Anomali

Anomali

Anomali

Oleh: Ika Mulyani

Di tengah perkembangan teknologi yang sangat pesat akhir-akhir ini, bisa dibilang aku seolah menjadi semacam anomali. Sementara semua orang mengikuti arus teknologi itu, aku masih bertahan dengan semua hal yang mungkin sudah dianggap kuno.

Aku masih setia menggunakan ponsel yang kubeli secara mencicil hampir sepuluh tahun lalu. Bisa kaubayangkan seberapa “jadul”-nya ponsel itu bila dibandingkan dengan ponsel pintar keluaran terbaru tahun ini. Meskipun memori ponselku itu amat sangat terbatas, tidak bisa melakukan tangkapan layar, dan kameranya sudah tidak bisa digunakan karena hasil jepretannya buram, aku memilih untuk tidak menggantinya, karena kurasa tidak ada yang salah.

Kamera buram? Tak masalah. Aku bukan orang yang suka memotret atau berfoto, apalagi selfie; aku tidak cukup percaya diri dengan tampangku sendiri. Aku juga jarang sekali membuat status di media sosial, apalagi yang disertai foto. Menurutku, hidup ini cukup dinikmati dan dirasakan sendiri saja. Tidak ada gunanya membuat semua orang tahu segala hal tentang kita dan memberi mereka kesempatan untuk menghakimi tanpa memahami.

Jadi kupikir, selama ponselku itu masih bisa digunakan untuk berkomunikasi, menulis, dan mendapatkan informasi terkini, bagiku sudah cukup. Apalagi uang di rekeningku terbatas, tidak ada anggaran untuk bermewah-mewah, masih banyak keperluan lain yang lebih mendesak untuk dipikirkan.

Di dalam ponselku hanya ada aplikasi WhatsApp, Facebook Lite, dan Google Docs—untuk keperluan menulis. Aplikasi YouTube dan Instagram sudah lama kuhapus, meski masih ada akunku di sana. Aku belum pernah memasang Tiktok, X, Threads, atau aplikasi media sosial apa pun yang lain. Ini bukan hanya karena keterbatasan memori ponsel, tetapi memang karena aku sudah merasa cukup dengan hanya memiliki akun Facebook.

Aku juga sama sekali belum pernah berinteraksi dengan teknologi kecerdasan buatan alias AI mana pun, entah itu Meta AI atau ChatGPT atau Gemini atau apa pun nama dan bentuknya. Meskipun katanya banyak keseruan dan kemudahan yang bisa didapatkan dengan memanfaatkan teknologi itu, aku lebih memilih untuk mengerjakan segala sesuatu dengan cara “tradisional”. Mungkin terdengar konyol, tetapi aku sungguh takut, jika aku terlalu banyak berinteraksi dengan mereka, satu saat mereka bisa menguasai kehidupanku dan merampas kebebasanku dalam berpikir dan bertindak.

Satu hal lagi: di saat teknologi pembayaran berkembang pesat, aku tetap memutuskan untuk tidak membuat m-Banking. Bila harus mentransfer sejumlah uang, aku lebih memilih untuk repot-repot pergi ke ATM dan mengantri. Aku juga tidak pernah melakukan pembayaran non-tunai lewat Qris, Gopay, Dana, atau apa pun namanya. Satu-satunya kartu uang elektronik yang mau tidak mau kumiliki adalah kartu keluaran sebuah minimarket, yang kugunakan untuk membayar ongkos kereta commuter line atau bis dalam kota.

Belanja online? Sesekali saja kulakukan dengan memanfaatkan aplikasi belanja yang ada dalam ponsel suamiku; itu pun hanya untuk membeli barang-barang tertentu yang cukup penting, dengan jumlah dan jenis yang tidak banyak. Aku bukan orang yang senang berbelanja, kecuali belanja buku. Berbagai pertimbangan dan sikap berhematku bisa bubar kalau aku sudah kepincut sebuah buku. Cepat atau lambat, akhirnya aku akan membelinya juga. Suamiku sudah hafal dan kukira ia memakluminya karena tidak pernah banyak berkomentar.

Kalau kau mau tahu, umurku memang sudah tidak muda lagi. Beberapa temanku sudah memiliki menantu, bahkan ada satu yang sudah mempunyai cucu. Mungkin itu salah satu sebab aku lebih memilih untuk bertahan menjadi pribadi yang “kuno”? Entahlah. Bisa jadi memang aku saja yang jadi anomali, karena teman-teman seangkatanku justru terlihat makin modern.

Jujur saja, alasan utamaku sebenarnya adalah khawatir ada hacker yang akan meretas data-dataku, lalu uang yang sedikit dalam rekeningku itu dirampas. Meskipun kalau dipikir-pikir, hacker mana yang berminat meretas data rekening yang isinya di setiap tanggal tua nyaris nol rupiah? Tetapi tetap saja aku merasa lebih baik mengambil langkah aman. Terus terang, kemajuan teknologi yang sangat pesat itu justru membuatku takut.

Di akhir zaman nanti, katanya, perang akan kembali menggunakan senjata tradisional seperti pedang dan tombak. Siapa yang tahu, keadaan ekonomi pun satu saat akan “termakan” oleh kecanggihannya sendiri, lalu terjadi chaos, hingga kita terpaksa kembali ke sistem penjualan barter? []

Ciawi, 23 Januari 2026

 

Ika Mulyani, perempuan yang lahir, besar, dan tinggal di Kota Hujan, tapi alergi udara dingin.