Prank

Prank

Prank

Oleh: M Indah

Rafa duduk bersandar di sofa bulat yang ada di ruang tunggu utama bioskop XXI sambil terus sibuk dengan ponselnya. Posisi remaja kelas sembilan itu tidak berubah sejak lima belas menit yang lalu: menyilangkan kaki kanan di atas kaki kiri, tangan yang memegang ponsel bertumpu pada kaki, dan mata terfokus pada layar ponsel. Dia sedang mencari pengganti Fikar yang tiba-tiba membatalkan janji menonton Deadpool & Wolverine bersamanya, setengah jam sebelum dimulainya jam tayang yang dipilih oleh Fikar sendiri.

Sambil merutuki sahabatnya yang sangat kurang ajar membiarkannya tergulung kekalutan berbungkus aroma popcorn karamel, Rafa terus menghubungi teman-teman yang ada di daftar kontak ponselnya. Namun, dia harus menelan kekecewaan demi kekecewaan sebab sebagian temannya menjawab sudah menonton, sebagian belum melihat pesannya, sebagian menjawab tidak bisa, sebagian lagi—ini paling banyak—tak mengacuhkan pesan darinya.

Frustasi dengan respon teman-temannya, kini Rafa mencari jalan lain. Pokoknya dua tiket di tangannya harus digunakan. Dia tidak mau membuang-buang uang percuma. Ya, meskipun Fikar mengatakan bahwa dia akan mengganti uangnya, Rafa tetap tidak mau tiket itu menjadi barang tak berharga. Uang memang bisa dicari, tetapi harus dimanfaatkan semaksimal mungkin, demikian pesan kedua orang tuanya.

Remaja berambut jabrik yang mengenakan hoodie cokelat tua dan celana jin hitam itu kini memperhatikan sekeliling. Dia mencari pengunjung bioskop yang kira-kira belum membeli tiket.

Seorang gadis berambut cepak dan mengenakan topi baseball yang sengaja dimiringkan baru saja masuk pintu utama sendirian. Dari dandanannya, Rafa menyimpulkan gadis itu sebaya dengannya dan kemungkinan besar punya minat terhadap film laga ala superhero.

Maka, Rafa mengumpulkan segenap keberanian untuk menawarkan tiketnya, yang ternyata ditolak mentah-mentah oleh si gadis. Keributan dengan gadis berkaos putih dan overall biru itu hampir saja membuat Rafa dicurigai sebagai predator yang sedang menyamar untuk mencari mangsa.

Alamakjang! Bagaimana mungkin bocah SMP sepolos dirinya dianggap predator?

Rafa hendak kembali ke tempat duduknya semula, tetapi tampaknya kemalangan belum mau berpisah dengannya. Sofa yang tadi dia tempati telah terisi pasangan muda-mudi yang terlihat sedang mabuk asmara.

Demi ikan asin jambal roti yang suci!

Rafa kembali menumpahkan kekesalan kepada Fikar, tetapi hanya di dalam kepalanya. Kalau saja bocah gemoy yang selalu ngos-ngosan ketika lari dua putaran lapangan sepak bola pada pelajaran olah raga itu tidak membatalkan janji, pasti dia tidak akan berada dalam posisi menyedihkan seperti sekarang. Sendirian, di ruangan beraroma popcorn yang manis dan menggoda, di antara kerumunan orang yang berkelompok atau berpasangan, berjuang mencari teman menonton tapi tiada hasil.

Mungkin dalam film India yang biasa ditonton sang ibu, Rafa adalah seorang tokoh laki-laki yang tengah berlari di padang pasir maha luas, sambil bernyanyi lagu sedih, mengharu-biru bersama selusin penari latar yang bergoyang sesuai irama. Well, sepertinya itu lebih menyenangkan daripada berdiri sendiri di pojok ruangan sambil terus mengecek jawaban teman-teman di ponsel.

Akhirnya, panggilan dari teater lima berkumandang dari pengeras suara. Dengan lesu, Rafa melangkah menuju pintu di ujung kanan jauh yang telah terbuka. Saking sibuknya mencari teman menonton, Rafa sampai tidak sempat membeli minuman dan popcorn. Tidak berminat, lebih tepatnya.

Tiba-tiba seseorang menubruknya dari belakang hingga badan kurusnya hampir terjungkal. Makian sudah sampai di ujung lidah ketika dia merasakan seseorang menarik tangan kanannya hingga dia urung mencium karpet bioskop. Rafa menoleh dan mendapati sebuah wajah bulat dengan senyum super tengil terpampang nyata.

“Sialan lo!” Rafa tidak dapat menahan lagi umpatannya. Reflek dia melayangkan tangannya ke kepala Fikar, tetapi berhasil dihindari dengan mulus oleh sohib gemoy-nya itu.

“Hehe, kejutan!” Muka Fikar kini menampilkan senyum ceria seperti biasanya.

“Muke lo kejutan!” Rafa hampir saja terpancing untuk melanjutkan caci-makinya jika Fikar tidak menggelandangnya mendekati petugas pemeriksa tiket. Remaja yang selalu kesulitan memulai percakapan dengan orang baru itu merasakan kedongkolannya mulai menguap seiring langkah mereka mendekati kursi. Apalagi, dia mencium aroma popcorn karamel, yang menjadi favoritnya, dari arah Fikar.

Biarlah dia menikmati film ini. Urusan balas dendam kepada Fikar akan dia pikirkan nanti. Kalau ingat.[]

Tangerang, 17 Maret 2026

M Indah adalah ibu rumah tangga yang sedang belajar menulis meski tak jua kunjung menghasilkan tulisan berkualitas.