Sembilan Tahun Perayaan dan Cara Mengakhirinya
Oleh : Kepik Merah
Lima belas hari lagi adalah hari jadi pernikahan Bill dan Helen di tahun kesekian yang tidak akan terjadi karena salah satu dari mereka meninggal sehari sebelum hari-H. Mereka sempat berencana membeli kue cantik lengkap dengan lilin berbentuk angka untuk merayakannya. Seperti yang sudah-sudah, keduanya juga akan bertukar kado di hari bahagia itu. Sambil menyuap potongan kue dan meneguk anggur yang dibeli dari toko terkenal, mereka akan mengobrol santai, cerita tentang hari-hari pahit, lelucon manis, pertengkaran kecil, dan impian sederhana yang satu persatu terwujud. Setidaknya itulah yang masih dipikirkan Helen di sela tegukan brendi.
Bill yang belakangan jadi agak gemuk karena makanan berminyak biasanya membeli buket bunga mawar putih dari toko pernak-pernik ulang tahun di seberang gedung apartemen mereka, mengingatkannya pada momen hari pernikahan dulu, buket pengantin yang dilempar Helen dan ditangkap oleh adik sepupunya—Stella. Manis sekali gaya roman Bill, pikir Helen. Sementara perempuan yang mengaku tidak mau punya luka sayatan di tubuhnya—terutama di bagian perut dengan alasan kurang leluasa saat seharian menjaga butik keluarga—dia sendiri pernah berkelana keliling kota mencari jam tangan klasik yang sempat dibubuhi tanda hati oleh Bill melalui akun sosial medianya suatu sore. Helen mengatakan bahwa dia amat menghargai setiap waktu bersama Bill, menghargai ketulusannya, dan segala kekurangannya—yang kadang-kadang dia merasa bahwa Bill agak susah ditemui di kantornya karena urusan rapat.
Lima belas hari lagi, seingat Helen, Bill nanti akan bersikap selayaknya pria beristri yang memesan sebuah kamar mewah di pusat kota, setelah sebelumnya melakukan reservasi di restoran untuk tamu dua orang. Sementara Helen bersiap dengan gaun malamnya keluar dari salon yang melayani pengunjung istimewa, memanggil taksi menuju tempat mereka janjian. Makan malam sederhana yang Bill dan Helen inginkan hanya terdiri dari tiga hidangan masing-masing.
Yang pada makanan pembukanya nanti, seperti pada perayaan kedelapan, selagi pelayan menuangkan anggur beraroma manis bunga bercampur bau tong kayu pekat ke gelas berleher tinggi seperti angsa kristal, Bill memulainya dengan buket bunga yang dia bawa lalu diberikannya pada Helen. Kali ini (lagi-lagi seingat Helen) di antara bunga-bunga mawar putih itu, terselip sesuatu yang berkilau dan melelehkan hati Helen. Bill menyematkannya di jari Helen dengan tersenyum hangat. Helen buru-buru mengedipkan matanya yang terasa berair sebelum merusak riasannya yang ditata dramatis.
“Aku bertanya-tanya, jari siapa yang kau pinjam untuk mengepaskannya saat kau beli ini. Aku suka sekali,” ungkap Helen penasaran.
“Sayang, aku tahu ukuranmu,” sahut Bill bikin Helen tersipu. Jelas saja, dia sudah menghitung ribuan malam menggenggam jari-jari kecil itu. Tak mungkin meleset, pikirnya.
“Jariku dan Stella sama persis, bukan? Aku pernah pergi ke salon kuku dan melihat warna yang sama untuk kami kenakan.” Helen mengamati cincin berhias sebutir berlian yang besarnya seperti kacang polong mengilap di jari manisnya.
“Jarimu lebih kecil, Sayang. Aku bersyukur mereka membuatkannya dengan edisi khusus,” kata Bill bangga.
Helen melebarkan mata, tertarik pada setiap kata yang keluar dari mulut Bill. “Ah, begitu rupanya.”
Denting piano terdengar lembut, di pentas sana berdiri seorang penyanyi wanita asal Brasil, sedang menyanyikan lagunya Elvis Presley berjudul “Can’t Help Falling in Love”. Di antara lima meja yang telah dipesan khusus oleh pasangan yang juga sedang mabuk asmara, wanita bergaun satin hijau zamrud itu menatap sepasang kekasih yang duduk paling dekat panggungnya. Dia melambai ringan pada Bill si pemesan lagu tersebut, lalu matanya kepada Helen dia bilang, “Lagu ini untukmu, Sayang.” Tentu saja Helen tersipu dua kali.
Pada saat hidangan utamanya tiba, dan penyanyi wanita belum usai dengan liriknya, saat pelayan meletakkan piring-piring berisi potongan hati angsa dan kaviar di atas daging setengah matang, Helen minta tambah anggur di gelasnya yang hampir kosong. Saat itu, pelayan mengerti kode dari tamunya. Hadiah dari Helen sedang dipersiapkan di dapur restoran mereka.
“Sebenarnya aku sudah mempersiapkan hadiahmu ini sejak tahun lalu, Sayang. Aku lihat kau memandanginya sore itu di beranda. Kau gugup sekali, tapi aku tahu kau menyukainya. Aku bisa saja berikan saat itu juga. Tapi aku menunggu waktu yang tepat,” ucap Helen usai mengelap pinggiran bibirnya tanpa menggeser lipstik merahnya.
Bill tidak bereaksi untuk mengetahui arah pembicaraan sang istri yang terlihat agak mabuk anggur padahal belum juga habis satu botol. Dia tahu istrinya bukan peminum hebat, dan tak pernah menemukannya pergi minum-minum di luar rumah. Jadi sangsilah dia ketika membiarkan pelayan menuang anggur tambahan ke gelas mereka.
“Kau sudah tahu ya?” tanya Bill.
Helen—yang pipinya tampak memerah panas oleh alkohol, memanyunkan bibirnya seperti gadis-gadis imut yang sering dipandangi lelaki di gawai mereka. Helen mengangguk seolah-olah dia yakin dengan kata-katanya. Lalu pelayan yang mendorong troli nampan hadiah Helen datang, disodorkannya piring tertutup benda berbentuk kubah transparan itu. Begitu dibuka, Bill melihat sebuah kotak hijau zamrud yang tampak gagah. Bill tidak terkejut, sebab logo mahkota emas di depan kotak itu sudah menunjukkan nama toko pembuatnya.
“Jam tangan itu butuh waktu lama mengambilnya dari toko, dan dari yang kulihat ternyata kau tidak lagi antusias.”
Helen berdiri dari kursinya dengan langkah ringan dan masih tersenyum imut, ia meraih jam tangan itu untuk dipakaikan kepada Bill yang diam mengamati.
“Aku menyukai ini, Sayang, sungguh. Bukannya aku tidak lagi antusias. Aku tahu kau akan memberiku apa pun yang kutandai di layar. Astaga, aku sungguh sangat sadar dan beruntung jadi suamimu, Sayang.”
“Tadinya aku sempat bingung, yang manakah yang kau beri tanda hati. Jam tangan itu, atau pemilik akunnya. Haruskah aku bawakan Stella saja untukmu?” tanya Helen sambil menatap dalam mata suaminya yang kebiruan.
Bill terperangah akan celotehan sang istri.
Perayaan kedelapan malam itu berakhir dengan dingin. Sementara hari berganti pekan, pekan berganti bulan, bulan berganti tahun, dan perayaan berikutnya telah menunggu. Jika tak menuruti ego, sebenarnya Bill masih punya kesempatan untuk melakukan perbaikan hubungannya dengan Helen yang sudah terlalu lama membeku. Kenyataannya, mereka masih bertahan satu tahun lagi hanya karena sidang cerai yang alot tak kunjung memberi akhir.
Perut Helen mual dan kepalanya terasa berat saat bangun pagi, dia berjalan menuju kamar mandi sambil menyingkirkan botol-botol brendi yang telah kosong di lantai kamar apartemennya. Setelah selesai berganti baju, ia menyiapkan sarapan untuk porsi tunggal, sebab pasangannya tidak lagi tinggal bersamanya dan memilih tinggal dengan keluarga barunya yang harmonis. Helen membayangkan tawa riuh anak-anak yang mengusik telinganya di pagi hari, seketika dia enggan menyantap roti panggang beraroma mentega dan bawang putih itu, dan meninggalkan mejanya sampai nanti malam hari dia pulang kerja lalu membersihkannya.
Helen tidak menjadi dirinya lagi setahun belakangan. Kerjanya lamban, tidak bergairah, dan sudah kehilangan lima pelanggan setia yang dulu selalu minta dipilihkan model busananya oleh Helen. Dan hari itu, dua pekan lalu, akhirnya ia meminta cuti libur yang tak pernah diambilnya selama bekerja. Meski ia tidak tahu harus berlibur ke mana. Saat keluar dari butik yang pintu utamanya menghadap langsung ke jalan poros yang dilalui kendaraan bising, langkah Helen terhenti. Matanya menatap aspal jalanan yang baru saja dilindas sebuah Rolls-Royce besar. Dia berpikir untuk menyeberang ke sana padahal tanda peringatan bagi pejalan kaki masih merah. Pikiran itu segera ditepisnya mengingat jadwal persidangan terakhir sudah ditentukan besok lusa, tepat sehari sebelum tanggal perayaan. Helen menyeka sudut matanya yang merembes, lalu mencangklongkan tas bahunya dan berlalu.
Dua pekan berlalu. Puncak musim panas bulan Juni dan matahari terbenam lewat pukul sembilan malam. Saat melewati pintu masuk, ia melirik sekilas kotak suratnya, sebuah surat undangan dari pengadilan. Dia tidak mengambilnya. Pun Helen tidak berniat menyalakan lampu-lampu, membiarkan ruangan apartemen yang dulunya bebas bau alkohol itu kini hanya disinari berkas cahaya yang menyusup dari jendela dan menyentuh botol-botol brendi di lantai.
Helen berjalan terus menuju nakas di dapurnya yang sudah dihafalnya meski cahaya remang-remang. Ia mengambil sebotol brendi dan tidak memerlukan gelas sloki seperti orang normal. Dari dalam nakas yang paling gelap ia kemudian mengeluarkan sesuatu dari sana yang sudah lama terbungkus kertas buram. Lalu duduklah ia di meja yang berada di tengah dapur itu bukan di kursinya, diletakkannya brendi itu di sisinya. Ia memejamkan mata, dan menghirup napas cukup dalam. Ia membuka matanya lagi dan telah siap menuangkan bubuk arsenik itu ke dalam brendi terakhirnya.[]
Penajam, 25 Juni 2026
Kepik Merah, perempuan milenial yang lahir di Balikpapan.
