Tantangan Loker Kata 22
Naskah Terbaik 8
Bapak Mati Dua Kali
Oleh: Erien
Bapak masuk ke kamarku tanpa mengetuk pintu. Aku langsung tahu ada yang keliru. Itu bukan kebiasaan Bapak. Tidak ada bunyi langkah kakinya yang diseret seperti gaya Bapak berjalan. Tahu-tahu ia sudah berdiri di sebelah pintu dengan wajah kesal dan mata tajam. Bukankah tadi di rumah sakit, sewaktu aku mencium tangan dan berpamitan kepada Ibu, Bapak masih tidur? Cepat sekali ia datang.
Seharusnya Bapak membawa bau rumah sakit karena sudah beberapa hari di sana. Tapi tidak. Tidak ada bau antiseptik atau obat yang melekat. Malah baunya seperti asap rokok bercampur sedikit amis darah. Dan setahuku ia tidak merokok.
“Bukumu itu,” Bapak menunjuk novelku di meja. “Aku tidak suka.”
Belum habis rasa heran karena kedatangannya, aku terpaksa menoleh ke arah novel yang kurampungkan empat bulan lalu.
“Ini?” Kuangkat novel itu. “Kenapa? Bukannya Bapak belum baca?”
Bapak menggeleng-geleng sambil menatapku tajam. Aku ingat pernah dibegitukan saat ketahuan mencubit anak tetangga yang melempariku batu.
“Bapak harusnya tidur saja. Istirahat.” Aku meletakkan buku.
“Tidur itu cuma jeda sebelum nanti bangun lagi. Tapi kamu …,” Bapak menunjukku, “kamu memberiku mati di bab terakhir.”
Mati di bab terakhir?
Aku mulai memperhatikan Bapak. Bajunya, baunya, cara bicaranya, badan tegap dan sedikit berisi. Oke. Akhirnya aku paham.
Bapak duduk di tepi ranjang. Ranjang itu menjerit pelan seperti kesakitan karena dipaksa menopang dua dunia dengan satu papan kayu yang rapuh. Bapak bersedekap.
“Bacalah. Kau pasti lupa. Baca. Yang keras.”
Aku mencoba mengingat apakah aku menulis versi dirinya yang bisa memarahi anaknya bahkan setelah kematian. Seingatku, aku menulisnya keras kepala, ya. Tapi tidak sejauh ini. Kuembuskan napas pelan sebelum membuka halaman di bab terakhir dan membacanya pelan.
, . “ ,” – – .
, . – . “ … . … .” , , .
, : , , .
-h, , , . “ ,” . “ .”
“Sudah. Cukup. Habis itu kau tulis aku mati.” Bapak mengibaskan tangannya.
Aku menutup buku. “Ya, bagaimana lagi? Novel sudah tercetak, sudah terjual. Tidak bisa lagi diubah akhir ceritanya.”
“Kau tidak adil. Aku tidak mau seperti itu.”
Bapak versi ini ternyata keras kepala dan menyebalkan juga. Aku tidak menyangka ia bisa memarahiku. Mungkin seharusnya aku menambahkan adegan pemakaman agar ia tidak berkeliaran seperti ini. Aku tak pernah menyangka kematian di kertas akan datang menagih keadilan.
“Dengar,” katanya, lebih tajam. “Seorang tokoh harus mendapat keadilan. Kau mengakhiri novel itu dengan kematian yang begitu saja setelah pencarian tentang adik yang belum pernah kau temui. Seharusnya kau beri kesempatan aku untuk menebus dosa.”
“Tapi itu yang disukai. Aku sudah menanyakan pada banyak pembaca. Itu realistis.” Aku telat menyadari bahwa bicara realistis kepada Bapak adalah kekeliruan.
“Realistis pantatmu!” Ia meludah dan air liurnya lenyap ditelan ubin.
Benar, kan? Tapi bukankah kalian suka dan puas jika tokoh jahat dihadiahi kematian dengan rasa sakit yang menyiksa?
“Kenapa Bapak tidak minta tetap dihidupkan waktu bab terakhir kutulis? Kenapa baru sekarang protes?”
“Kamu menahanku di ranjang itu! Tidak ada yang bisa kulakukan selain menunggu. Tahu-tahu sudah mati saja aku.”
Benar juga. Tak bisa kubantah omongannya. Diamku menunggu Bapak melanjutkan amarahnya. Tidak apa. Toh, semua sudah tertulis. Kalian sudah membacanya pula.
“Akhir yang indah.” Nada suara Bapak turun. “Setidaknya akhirilah aku dengan indah. Dengan bahagia. Kalau tidak bisa di buku itu, tulislah yang baru. Tulislah aku di sana. Perbaiki aku. Revisi hidupku.” Bapak menarik napas panjang lalu melanjutkan dengan suara lirih. “Kalau hidup yang asli … entahlah.”
Aku mendongak menatapnya. Bapak mengingatkanku akan sesuatu.
Salah satu dari kalian berkomentar di unggahan promosi sekitar tiga bulan lalu. “Hati-hati dengan lisan dan tulisanmu.” Dan kuharap kau yang menulis itu membaca cerita ini. Saat itu komentarmu mengingatkanku pada beberapa cerita pendek yang kutulis. Isinya menjelma menjadi takdir nyata untukku dan orang-orang yang kujadikan tokoh cerita. Itu sempat membuatku ketakutan dan berhenti menulis.
“Aku mengingatkanmu karena itulah aku datang sekarang. Mungkin kau lupa dengan rasa takut pada tulisanmu sendiri.” Bapak berdiri dan berjalan ke pintu.
“Kalau kutuliskan versi baru, apa bisa berubah?” Ada kecemasan dalam suaraku. Tiba-tiba, aku ingat Ibu dan Bapak di rumah sakit.
Bapak berhenti lalu menoleh dan tersenyum. “Tidak tahu. Kalaupun tidak berubah, setidaknya aku mati dua kali dengan cara yang berbeda.” Ia melangkah ke luar kamar tanpa suara. Aku tahu ia sudah kembali ke asalnya.
Kuraih ponsel dengan cepat dan menanyakan kabar Ibu dan Bapak. Ternyata, Bapak masih tidur. Ibu yang menjawab. Aku menyuruh Ibu tidur. Besok pagi aku akan datang ke rumah sakit.
Sedikit lega hatiku sebelum mulai membuka halaman baru di laptop. Aku menulis cerita baru. Kalimat demi kalimat terasa seperti operasi tanpa anestesi. Aku mencoba menulis Bapak hidup lebih lama. Kucoba memberinya pagi yang cerah, percakapan yang tuntas, bahkan keberanian untuk memaafkan dunia. Tapi tulisan itu memberontak.
Kutulis Bapak dan aku sarapan bersama. Dua piring nasi goreng dan dua cangkir kopi. Tiap kali kutulis tangan Bapak menyentuh cangkir, tangannya gemetar hebat kemudian cerita buyar. Tokoh Bapak selalu kembali ke titik yang sama. Tubuh yang lelah, napas yang berat, dan kesadaran bahwa hidup, baik di kertas maupun di daging, punya batas yang tak bisa ditawar.
Tidak tahu jam berapa aku tertidur, paginya suara ponsel membangunkanku. Bapak menelepon!
Segera kuangkat telepon itu.
“Cepat ke sini. Bapak kritis!” Teriakan Ibu membuat mata langsung terbuka sempurna dan tubuhku melonjak turun dari ranjang.
Sambil mengenakan kemeja dengan tergesa-gesa, aku melirik laptop. Ada yang tertulis di sana.
.
Dalam kepalaku terngiang-ngiang ucapan Bapak semalam. Mati dua kali.
Menurut kalian, apa yang harus kulakukan? Haruskah aku menghapus tulisanku, siapa tahu Bapak kembali sehat? Atau segera menuju rumah sakit dan pasrah saja? Mungkin saja aku terlambat. Atau malah tepat waktu untuk melihat akhir dari cerita menjelma nyata. Kalian suka yang mana?[*]
Kotabaru, 14 Desember 2025
Erien, itu saya.
