Rubrik Umum

Seekor Lalat di Bibir Gelas

Seekor Lalat di Bibir Gelas

 

Oleh: Lutfi Rosidah

 

Di tempat ini dia meneguk kenangan. Ini malam pertama bulan Ramadhan. Biasanya, dulu, dia menghabiskan waktu dari sore menjelang maghrib di sebuah surau kecil di kampungnya, ditemani anak-anak sebaya yang tak henti membaca puji-pujian. Berbeda dengan kali ini, segelas bir dan alunan musik, menjadi temannya. Seorang pria berwajah genit dengan perut buncit, berkali-kali menarik tangannya mengajak menari atau mencolek pipinya dengan tatapan kurang ajar. Itu menggelisahkannya, dia tahu segalanya tak lagi sama. Seperti saat pertama kali dia menginjakkan kaki di kota ini.

 

Dulu, saat dia baru saja menamatkan SMA, usai dia menaggalkan rok abu-abu dan kemeja putih yang penuh coretan, dia percaya bakal memiliki masa depan yang bahagia bersama lelaki itu. “Aku akan selalu mencintaimu,” bisiknya usai bibir mereka membasah. 

 

Sekarang ucapan itu hanya serupa bualan lelaki kurang ajar yang tak mampu membayar harga sewanya.

 

Lalu mengapa dia bertahan hingga sekarang bersama seseorang yang setiap saat menggoreskan luka  yang tak pernah mengering? ”Mungkin karena cinta itu buta,” bantah hatinya. Jerat lelaki itu selalu ditebar setiap dia hendak pergi.

 

Waktu bisa mengubah dunia, tetapi waktu tak mampu mengubah perasaannya, kenangannya, yang membuatnya tak pernah punya keteguhan untuk pergi.  Seperti malam-malam sebelumnya, dia akan menghabiskan waktu di tempat ini, menjadi penghibur bandot-bandot tua yang kesepian yang terus bernyanyi meski suara mereka bisa memecahkan gendang telinga pendengarnya. Dia kembali meneguk bir di tangannya sambil sesekali menepis tangan-tangan gatal yang sudah tak sabar ingin menjamahnya.

 

“Aku gak bisa menjemputmu malam ini,” lelaki itu mendesah di ujung sambungan telepon.

 

“Lalu aku pulang sama siapa?” dia mengerutkan kening berusaha membuang kesal yang menyeruak di dadanya.

 

“Hmmm …,”

 

“Kok diem?”

 

“Nanti aku usahakan.”

 

“Beneran?”

 

“Tunggu aku datang,” dia terdengar sungguh-sungguh. “Meski aku juga gak gitu yakin bisa menjemputmu.”

 

Tiba-tiba saja dia berharap sangat pada lelaki itu. Dia merasa sudah terlalu lama mereka tak jalan berdua. Ada rindu yang membuncah di sudut dadanya. Dia berharap takdir sedang berbaik hati, memenuhi harapannya.

 

Ah! Dia jadi teringat percakapan-percakapan malam-malam lalu. Percakapan di antara ciuman-ciuman yang terasa hangat dan gemetar serta malu-malu.

 

“Aku belum pernah melakukannya,” keluhnya di antara kecupan pelan kekasihnya.

 

“Aku akan mengajarimu,” bisik lelaki itu di antara gigitan kecil di telinganya.

 

Ada gejolak yang membuatnya tak bisa menolak semua perlakuan lelaki itu. Semakin lama, dia semakin menginginkannya. Tubuhnya begitu cepat beradaptasi dengan situasi, lebih cepat dari akal sehatnya. Malam itu dia serasa mendaki puncak gunung Himalaya yang membuat napasnya memburu, dahinya berpeluh dan suaranya melenguh.

 

Dia masih bersabar sampai tamu terakhirnya pulang. Terasa menyenangkan membayangkan lelaki itu tiba-tiba muncul di depan pintu café, membuat seluruh wajahnya seketika menghangat. 

 

Dia mendekat pada temannya yang berada di meja bartender, memesan segelas bir lagi sebelum benar-benar meninggalkan tempat itu. Suara hingar bingar di lantai dansa yang terasa panas dengan goyangan pinggul seorang penyanyi yang baginya terasa murung. Murung menapak geliat lidah pada tiap jengkal kulitnya. Murung mengharap geliat lidah itu mengada. Lagi, di sini, di malam ini.

 

Seekor lalat terbang mendekat, hinggap di bibir gelas. Pertanda apakah? Batinnya. Dia memilih tak peduli, meneguk sisa bir dalam gelas dan segera pergi keluar setelah menyelipkan uang tips di bawah gelas yang sering ditolak oleh pria di balik meja bartender.

 

Kakinya melangkah sambil terhuyung, dia teringat percakapan tiga malam sebelumnya. Sehari sebelum dia memutuskan memilih hidupnya sendiri. “Aku selalu suka sorot matamu yang tajam dan kecoklatan.”

 

“Kenapa?”

 

“Aku merasa ingin memasukinya. Tampak begitu nyaman berada di dalamnya.”

 

“Apa perlu kucungkil saja mata ini?”

 

“Belakangan kamu lebih sensitif, membuatku makin merindukanmu.”

 

“Bohong!”

 

“Aku gak pernah membohongimu. Kamu yang selalu membohongiku.”

 

Dia memandang nanar lelaki di sampingnya. Baginya kebohongan adalah sebuah dusta yang direncanakan. Sementara yang dia lakukan adalah sebuah keterpaksaan.

 

“Tidak. Aku tidak bohong.”

 

“Semakin kamu mengatakan tidak semakin aku yakin kamu berbohong.”

 

Dia tak menjawab tapi bergegas mencium dengan rakus dan dalam. Dia seolah ingin menutupi segala kebohongan dengan ciuman. Begitulah setiap dia merasa bersalah. Tapi dia tak bohong ketika mengatakan bahwa dia mencintai lelaki itu. 

 

Hatinya masih sangat berharap lelaki itu akan datang membawa sebuah harapan. Dia sudah terlalu lelah, ingin menyudahi tegukan-tegukan bir yang membuat kepalanya berputar-putar. Lelaki itu yang membawanya dan sudah seharusnya dia yang mengembalikannya.

 

Seperti dia yang tak pernah menghindar dari perpisahan yang getir ketika sebuah mobil sedang terparkir tak jauh dari tempatnya berdiri. Dua sosok manusia sedang bergumul dalam balutan nafsu yang sepanas bara. Dia mengerjab, meyakinkan apa yang ada di depannya bukanlah kenyataan. Pengaruh alkohol bisa saja membuatnya berhalusinasi. 

 

Mulutnya tak sanggup dibungkam dengan kedua tangan. Dia menjerit, mengucap sumpah serapah sambil tangannya menggedor kaca mobil dengan tenaga yang tak seberapa.

 

“Jangan hubungi aku!” itu yang dia ucapkan di depan café saat terakhir kali mereka bertemu. Namun lagi-lagi semua berakhir dengan ciuman. Bagi dia, ciuman itu seperti menghapus aroma bir yang panas di bibirnya. Dia kembali berharap.

 

Barangkali semua akan menjadi mudah, jika semua berakhir dengan pertengkaran. Seperti dalam kisah sinetron murahan, misal, dia menampar lelaki itu dan memaki, “Dasar Bajingan!” atau kata-kata sejenis yang penuh kemarahan. Bukan sebuah ciuman yang membuatnya selalu ingat.

 

Lelaki itu menyadari keteledorannya, spontan dia petik kunci dan menekan gas. Perempuan itu tak sempat menyeimbangkan tubuhnya. Dia terpental, kepalanya membentur aspal. Roda belakang mobil yang berbelok cepat menampar ujung kakinya yang membuat darah mengucur. Perempuan itu menjerit kesakitan.

 

Malam makin mengendap. Di dalam perjalanan beriring dekapan perempuan lain di sampingnya, hati lelaki itu risau. Ada sedikit iba akan nasib perempuan yang beberapa hari lalu masih terlelap dalam pelukannya sambil bergumam, “Apakah kita bisa pulang saja? Aku rindu malam Ramadhan dengan lantunan puji-pujian.”

 

Pulang memiliki makna yang tak sederhana. Pulang sama artinya menikah. Dan dia tidak siap dan tidak yakin. Dia teringat Centeng, penjaga café. “Tolong lihat dia. Aku tak sengaja, bawa dia ke rumah sakit terdekat.”

 

Pada saat Centeng itu menghampiri tubuh yang tergeletak itu, seekor lalat hinggap di bibirnya. Seperti sebuah isyarat, dalam kondisi setengah sadar dia merasa melihat bidadari yang pasrah. Dia rengkuh tubuh yang sedang merintih kesakitan itu, membobongnya ke lorong kosong di sebelah café. Dia melampiaskan semua hasratnya di antara lolongan kesakitan perempuan itu. “Aku ingin pulang. Jangan lakukan itu padaku.” Isak tangis mengiringi permohonan yang makin lemah. Darah terus mengucur pada luka di kakinya, mukanya makin memucat hingga dia mengembuskan napas terakhirnya sesaat setelah Centeng itu meninggalkannya tanpa sehelai busana.

 

Masih terdengar sayup permohonan perempuan itu, “Aku ingin pulang. Aku rindu malam Ramadhan dengan suara puji-pujian.”

 

Malang, 13 April 2021

Sebuah kisah yang terinspirasi dari peristiwa nyata yang terjadi di kotaku bulan Maret lalu.







0

Tulisan terkait

Leave a Reply

Close