Detak Jantung Kebahagiaan

Detak Jantung Kebahagiaan

Detak Jantung Kebahagiaan
Oleh: Ika Mulyani

Matahari, sepanjang yang kuingat, sudah terbenam lima belas kali, dan sebentar lagi kelihatannya akan kembali terbit, tapi aku masih saja di sini. Tergeletak. Sendiri. Terlupakan.

Gelap sekali di sini ketika matahari sudah menghilang. Dan sangat sepi. Sebenarnya siang pun tidak ada bedanya, tetap sepi. Hanya ada suara gemerisik daun kering bila tertiup angin, atau sesekali terdengar suara jangkrik, atau binatang lain entah apa.

Aku tahu, aku tengah berada di sebuah tempat yang mereka—para manusia—sebut sebagai kebun raya. Dan dari percakapan para tupai yang kudengar saat mereka melompat-lompat di atas pohon di dekatku, juga dari sepasang burung pipit yang baru datang dua hari lalu, saat ini aku sedang berada di bagian dari kebun raya yang paling jarang dilewati oleh manusia. Jadi, aman, kata mereka. Tidak akan ada tangan jahil yang akan mengganggu atau merusak sarang atau tempat mereka menyembunyikan persediaan makanan. Tapi dengan begitu, kemungkinan untuk aku ditemukan dan diselamatkan pun jadi makin kecil. Justru seekor musang yang menemukanku kemarin. Mungkin dikiranya aku mangsa yang lezat untuk disantap. Sebelah telapak kakiku, yang kiri, habis dicabik-cabik giginya yang runcing. Carikan dari kulit tubuhku dan kapas lembut yang mengisinya pun berhamburan tertiup angin.

Tanganku, juga yang sebelah kiri, pernah mengalami hal yang sama. Kala itu, pelakunya adalah anjing milik Mona, gadis kecil yang membawaku keluar dari toko besar di sebuah pusat perbelanjaan. Dia pemilikku sebelum Sari.

Kalau dihitung-hitung, setelah Mona dan Sari, aku sudah berpindah tangan sebanyak empat kali. Aku masih ingat nama-nama mereka: Yanti, Mira, Susi, dan Nino. Sari adalah favoritku meski dimainkan oleh Nino selalu terasa seru.

Sari yang menyelamatkanku dari tempat sampah di rumah Mona. Dia merengek pada ibunya untuk menyambungkan kembali tanganku yang putus. Ibu Sari menjahitnya dengan rapi dan penuh kasih sayang, walaupun akhirnya tangan kiriku jadi sedikit lebih pendek dari yang kanan.

Sari yang paling lama bersamaku. Tak terhitung lagi berapa kali matahari terbit dan terbenam selama aku bersamanya. Dari badan Sari hanya setinggi kaki ibunya, hingga kepalanya sudah mencapai dagu sang ibu jika mereka berpelukan, aku tetap jadi teman setia gadis itu.

Aku satu-satunya boneka beruang yang Sari miliki. Aku mainan kesayangannya yang hampir selalu dibawanya ke mana-mana. Aku yang menemaninya belajar mengeja, menulis, dan berhitung. Aku yang dibacakan cerita ketika dia sudah lancar membaca tanpa dieja. Aku yang jadi anaknya ketika dia bermain ibu-ibuan. Sepulang Sari sekolah, ketika sang ibu belum ada di rumah, aku yang jadi tempat dia mengadukan kelakuan jahil teman laki-lakinya, atau cerita apa saja yang membuatnya sedih atau kecewa. Aku yang dipeluknya ketika mulai tidur, meskipun setelah dia terlelap seringkali aku terjatuh dari dipan karena tidurnya yang lasak. Ibu Sari yang memandikanku saat permukaan tubuhku sudah mulai menyimpan banyak debu. Sari yang merapikan bulu-bulu rambutku dengan sisir setelah badanku kering.

Tapi benda celaka itu kemudian datang.

Aku ingat, Sari melemparkanku begitu saja saat satu sore dia melihat ibunya masuk ke rumah membawa sebuah kotak, kira-kira seukuran panjang kakiku. Dia melompat-lompat sambil berseru girang, bahkan lebih girang dari saat dia bersorak ketika tanganku yang putus dulu berhasil disambungkan lagi.

“Ibu bawa hape?” Sari bertanya dengan suara sedikit bergetar dan bola mata berbinar; nada suara dan sinar matanya persis seperti ketika dia mengomentari hasil jahitan ibunya di tanganku yang putus dulu.

Ibu Sari mengangguk sambil tersenyum. “Bekas Non Mona. Enggak apa-apa, ya? Yang penting kamu enggak bakal repot lagi pas harus belajar online.”

Aku ingat sesorean itu, bahkan hingga malam datang, Sari terus asik bersama benda yang dia sebut hape itu, sementara aku dibiarkan tergeletak, nyaris masuk ke kolong tempat tidur. Baru keesokan paginya ketika ibu Sari menyapu, aku diambil dan disimpan di tempatku yang biasa: disandarkan pada bantal tidur Sari.

Setiap hari, setiap sore, setiap malam, Sari menghabiskan banyak waktu bersama si hape, bahkan ke sekolah pun benda itu dibawanya serta. Di depan si hape, dia sering tersenyum-senyum bahkan kadang hingga tertawa gelak-gelak. Tidak jarang, ibunya juga ikut melihat entah apa yang diperlihatkan benda itu dan turut tertawa-tawa. Terkadang, Sari bernyanyi-nyanyi sambil menggerakkan tangan dan kepalanya diiringi suara musik yang dikeluarkan si hape. Beberapa kali bahkan dia melakukannya bersama sang ibu.

Sari tak pernah lagi memelukku. Saat akan tidur, aku disingkirkan begitu saja. Bukan aku lagi yang terakhir berada dalam genggamannya sebelum jatuh tertidur. Ibu Sari juga tidak pernah lagi memandikanku meski debu sudah begitu tebalnya melapisi bulu-bulu rambutku.

Hingga satu pagi, Yanti—gadis kecil yang tinggal di sebelah rumah Sari—mengambilku yang tertelungkup, tersia-sia di pojok kamar, lalu berkata: “Kak Sari, bonekanya boleh buat aku, enggak?”

“Boneka? Boneka apa?” tanya Sari waktu itu, mengalihkan pandangan dari layar si hape. Aku melihat dahinya sedikit berkerut, ketika kemudian pandangan kami bertemu.

Mata Sari tidak memancarkan emosi apa pun. Tidak marah, sedih, atau kesal, seperti yang biasanya dia tunjukkan setiap kali ada anak lain yang menyentuhku. Dia hanya memandangku.

“Oh, itu. Iya, ambil aja,” ucap Sari kemudian dengan ringan, lalu kembali menekuni layar hapenya dan tersenyum-senyum entah karena melihat apa, seolah tidak ada gangguan dari si bocah tetangga.

Pita yang melingkari leherku, yang ujungnya menjuntai hingga nyaris ke perut, mendadak jadi terasa ketat, berat, dan menindih dengan begitu kuat. Oh, mungkin seperti ini yang dirasakan Sari setiap kali sesak napasnya kambuh.

Sementara itu, Yanti tersenyum lebar sekali, hingga gigi depannya yang keropos dan hitam-hitam terlihat semua. “Makasih, Kak Sari!” serunya dengan riang sambil menarikku ke dalam pelukannya.

Aku bisa mendengar detak jantung Yanti, yang mengingatkanku pada denyut jantung Sari yang kudengar ketika dia memelukku setelah ibunya menjahit tanganku yang putus. Itu detak jantung kebahagiaan. Dan kebahagiaan itu menular. Rasa sesak yang tadi sempat kurasakan seketika menghilang. Aku pun berjanji akan menyayangi bocah baru ini. Apalagi kemudian ternyata ibu Yanti rajin memandikan dan menyisiri rambut-rambut halus di tubuhku, lebih sering dari yang dilakukan ibu Sari.

Tapi, lagi-lagi, benda sialan itu lagi yang membuat Yanti melakukan hal yang sama dengan Sari sekian lama kemudian. Aku tidak menghitung berapa kali sudah matahari terbit, ketika satu sore menjelang matahari terbenam, Yanti mendapatkan hadiah ulang tahun dari kakak tertuanya, yang belakangan jarang terlihat ada di rumah.

“Abang Alfi udah kerja. Kerjanya jauh. Aku jadi kangen.” Begitu cerita Yanti padaku satu kali sebelum itu.

Sejak pertama melihat bentuk kotak pembungkus hadiah itu, aku sudah tahu apa isinya, apalagi reaksi Yanti sama dengan tingkah Sari waktu itu: aku dilempar begitu saja dan dia asik berduaan dengan si hape baru.

Rasa seperti tercekik dan tertindih itu muncul lagi, ketika tanpa berpikir panjang, satu hari Yanti menyetujui permintaan ibunya untuk memasukkan aku—yang sudah lama tidak dimandikan—ke dalam sebuah kotak kardus, bersama benda-benda entah apa yang lain; sungguh kotak yang berbau pengap.

Tak lama kemudian aku tahu, aku bersama seluruh isi kotak itu diserahkan kepada seorang laki-laki yang sering lewat di depan rumah Yanti sambil memanggul karung besar yang selalu terlihat gembung. Seluruh isi kotak dimasukkan begitu saja ke dalam karung dekil itu, kecuali aku. Si laki-laki memandangku dengan senyum terkembang.

“Makasih, Bu. Anak saya pasti suka boneka ini,” katanya sambil mendekapku dengan sebelah lengan, sementara lengannya yang lain memanggul karung yang makin gembung.

Melihat senyum itu, rasa tercekik dan tertindih itu kembali lenyap. Apalagi kemudian senyum yang lebih lebar menyambutku saat kami tiba di tempat tinggal laki-laki itu.

“Mira! Lihat ini Bapak bawa apa!”

Mira berlari menyongsong dan langsung meraihku ke dalam pelukannya sambil melompat-lompat kegirangan. Detak jantung kebahagiaan itu terdengar lagi, dan aku kembali tertular.

Tapi, sebentar saja aku bersama Mira. Ketika matahari akan terbenam untuk ketiga kalinya, seorang anak perempuan bernama Susi, yang setiap hari bermain bersama di rumah Mira, tanpa sepengetahuan Mira membawaku pulang ke rumahnya sendiri. Susi mengurungku di ruangan kecil tak berpintu tempat dia tidur, di dekat dapur, yang salah satu dindingnya bersebelahan dengan rumah Mira. Berhari-hari pula aku mendengar Mira mencari-cariku seraya menangis, memanggil nama yang disematkannya untukku: Cimut.

“Bapak lihat Cimut, enggak?”

“Cimut siapa?”

“Boneka beruang yang Bapak bawa waktu itu.”

“Enggak. Jatuh ke kolong enggak?”

“Enggak ada. Aku udah periksa.”

“Dibawa kabur tikus, ‘kali.”

“Enggak mungkin. Mana bisa tikus bawa-bawa Cimut.” Lalu terdengar suara isak tangis Mira, tersedu-sedu, yang membuat rasa tercekik dan tertindih itu muncul lagi.

Susi meraihku dalam pelukannya. Aku bisa mendengar detak jantungnya. Tapi itu bukan detak jantung kebahagiaan.

Susi terlonjak ketika tiba-tiba terdengar suara Mira di pintu depan. Susi melesakkan tubuhku ke dalam lemari pakaiannya yang hanya ditutup secarik kain. Jadi aku masih bisa mendengar suara Mira: “Susi. Bantu aku cari Cimut, yuk.”

Hari sudah gelap ketika Susi kembali lalu mengeluarkan aku dari dalam lemari dan memelukku. Tapi, lagi-lagi bukan detak jantung kebahagiaan yang kudengar dari balik pelukan itu.

Berhari-hari, aku selalu terkurung, lebih sering di dalam lemari. Sesekali, aku bisa mendengar suara Mira mengeluhkan hilangnya aku kepada Susi. Mendengarnya selalu membuat rasa tercekik dan tertindih itu muncul, membuat aku makin merindukan detak jantung kebahagiaan yang tak pernah kutemui pada Susi.

Cukup lama ketika akhirnya aku bisa mendengar lagi detak yang kurindu itu.

Entah mengapa, mungkin tidak tahan harus terus menerus menyembunyikanku dari Mira dengan mengurungku, satu hari Susi memasukkanku ke dalam kantung plastik hitam yang besar, hingga aku tidak bisa melihat ke mana dia membawaku. Tahu-tahu, aku sudah berada dalam sebuah ruangan besar dan dikumpulkan bersama banyak mainan lain, dan bertemu dengan banyak anak lain.

Di situlah aku bertemu Nino. Dan aku jumpai lagi detak jantung kebahagiaan itu.

“Eh, masak anak laki-laki main boneka?”

“Biarin.” Nino menyahut seraya mengeratkan pelukannya padaku. Tak pernah dia berpisah dariku. Bahkan aku disimpannya dalam kantong plastik hitam besar itu dan membawaku turut saat dia ke kamar mandi.

“Nino, kita mau ke kebun raya. Bonekanya enggak usah dibawa. Ribet!” Perempuan tua di tempat itu, yang selalu bersuara keras, berkata. Nino seolah tak mendengar, meski si perempuan beberapa kali mengulang ucapannya; bocah itu tetap membawaku dalam pelukan.

Itu adalah lima belas hari lalu.

Beberapa anak merebutku dari pelukan Nino, tertawa-tawa mengejek Nino ketika dia berteriak-teriak marah dan menangis. Mereka membawaku ke tepi bagian kebun raya yang sepi ini, melemparkanku sekuat tenaga, lalu meninggalkanku, begitu saja, membuat rasa tercekik dan tertindih itu kembali dan tidak juga pergi berhari-hari.

Matahari sudah benar-benar terbit sekarang. Terdengar dengusan napas dari belakangku. Tampaknya musang itu datang lagi. Atau musang yang lain? Karena sepertinya ukuran tubuh yang satu ini jauh lebih kecil.

Musang kecil itu tiba-tiba menerkamku, bagian bawah tubuhnya menutupi pandanganku. Giginya yang runcing terasa menggigit-gigit kupingku yang sebelah kiri. Tapi gigitan itu justru terasa lembut. Dan tak kusangka, aku bisa kembali mendengar detak jantung kebahagiaan itu. []

Ciawi, 17 Maret 2026

Ika Mulyani, perempuan yang berharap di masanya yang sudah lolita ini, masih bisa tetap menulis dengan lebih baik lagi, dan membaca lebih banyak lagi.