Sejak Hari Ini Hingga Seterusnya Oleh : Dhilaziya Ndil menatap pria di depannya sambil memonyongkan bibir. Matanya seolah-olah mengeluarkan bara yang siap menghanguskan pria itu
Category: Cerpen
Rumah yang Kami Pilih
Rumah yang Kami Pilih Oleh : Ning Kurniati Muka Bibi menghitam sejak kemarin. Hitam yang pekat. Bukan mukanya saja, kini gigi dan matanya juga. Aku
Luka Sebaris Doa
Luka Sebaris Doa Oleh: Ferlia W Dua orang suster memboyongku ke atas ranjang pasien, mendorong dengan lekas menuju ruang IGD. Saat itu dokterku sedang tidak
Cinta Tanpa Kata
Cinta Tanpa Kata Oleh: Estiti Aku melangkah masuk ke kamar. Kuraih ponsel di atas meja sesaat setelah kudengar terdapat nada chat masuk. Ternyata, itu dari
Anita dan Toko Roti
Oleh : Rosna Deli Surat dari Anita aku terima menjelang pukul lima sore, ketika aku hendak pulang. Pak Supri—sekuriti kantor—menyetop mobilku lalu menyerahkannya. Aku
Kepergian Ibu
Oleh : Fitri Hana Aku berusaha menahan keseimbangan tubuh saat sampan yang kudayung menabrak tiang-tiang penyangga gubuk-gubuk yang berdiri di atas perairan. Adikku yang
Wanita yang Menyebut Dirinya Ayah
Wanita yang Menyebut Dirinya Ayah Oleh: Ika Marutha Aku sedang terpaku memandang warna rambutnya. Entah harus kunamai dengan sebutan apa untuk warna rambut itu. Warnanya
Surat Ejaan Masa Lalu
Surat Ejaan Masa Lalu Oleh: Wardah T. Banten, Oktober 2021 No: Sudah tidak dapat dihubungi lagi Lamp: Segala kenangan Hal: Bernostalgia terakhir kalinya
