Review Film Memoir of a Snail (2024): Pinky, Satu-satunya Warna bagi Gracie Muda
Oleh: M Indah
Memoir of a Snail adalah film animasi stop motion dari Australia yang ditulis dan disutradarai Adam Elliot, seorang animator dan pembuat film yang berbasis di Melbourne. Adam Elliot sudah mendapatkan berbagai penghargaan di ajang-ajang besar, bahkan film animasinya yang berjudul Harvie Krumpet (2003) memenangkan Oscar untuk film animasi pendek terbaik. Sayang sekali, Memoir of a Snail harus puas dengan hanya menjadi nominasi Oscar untuk film animasi feature terbaik, tetapi ia mendapatkan penghargaan di berbagai ajang lainnya. Film ini juga mendapat rating 95% dari Rotten Tomatoes. Cukup menggiurkan, bukan?
Film animasi dewasa yang bergenre komedi tragis ini mengisahkan tentang hidup Grace Pudel dari kecil hingga dewasa, dengan segala naik-turunnya ritme hidup manusia, beralih dari satu derita ke derita lainnya. Namun, Anda pencinta happy ending tidak perlu waswas karena film ini diakhiri dengan Grace yang menemukan kebahagiaannya. Ups, maaf ada sedikit spoiler.
Cerita bergerak dengan Grace atau Gracie sebagai narator yang menggunakan teknik penceritaan emosional dan reflektif. Ada banyak metafora yang digunakan tokoh-tokohnya untuk memperlihatkan pandangan hidup dan karakter masing-masing tokoh. Yang unik, Gracie mengaku bahwa dia mempunyai ingatan tentang semua hal sejak masih dalam dalam kandungan ibunya, kemampuan yang pastinya tidak dimiliki oleh semua orang.
Dari sekian banyak tokoh dalam film itu, entah mengapa hati saya terpaut pada Pinky yang menjadi satu-satunya warna bagi Gracie muda. Mereka bertemu di depan perpustakaan, saat Gracie memberitahu Pinky bahwa perempuan tua itu telah salah memasukkan buku ke lubang tempat sampah, alih-alih lubang kotak pengembalian buku. Mereka menjadi semakin dekat, bahkan Pinky menjadi orang tua asuh Gracie di saat orang tua asuh yang sebenarnya pergi bersenang-senang dengan kelompok nudie mereka.
Saya rasa Pinky memang satu-satunya support system bagi Gracie sehingga gadis muda penyendiri yang merasa nyaman dalam cangkangnya itu tidak terjerumus pada hal-hal buruk yang biasa “menyerang” orang-orang kesepian.
Dalam surat yang Pinky tinggalkan untuk Gracie, yang ditulis sebelum terserang alzheimer, dia mengaku bahwa dia yatim piatu yang dibesarkan di sebuah panti asuhan yang mengerikan tak lama setelah perang dunia berakhir. Anak-anak di sana dikurung di tempat tidur masing-masing, siang dan malam, dan satu-satunya kontak yang dia ingat adalah anak lelaki di tempat tidur sebelahnya, yang mau berpegangan tangan dengannya.
Dari situ saya baru tahu mengapa Pinky mengumpulkan orang-orang untuk kegiatan hand holding, relawan yang menemani orang-orang tua kesepian yang hanya bisa terbaring di tempat tidur. Mereka menawarkan tangan untuk digenggam atau menggenggam karena Pinky tahu bagaimana rasanya ketika ada tangan orang lain untuk digenggam atau yang menggenggam tangan kita di saat kita sendirian.
Gracie juga menikmati hal itu. Dia merasakan tangan Pinky saat kehilangan Gilbert, saudara kembarnya, setelah mengetahui fakta menjijikkan tentang Ken, tunangannya, serta saat berusaha keras menurunkan berat badan dan hidup sehat. Hingga akhirnya, Gracie memutuskan untuk merawat Pinky yang makin parah pikunnya, dan menjadi satu-satunya orang yang ada di samping Pinky ketika perempuan renta itu akhirnya “menutup gordennya”.
Kepahitan-kepahitan yang telah Pinky alami selama hidup termasuk kehilangan kedua suaminya dalam “kecelakaan-kecelakaan” yang nyeleneh (saya rasa lelucon kematian suami-suami Pinky ini adalah dark joke yang “ngena banget”) telah membuat perempuan tua itu semakin bijak dalam memandang hidup. Hal-hal besar itu membuatnya memandang hidup sebagai “permadani indah yang harus dijalani dengan kesenangan kecil yang bisa dinikmati seperti: menghisap cerutu di tengah hujan atau mengenakan sweater yang baru keluar dari pengering.”
Tak perlu hal besar untuk bahagia. Kesenangan-kesenangan kecil pun patut disyukuri.
Pinky adalah perempuan optimis. Pesannya kepada Gracie tentang “hidup hanya bisa dipahami dengan melihat ke belakang, tetapi kita harus terus menjalaninya dengan bergerak maju” menunjukkan bagaimana dia terus maju hingga di titik akhir.
Rest in peace, Pinky. Kau pasti sangat bahagia sebab di akhir hidupmu ada Gracie yang menggenggam tanganmu, seperti anak lelaki yang menggenggam tanganmu saat kalian di panti asuhan dulu. []
Tangerang, 23 Januari 2026
M Indah adalah ibu rumah tangga yang sedang belajar menulis untuk menemukan hal-hal luar biasa dalam hal-hal yang terlihat biasa saja.
