Kereta Pagi

Kereta Pagi

 

Kereta Pagi

Oleh: M Indah

Ben masuk kereta lima menit sebelum waktu keberangkatan dan segera menuju kursi 5D. Namun, di kursinya itu telah duduk seorang wanita setengah baya yang tengah menikmati nasi bungkus. Ben melihat penanda di sebelah pintu untuk memastikan nomor gerbong. Gerbong 5. Dia tidak salah. Maka dengan setengah hati dan suara yang terdengar sopan, Ben menegur wanita itu.

“Oh, Masnya yang duduk di sini? Boleh tuker dulu ndak?” jawab wanita berbaju terusan cokelat tua itu setelah menelan makanan dalam mulutnya. Dandanannya khas wanita setengah abad dengan rambut model pixie yang poninya dibiarkan berantakan menutupi sebagian kening. “Saya masih sarapan, nih,” lanjut wanita itu sambil menoleh sekilas.

Ben mengalah, menghela napas panjang sambil memejamkan mata selama dua detik untuk menetralisir emosi yang tiba-tiba naik mendengar jawaban santai teman duduknya itu. Dengan berat hati, Ben duduk di kursi 5C setelah meletakkan ranselnya di rak atas kabin. Kemudian dia sadar bahwa mata cokelat wanita itu mengingatkannya pada seseorang. Ben ingin memastikan penglihatannya, tetapi wanita itu tampak santai menikmati nasi rames dengan sambal terasi dan petai yang menyebarkan aroma yang menyengat hidung Ben, membuat pria berambut cepak itu merapikan masker yang menutup hidung dan mulutnya.

Wanita yang Ben taksir seusia ibunya itu, bahkan menggulir ponselnya sambil mengunyah kemudian berhenti pada sebuah video lagu campursari yang dilantunkan dengan suara mendayu-dayu oleh seorang wanita berpakaian seksi. Ben tidak ingin menghakimi selera musik orang, tetapi lain ceritanya jika musik yang bukan seleranya itu diperdengarkan dengan suara kencang seolah harus terdengar sampai telinga masinis yang berada di lokomotif.

Sebenarnya Ben juga ingin segera menikmati roti lapis isi tuna dan kopi hangat yang dia beli dari kafe di dekat pintu masuk stasiun tadi, tetapi dia menundanya. Nanti saja kalau sudah duduk di kursi sendiri. Akhirnya, Ben membuka meja lipat di kursi lalu meletakkan kantong kertas putih yang berisi sarapannya di sana. Dia menekan lipatan kantong itu agar tertutup lebih rapat.

Pagi yang “sempurna” untuk memulai perjalanan. Ben membuka tas selempang, mengeluarkan buku Blind Willow, Sleeping Woman dan mulai membaca kumpulan cerpen yang baru dibelinya kemarin untuk mengalihkan perhatian dari ibu dan segala hal yang mengganggu di sebelahnya. Suasana hatinya sudah cukup buruk karena hampir terlambat masuk kereta tadi dan dia tidak ingin orang lain semakin menghancurkan hari yang baru dimulainya.

Kereta melaju dengan tenang karena telah mencapai kecepatan konstan. Ben baru membaca satu paragraf ketika si ibu pembawa masalah–Ben tiba-tiba punya ide untuk menyebutnya begitu–melambai-lambai ke arah kursi 5A dan B.

“Bapak, botol minum, Pak!”

Aroma petai yang pekat menyergap hidung Ben seiring suara lantang yang volumenya melebihi musik campursari itu terdengar. Ben juga merasakan sesuatu yang lembab menempel di pelipis kirinya. Sejenak udara membeku, begitu juga dengan waktu. Ben merasa jantungnya berdetak lebih kencang. Cepat-cepat dia menutup buku, membuka tas selempang, mengambil kantong tisu basah, dan menariknya secara serampangan. Dia mengusap pelipisnya dan menemukan sebutir nasi menempel di tisu. Selembar tisu basah yang baru diambil lagi. Ben membuka masker, mengusap seluruh wajahnya dengan lembut berkali-kali. Dia hampir saja mengambil satu tisu basah lagi, jika tidak ingat pesan dokter untuk mengurangi pemakaian tisu basah di wajahnya yang sensitif. Kemudian Ben mengambil dua masker baru untuk dipasang di wajah.

“Walah muncrat. Maaf, ya, Mas …,” ujar ibu pembawa masalah dengan santai sambil berdiri untuk menerima botol air mineral dari suaminya yang duduk di kursi 5B.

Ben hanya tersenyum sekilas dan sibuk memasukkan masker dan tisu bekas ke kantong plastik yang disediakan di kereta api. Jujur saja, sebenarnya dia sangat ingin berkata kepada ibu itu agar tidak berbicara lagi. Sejenak Ben sempat menyesal tidak mendengarkan nasihat maminya untuk memilih gerbong luxury.

“Loh, sampeyan Mas Ben, ya?” celetuk si ibu yang telah mematikan musik di ponselnya. “Temen Mina di SMA 2, kan?”

Ben menoleh penuh ke kiri. Dahinya mengernyit, otaknya bekerja keras menggali ingatan tentang hubungan Mina dan ibu itu.

“Nah bener, kan, Mas Ben. Sek, bentar.” Si ibu kembali sibuk mengutak-atik ponselnya.

[Halo, Buk. Ada apa lagi, se?”] Suara cempreng yang familier masuk ke telinga Ben.

“Sst …, ada Mas Ben ini loh,” ucap si ibu sambil menghadapkan layar ponsel ke arah Ben. Seraut wajah bulat telur dengan anak rambut menutupi dahi muncul di hadapan Ben. Mata Ben membulat.

“Mina? Wihelmina?” Suara Ben tertahan sementara ibu Mina tersenyum lebar sembari mengangguk-angguk sampai rambut depannya makin berantakan. Tiba-tiba ibu Mina menutup mulut dengan sebelah tangan dan beranjak dari kursi. Ponsel dia serahkan begitu saja kepada Ben. Melewati depan Ben, dia meminta sikat gigi kepada suaminya. “Aku lupa Mas Ben ndak suka petai,” katanya dalam suara rendah yang masih tertangkap telinga Ben.

Sementara itu, Mina di ujung sambungan memanggil-manggil ibunya karena kaget melihat layar ponsel yang tiba-tiba menampilkan setengah wajah Ben disusul penampakan langit-langit kereta api. Dengan jantung berdebar kencang, Ben menghadapkan layar ponsel ke wajahnya. Mina benar-benar di sana. Wajahnya masih sama: putih bersih dengan pipi tetap kemerah-merahan meskipun tanpa riasan. Mata bulatnya membesar melihat wajah Ben muncul di layar, alih-alih ibu atau ayahnya.

“Ih, beneran Mas Ben? Kok bisa? Ibuk di mana?”

Dada Ben menghangat. Si cempreng cerewet itu sama sekali tidak melupakannya. (*)

Tangerang 25 Juni 2026

 

M Indah adalah seorang ibu rumah tangga yang sedang belajar menulis.