Ketika Orang-Orang Mengangkat Tangan … (Terbaik 5, TL 22)

Ketika Orang-Orang Mengangkat Tangan … (Terbaik 5, TL 22)

Tantangan Loker Kata 22

Naskah Terbaik 5

Ketika Orang-Orang Mengangkat Tangan, Tuhan Harus Turun Tangan

Oleh: Erlyna

 

Sebelum memulai, terlebih dahulu saya akan memperkenalkan diri kepada Anda. Seorang perempuan pemalas yang menulis cerita ini sambil terkantuk-kantuk, menciptakan saya sebagai Tuhan. Begitulah akhirnya orang-orang terbiasa menyebut-nyebut dengan lantang dan lirih nama saya. Karena semakin terbiasa dengan sebutan itu, saya pun mengakuinya dengan penuh kerendahan hati.

Saya tidak menyalahkan siapa-siapa atas apa pun, menjadi Tuhan lebih daripada sekadar sepatah kata atau sebuah nama: inilah yang diberikan orang-orang kepada saya. Dan karena mendapatkannya begitu saja, saya pun menyesuaikan diri dengan nama itu. Akhirnya, saya jadi mengenali diri dengan takdir yang membungkus raga ini.

Sejak saat itu, Tuhan menjadi bagian semesta karena saya menjadikan kata orang-orang sebagai acuan. Saya mencerna segala bangunan kalimat dan nada bicara mereka, saya mempelajari bahasa mereka dan tergugah oleh cara berpikir mereka. Tanpa diliputi keangkuhan, saya selalu mengerjakan perintah mereka. Siapa yang bisa membayangkan hal itu untuk waktu yang sangat lama? Saya memenuhinya tanpa kemarahan saat mereka memanggil-manggil, bahkan meski saya sedikit melenceng saat melakukannya.

Sebenarnya, tidak selalu demikian. Awalnya saya teramat terluka bahkan oleh kata-kata mereka yang paling lunak sekalipun. Perintah apa pun akan membuat pandangan mata saya dipenuhi kemarahan. Saya kerap mendengar nama saya diucapkan dalam kebohongan, bahkan sering kali diucapkan sambil meludah dan mengeluarkan serapah. Saya merasa bahwa nama saya adalah salah satu benda milik orang-orang yang bisa mencekik-cekik, memenggal kepala, mengeluarkan isi perut, merusak gigi-gigi, melumuri dengan keruh lumpur-lumpur, membunuh, bahkan mengubur hidup-hidup. Bagi saya, semua itu adalah keangkuhan orang-orang dalam memberi nama pada dunia ini, menempatkan benda-benda di sekeliling mereka, dan memperingatkan semua benda itu betapa mereka diperintahkan untuk selalu patuh. Setiap kali perintah-perintah diucapkan kepada saya dengan hormat, berarti saya dianggap berguna dan menjadi bagian dari dunia mereka, sehingga saya harus lebih sering lagi mengabulkan permintaan-permintaan mereka. Anda juga merasakan hal itu terhadap saya, bukan?

Pada senja milik Desember, saya melihat Anda berdiri bersama seorang laki-laki, memelototi pengumuman di dinding berlabur putih rumah kepala desa yang menghadap perkebunan. Disebutkan, esok pagi akan ada pelaksanaan hukuman mati di tempat biasa: ujung utara jembatan Sungai El. Seluruh penduduk desa diwajibkan hadir untuk tujuan hiburan. Ada begitu banyak hukuman mati tahun itu sehingga para penduduk tidak tertarik lagi menonton. Maka, agar orang-orang mau berkumpul, perlu ada hadiah khusus.

Siapa saja yang datang, segala hajatnya akan dikabulkan Tuhan.

Tulisan itu tercetak di bagian bawah pengumuman, dengan huruf tebal yang dibuat sedikit miring.

Pada hari yang ditentukan itu, rumah Anda masihlah gelap pekat saat seorang laki-laki terjaga lalu menyalakan lampu minyak. Setelah mengenakan jaketnya, laki-laki itu membangunkan Anda dan menyuruh segera menuruni ranjang. Saat itu dingin sekali dan Anda masih ingin meringkuk di balik selimut hangat yang ditarik-tarik tangan kekar laki-laki itu.

Anda mengekor keluar dari pintu setelah laki-laki itu mengumpat sambil menyebut-nyebut nama saya. Langit timur mulai terang. Jalanan bisu dan lengang. Angin barat daya telah menyapu bersih debu sepanjang malam sehingga permukaan jalan yang kelabu tampak jelas. Anda bergumam perihal jemari tangan dan kaki yang begitu dingin menusuk sehingga terasa seakan-akan tengah dikunyah kucing. Ketika melintasi pelataran keluarga kepala desa, terlihat seberkas cahaya di jendela dan terdengar suara teriakan. Namun, laki-laki bertubuh kekar di depan Anda memperingatkan untuk terus berjalan.

Laki-laki itu menyeret Anda ke tepian sungai. Dari sana bisa terlihat bayangan kelam batu jembatan dan pohon-pohon yang mengitari.

“Di mana kita akan bersembunyi?”

“Di kolong jembatan.”

Anda menangkap gerakan makhluk-makhluk aneh dalam kegelapan saat memasuki kolong jembatan. “Siapa mereka?”

Bagian bawah jembatan itu sepi dan gelap, juga dingin membekukan. Mereka menembak begitu banyak orang di tempat itu sehingga ada banyak hantu penasaran bergentayangan.

“Mereka hantu, ya?” Gemetar suara Anda menggema-gema.

“Mereka bukan hantu penasaran,” tukas laki-laki kekar. “Itu hanya anjing-anjing kelaparan.”

Anjing-anjing itu bergerak perlahan-lahan, tulang rusuk mereka menonjol-nonjol seperti pagar yang melindungi niat busuknya. Mata mereka memantulkan semburat cahaya pagi. Anda terlihat begitu menahan napas, takut suara kecil melengos dari dada tanpa sengaja dan mengundang mereka mendekat. Saat itulah, mulut Anda menyebut-nyebut nama saya. Berulang-ulang. Memohon-mohon perlindungan.

Anda menyadari bau darah masih tertinggal di tempat itu. Sungai El menyimpannya dengan begitu setia, sesekali angin menerbangkannya ke sudut-sudut desa, sedikit demi sedikit, tetapi tidak pernah benar-benar membuat keganjilannya hilang. Setiap hukuman mati meninggalkan jejak abadi, tetapi orang-orang tetap datang. Alasannya tidak lain dan tidak bukan, sebab nama saya yang begitu mereka percaya, tertera di bawah pengumuman.

Anda mendekati laki-laki bertubuh kekar yang berjongkok di balik pilar jembatan. Napasnya berat. Ia merogoh saku jaketnya dan mengeluarkan sebuah jimat. Laki-laki itu tidak pernah berdoa, tetapi kala itu dia menyebut-nyebut nama saya, dengan pelafalan yang jelas, diikuti berderet-deret permintaan yang harus saya kabulkan.

Saya diam mendengarkan.

Saya selalu bisa mendengar segala doa, karena itulah tugas yang diberikan orang-orang kepada saya sejak lama.

Di atas jembatan, langkah-langkah lain mulai terdengar. Orang-orang berdatangan dari berbagai arah, beberapa masih sibuk menguap, bercakap-cakap tentang cuaca, tentang harga gandum, tentang siapa-siapa saja yang kabarnya akan mati hari ini. Tidak ada yang membicarakan kematian itu sendiri. Mereka lebih sibuk membicarakan hadiah yang akan mereka minta dari saya. Mereka memamerkan hajat masing-masing, seolah-olah hukuman mati bukanlah perkara penting.

Di ujung utara jembatan Sungai El, seorang wanita telah terbaring sekarat. Ia terkapar cukup lama serupa bangkai tidak berguna. Orang-orang baik bilang membunuhnya adalah perbuatan yang salah, walaupun ia telah berlumuran dosa. Kulitnya yang kencang dan berkilau-kilau bisa saja dimanfaatkan untuk membuat barang yang bagus, tetapi orang-orang membiarkannya mati pelan-pelan dan terlupakan.

Anda tampak menggigil. Laki-laki itu menarik lengan Anda lebih dekat ke tubuhnya. “Jangan melihat,” bisiknya.

Saya ingin mengatakan kepada laki-laki itu, bahwa melihat atau tidak melihat, tidak akan mengubah apa-apa. Namun, perempuan pemalas yang kini sibuk mengunyah camilan sambil melanjutkan cerita ini, tidak pernah menuliskan kalimat itu untuk saya ucapkan.

Di antara langkah orang-orang dan geraman anjing-anjing kelaparan, saya tiba-tiba merasakan sesuatu yang ganjil. Saya merasakan ada tangan lain yang ikut mengatur jarak, cahaya, dan juga waktu. Rupanya perempuan penulis itu memutuskan bahwa pagi ini harus terasa lebih dingin dari biasanya, agar cerita ini tampak lebih muram. Saya tidak marah. Saya menyadari bahwa saya tidak bisa sepenuhnya mengendalikan cerita ini.

Di atas jembatan, seseorang mulai memimpin doa dengan suara lantang. Doanya begitu panjang dan tertata rapi, penuh pujian yang sudah saya hafal. Saya tahu bagian mana yang akan disambut anggukan, bagian mana yang akan diikuti pengaminan panjang dan serempak. Saya tahu karena kata-kata itu tidak pernah berubah sejak lama. Orang-orang menyukai doa-doa yang terus diulang-ulang.

Namun, saya melihat Anda tidak ikut mengangguk. Anda hanya terus memeluk lutut, memandangi tanah basah di bawah kaki. Saya perhatikan cara Anda menahan tangis, seolah-olah takut mengganggu alur cerita. Anda adalah salah satu dari sedikit orang yang tidak meminta apa-apa pagi itu. Atau mungkin Anda sudah terlalu sering meminta hingga tidak tahu lagi apa yang layak didamba?

Apakah Anda tahu? Kadang-kadang saya berharap bahwa saya bisa menolak. Maksud saya semua doa-doa itu. Bahwa saya bisa saja menutup telinga atau berpaling. Namun, setiap kali nama saya dilangitkan, saya selalu dimunculkan sebagai kemungkinan. Saya tahu bagaimana adegan-adegan biasanya berjalan. Saat perayaan kematian, saya tahu di mana algojo akan berdiri, bagaimana tali akan ditarik, bagaimana seseorang akan berteriak memanggil-manggil saya tepat sebelum suara terakhirnya putus. Saya tahu semua itu karena sudah terlalu sering melihatnya. Karena cerita-cerita seperti ini, berpola pengulangan dan sang perempuan penulis sangat menyukainya.

Saat itulah saya mulai meragukan cerita yang sedang berjalan ini. Saya bertanya-tanya, apakah saya benar-benar perlu menjawab semua panggilan? Apakah setiap kalimat yang menyebut nama saya memang harus diakhiri dengan pengabulan? Namun, keraguan semacam itu tidak punya tempat di sini. Keraguan hanya memperpanjang kalimat, sementara cerita lebih menyukai akhir yang tegas. 

Di ujung jembatan tampak algojo mengangkat tangannya. Orang-orang pun ikut mengangkat tangan. Dari kejauhan, bayangan mereka tampak seperti ladang penuh ranting kering yang menunggu angin. Di antara tangan-tangan itu, tangan Anda justru terlipat rapat mengimpit dada. Saya tercengang-cengang melihatnya.

“Segala hajat akan dikabulkan Tuhan,” seseorang berteriak, mengutip pengumuman itu dengan suara penuh keyakinan.

Saya berdiri di antara kalimat-kalimat doa, mengikuti keheningan. Di sanalah biasanya saya bekerja. Di sanalah orang-orang menunggu saya turun tangan.

Namun kali ini, saya menyadari sesuatu yang begitu sederhana dan menakutkan, bahwa ternyata saya hanya dibutuhkan sejauh cerita ini belum selesai. Setelah itu, nama saya akan kembali menjadi sunyi, menjadi sisa-sisa gema di kepala orang-orang yang pulang dengan harapan masing-masing. Begitu juga dengan Anda dan laki-laki itu, bukan?

Setelah jeritan panjang memecah langit, anjing-anjing beradu lari dan berkejaran mendatangi sang wanita. Mereka mencabik-cabik tubuh molek itu, mencerabut bayi merah dari perut sang wanita yang menjadi musabab kenapa sosoknya harus mati, lalu mengunyahnya dengan cepat. Namun, apakah Anda tahu? Mereka sebenarnya begitu takut pada malam hari. Malam-malam bulan Desember yang pendek, hening, mencekik-cekik, dan mencekam. Pada malam-malam seperti itulah mereka benar-benar merasa begitu tertekan, kalut gara-gara takut. Dan saya diam-diam telah menyusun rencana.

Kebetulan sang perempuan penulis sedang pergi membeli kopi dingin dan meninggalkan cerita yang belum selesai begitu saja. Ia mungkin tidak menyadari bahwa saya memutuskan bertindak sesuai kehendak sendiri, yaitu menolak mengabulkan keinginan orang-orang. Langit yang baru mulai benderang seketika redup diadang badai. Seperti yang saya ceritakan kepada Anda, bahwa saya adalah Tuhan, dan Tuhan selalu bisa melakukan apa saja.

Saya menarik tubuh sang wanita yang koyak, mengumpulkan serpihan-serpihannya lalu membentuknya kembali seperti semula. Ia hidup kembali, begitu juga dengan sang bayi yang menggeliat-geliat di dalam perutnya. Saya tersenyum puas, meski menyadari keadaan barangkali tidak akan sama lagi. Orang-orang mungkin akan kehilangan kepercayaan kepada saya, meninggalkan saya. Akan tetapi, siapa yang peduli? Saya yakin mereka yang memutuskan pergi suatu saat akan kembali lagi. Dengan atau tanpa harga diri.

Anda terbelalak. Barangkali tidak menduga bahwa saya akan mengabulkan permintaan yang bahkan tidak berani Anda ucapkan. Padahal, yang sebenarnya terjadi adalah, bahwa saya memang menghendaki hal itu. Menyakitkan sekali rasanya melihat bayi yang tidak berdosa menjadi korban atas kemurkaan orang-orang.

Setelah hari itu, Anda yang pemurung terlihat lebih bahagia. Anda masihlah sosok yang sama, lebih banyak diam saat mengamati banyak hal. Namun, saya menyadari bahwa kini Anda tahu bahwa doa bukan lagi sesuatu yang bisa diperdagangkan.

Anda menuruni ranjang saat matahari terbenam, menatap cercah cahaya yang mengintip dari celah-celah dinding. Burung layang-layang melintas terbang, berkicau-kicau dari sarangnya, mematuk serangga-serangga keemasan laksana anak panah berbulu dan terbang di antara pendar terakhir cahaya matahari. Dari padang-padang rumput di kejauhan terdengar bunyi sibuk desing dan desau sabit. Sementara, dari ladang-ladang gandum dan kebun bunga terdengar suara-suara gemerisik, gumam, dan kelakar.

Dan saya, untuk pertama kalinya, tidak yakin apakah yang akan terjadi setelah ini benar-benar keputusan saya, atau sekadar cara cerita ini menutup dirinya sendiri. Namun, saya melihat sang perempuan telah kembali, tersenyum canggung melihat cerita ini.[*]

 

Pwr, 14 Desember 2025

Erlyna, perempuan sederhana penyuka hujan dan anak-anak.

 

Komentar Juri, Halimah Banani:

Erlyna, salah satu nama penulis yang saya kenal dalam menyajikan ide-ide yang menarik. Begitu juga dalam cerpen ini, ide yang disajikannya tampak tak mau kalah dengan peserta lain untuk bisa nangkring di 5 besar. Bermain-main dengan “peran” Tuhan sebagai pengabul semua permintaan hamba-Nya, cerpen ini menyindir kita, sebagai manusia yang mengaku sebagai hamba yang taat, atas keinginan dan ketidaksabaran dalam menunggu pengabulan Tuhan atas segala permintaan kita. Juga bagaimana peran Tuhan dibutuhkan dalam cerita, di mana Tuhan di sana hanya muncul pada saat-saat yang diperlukan saja, bukan sebagai peran utama, melainkan sebagai peran figuran.

Memang secara penyajian masih agak lemah, tapi tak bisa dimungkiri kalau cerpen ini sangat menarik. Tak hanya menghadirkan “kesadaran” dalam diri tokoh yang juga merupakan narator, cerpen ini pun juga mengajak kita (Anda) untuk berinteraksi sekaligus ikut terlibat ke dalamnya. Karena itulah ia benar-benar berhasil untuk masuk ke dalam 5 besar. Selamat, Erlyna!