Lelaki Misterius Malam itu terlihat sunyi. Tak ada seorang pun yang berpapasan denganku seperti biasanya. Gorden di rumah-rumah mereka tampak sudah ditutup, pertanda jika si
Category: Cerpen
Diceritakan Angin: Tentang Kota yang Hancur
Diceritakan angin: Jam di kamarnya terus berdetik, jantungnya terus berdetak. Malam makin larut, orang-orang mulai menyelimuti dirinya masing-masing. Namun ia masih di beranda itu, sendirian
Hujan di Kotamu
Hujan di Kotamu Hujan membawaku meninggalkan kotamu. Membuyarkan bayang-bayangmu bersama rintik air dari langit. Cahaya lembut matahari pagi menimpa lensa kacamatamu. Di baliknya, kau menatapku
Aku, Kamu, dan Hujan
Aku, Kamu, dan Hujan “Kita tahu semua itu salah, lalu kenapa masih melakukannya? Kenapa malah mempersulitnya?” tukas Angga sore itu, tidak setuju dengan saranku. Kata-katanya
Misteri Makam Keramat
Misteri Makam Keramat Sekarang Minah sudah berada di sana, di pekarangan milik Mbah Karto. Banyaknya pohon bambu yang berjajar rapat dan letaknya yang sedikit jauh
Tiara, Tujuh Belas Tahun
Tiara, Tujuh Belas Tahun Tak ada acara siram tepung, siram air, atau pecah telur. Tak ada satu pun. Aku dan Jessi hanya bernyanyi-nyanyi kecil di
Nasihat Ibu
Nasihat Ibu Aku mengucap salam dan membuka pintu rumah dengan tergesa. Masih dengan seragam putih merah, aku berjalan buru-buru melewati ruang tamu yang kosong. Kuhirup
Man from The Rain
Man from The Rain Kebanyakan orang sering menggerutu tentang hujan yang tak kunjung berhenti. Namun, bagiku percuma saja berharap ia akan berhenti semintanya kita. Karena
Si Penghuni Kamar
Si Penghuni Kamar Air keran terdengar menetes dari kamar mandi. Oh, sepertinya si penghuni kamar lupa mematikannya dengan sempurna. Ia juga terlihat asyik dengan buku
