti malam.”

“Bohong.”

“Atau besok.”

“Aduuuh! Besok aku ga bisa ke sini.”

Saya menggigit ujung bibir. Itu lantaran menahan kesal sekaligus muak mendengar Sih melafalkan huruf s yang terdengar seperti menambahkan y. Besyok, bisya, syini.

Sih Mertawati melirik gelas Bapak. “Kalau Uak tahu gelasnya dipakai, pasti Uak–.”

“Enggak. Tidak akan marah. Bahkan semisal aku pecahkan saja, tidak akan marah.”

Sih terdiam. Sepertinya dia kaget dengan nada suara saya yang sedikit meninggi. Saya ingin mengusirnya. Dia malah hanya melirik saja lalu duduk di kursi tepat di depan gelas Bapak. Tas cokelatnya diletakkan di pangkuan. Jemarinya hanya beberapa senti dari gelas itu.

Saya mengambil gelas Bapak dan membuang kantong teh celup yang mulai mengering di dalamnya. Gelas itu saya taruh di sebelah tempat cuci piring dalam keadaan terbalik. Lalu, saya mulai mencuci piring-piring yang menumpuk. Daripada saya semakin kesal melihat Sih Mertawati, lebih baik saya punggungi saja dia sembari mencuci.

Dulu, saya menerimanya dengan senang hati karena kami hanya berbeda setahun. Sih Mertawati lebih tua dari saya. Juga karena dia sudah tidak punya ayah. Lalu, setelah sekitar empat bulan, ketika Ibu pergi tanpa pamit dan ponselnya tidak bisa lagi saya hubungi dan Bapak tidak pernah mau membicarakan Ibu dan Sih Mertawati datang tiap Minggu, maka saya mulai menumpuk prasangka buruk dalam pikiran.

Mungkin Ibu pergi karena risih Sih Mertawati datang tiap Minggu dan Bapak terlihat sering berdua dengannya. Mungkin Sih mau merebut Bapak dari saya dan Ibu lalu menjodohkan Bapak dengan ibunya. Mungkin malah Sih Mertawati sendiri yang mau mendekati Bapak untuk dirinya sendiri. Hati saya makin murka dengan semua prasangka itu.

“Uak selalu cerita tentang kamu.”

Tangan bersabun saya berhenti. Telinga siap mendengar lanjutan omongan Sih.

“Kata Uak kamu itu keras kepala, pemalas, dan suka menunda.”

Saya berbalik dan mendapati Sih sedang menyapu dapur dengan pandangannya. Saya kembali membilas piring.

“Tapi Uak selalu ketawa kalau cerita tentang kamu.”

Piring terakhir saya letakkan perlahan-lahan. Bapak tertawa saat bercerita tentang saya tentu saja menarik. Seperti ada bunga mekar di kepala saya.

“Ayah dulu bilang kalau Uak sudah sayang sama orang, Uak tidak akan memuji orang itu di hadapannya. Malah sering ngomelin.”

Sih Mertawati bicara terlalu banyak dari biasanya. Tapi baru kali ini saya suka. Napas saya semakin teratur. Tidak memburu seperti tadi. Kerut di dahi juga menyamar. Pertanda rasa kesal saya memudar. Nada suara pun menurun.

“Kalau Bapak sayang, kenapa kamu yang diajak cerita?”

Pertanyaan saya tidak dijawab. Sih membatu sesaat. Saya pun tidak butuh jawabannya. Saya hanya menegaskan apa yang sebenarnya sama-sama kami pahami. Tentang Bapak yang sibuk saat saya mencoba mengajaknya bicara dan tentang Bapak yang tiba-tiba selalu senggang saat Sih Mertawati datang.

“Kenapa harus sekarang kamu ketemu Bapak?”

Sih Mertawati menoleh, lalu mengeluarkan amplop cokelat jumbo yang sudut-sudutnya sudah lecek dari tasnya. “Ini dari Ayah buat Uak. Uak harus menerimanya hari ini. Besok aku pindah Surabaya.”

Otak saya mencerna perlahan sambil kebingungan memutuskan harus sedih atau bahagia. Sih Mertawati ini akan pergi. Tidak akan ada lagi gedoran disertai teriakan tiap Minggu. Tidak akan ada lagi liukan suaranya memanggil Bapak dengan manja. Pun lafal s yang berubah jadi sy.

“Kenapa baru sekarang?” Pertanyaan saya sebenarnya untuk rencana kepergian Sih. Untungnya di telinga dia berubah arti.

“Amplopnya? Aku takut kalau Uak baca, Uak tidak mau ketemu aku lagi.”

“Bukannya kamu datang tiap Minggu?”

Sih tersenyum kecut. “Karena tiap aku datang aku berharap bisa ngasih ke Uak.”

Kami terdiam.

Suara motor yang sangat familiar membuat kami berdua menoleh serentak ke arah pintu depan. Motor Bapak!

Sih Mertawati berlari lebih dulu. Saya mengikuti dengan pelan di belakang.

Bapak terlihat lelah saat meletakkan helm di atas lemari sepatu. Jalannya sedikit tertatih dengan kepala menunduk.

“Uak!” Sih Mertawati memanggil riang seperti menyambut kedatangan ayahnya.

Bapak mendongak, lalu tersenyum saat melihat Sih. Sementara, saya tidak dilirik sama sekali. Namun, senyumnya menghilang saat melihat amplop cokelat di dekapan Sih.

“Ini dari Ayah.” Sih menyodorkan amplop kepada Bapak.

Tidak ada senyum di wajah Bapak. Hanya hela napas panjang. Bapak menerima amplop lalu menatap saya.

“Kita buka di ruang tamu. Kamu ikut. Ada sesuatu yang memang seharusnya sudah kamu dengar juga.”

(*)

Kotabaru, 27 Juli 2026

Erien. Ibu yang belajar membaca.